Balas Dendam? Tentu Saja!

Balas Dendam? Tentu Saja!
Episode 39: Toilet


__ADS_3

Alina pun keluar menuju adek kelas tersebut, dan ikut bersembunyi bersama mereka semua.


Dan saat mereka masuk. Air merah tersebut langsung jatuh ke atas mereka semua. "Akh," teriak semuanya.


"Siapa yang berani menjahili kami!" teriak Celine dengan tegas.


Semua murid dari kelas lain, langsung keluar melihat geng base angel yang sudah basah kuyup. Dan pakaiannya sudah terkena noda merah begitu banyak.


Semua anak dari kelas lain menertawakan mereka semua, dan mengambil beberapa foto dan video. Alina pun menyuruh adek kelas yang ia perintahkan, dan mereka langsung berlari ke hadapan base angel, dan mengambil siaran langsung.


"Hahahah, katanya geng keren. Masa terkena air merah sih. Hahahah." Tertawa semua murid yang ada.


"Diam kalian. Jangan ambil foto ataupun video. Simpan ponsel kalian itu!" teriak Agnes, dan yang lainnya, dengan sangat marah.


"Ini waktunya aku keluar," ucap Alina tersenyum tipis, dan langsung mengubah ekspresi wajahnya, menjadi ekspresi yang tidak tahu apa apa.


Alina pun menghampiri gengnya, "kalian. Kalian kenapa?" tanya Alina berpura pura tidak tahu.


Sontak gengnya langsung menatap ke arah Alina, "Felisa. Siapa yang menaruh air merah di atas pintu. Dan kau habis dari mana. Kan kau sendiri yang meminta kami untuk datang ke sini?" tanya Gista, sambil menaikkan alisnya, dan raut wajah malu.


"Saat aku memanggil kalian. Tiba tiba saja ada guru yang memanggilku. Jadinya aku ke ruangan pak guru dulu. Dan saat aku kembali, aku sudah melihat kalian seperti ini." Jawab Alina memainkan akting dengan bagus.


"Sial. Akan aku habisi orang yang beraninya mengusil kami. Dia tidak tahu kita siapa." Marah Celine kembali, sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Oke semuanya. Kalian tolong bubar semuanya. Bubar." Ucap Alina mengusir semuanya.


"Kalau begitu, mari kita ke toilet sekarang. Untuk membersihkan wajah kalian yang kotor." Ujar Alina, dan gengnya langsung menuju toilet bersama Alina.

__ADS_1


Di toilet. Lagi lagi semuanya marah, dan ingin menghabisi orang yang sudah mempermainkannya. "Kalau aku dapat orang itu. Akan aku bully dia habis-habisan. Siapa orang itu ya?" bertanya tanya Agnes, sambil membersihkan wajahnya.


Sedangkan yang lainnya, juga masih membersihkan wajahnya. Alina bersender di dinding dekat cermin. "Aku juga tidak tahu. Kenapa bisa ada baskom itu di atas pintu. Pasti tidak lain lagi, yang menganggu kalian, adalah musuh kalian. Apa sebelumnya kalian mempunyai musuh?" tanya Alina, sambil menaikkan alisnya.


"Kalian tidak mengira kalau aku pelakunya kan. Aku benar benar tidak tahu. Apa kalian tidak percaya denganku?" tanya kembali Alina.


Sontak temannya langsung menatap wajah Alina, dan mendekat. "Mana mungkin kami mencurigaimu Felisa. Kau kan sahabat kami yang paling dekat. Kami sangat mempercayaimu. Ini pasti ulah anak laki laki. Kami harus pulang deh. Karena pakaian kami sudah basah kuyup." Ucap teman temannya, dan langsung memeluk Alina.


"Terima kasih banyak. Kalian memang sahabatku yang paling terbaik." Ujar Alina tersenyum palsu.


"Kalau begitu, biar aku yang mengantarkan kalian pulang saja. Karena ini semua salahku juga. Kalau saja aku tidak memanggil kalian. Mungkin kalian tidak akan dijahili seperti ini." Kembali memasang wajah bersalah.


"Jangan seperti itu Felisa. Ini bukan salahmu," ucap Gista, sambil memegang pundak Alina.


"Kalau begitu, mari aku antar kalian pulang. Sebelum itu, kita minta izin kepada pak kepala sekolah dulu. Kalian tunggulah di sini dulu." Ujar Alina, dan langsung keluar, lalu menuju ruang kepala sekolah.


"Ck, dasar bodoh. Sudah jelas jelas aku yang melakukan itu semua. Tapi kalian masih mempercayaiku. Hahahah, pandai juga aktingku." Ucap batin Alina tersenyum miring.


Di perjalanan, "mobilmu nyaman banget ya Felisa." Puji Agnes.


"Tentu saja. Ini mobil yang paling aku sukai di antara mobil lainnya. Kalau begitu, beritahu rumah kalian masing masing. Aku akan mengantarkan kalian, sampai ke depan rumah." Jawab Alina sambil tersenyum.


"Terima kasih banyak Felisa. Kau memang sahabat kami yang terbaik." Bahagia teman temannya, dan tertawa tipis.


Tiba tiba saja, ada bunyi notifikasi yang begitu banyak, dari setiap ponsel masing masing.


"Bunyi notifikasi apa ini. Kenapa begitu banyak?" bertanya tanya Celine, dan langsung membuka notifikasi tersebut. Begitu juga dengan yang lainnya, dan Alina fokus menyetir.

__ADS_1


Sontak semuanya melihat, dan langsung kaget. Meraka reflek berteriak, "argh," teriak bersamaan.


Alina pun kaget, "astaga. Ada apa dengan kalian. Kenapa kaget seperti itu, sampai berteriak?" tanya Alina berpura pura polos.


"Ini, saat kami terkena air merah tadi. Sudah banyak yang mengambil video dan foto, dan mereka semua mempostingnya di sosial media. Sial," marah Agnes kembali, dan yang lainnya.


"Kalian komentar saja, dan katakan jangan memposting hal memalukan seperti itu." Ujar Alina memberi saran.


"Benar juga yang dikatakan Alina. Aku jadi penasaran dengan orang yang menyiram air merah kepada kita. Aku tidak akan membiarkannya." Ucap Celine, sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Sudahlah. Kalian jangan marah marah terus. Nanti kalian sakit lagi. Biarkan saja, nanti kan dia tobat sendiri yang mempostingnya." Sahut Alina.


"Baiklah Felisa. Tapi kami kesal, karena kami dipermalukan seperti ini." Ujar Gista.


Sesampainya di rumah masing masing. Alina pun melambaikan tangannya, kepada semua teman temannya. "Kalian langsung ganti pakaian. Jangan sampai kalian masuk angin. Bay." Langsung pergi.


Di perjalanan, Alina tertawa puas, "hahahah, rasain tuh. Makan tuh air merah. Ini masih belum seberapa. Kali ini, aku akan melakukan yang lebih menyenangkan." Ucap Alina tertawa puas, dan menginjak gas dengan kencang.


Malam pun tiba. Dimana Alina sudah bersiap siap untuk ke restoran. Dimana ia akan menerima, siapa yang akan menjadi pacarnya.


"Pakaian ini begitu cocok denganku. Bos Gray memang tahu apa yang aku inginkan." Ucap Alina sambil memutar dirinya, dengan pakaian yang sudah ia kenakan.


Alina pun langsung menggunakan lipstik, dan berangkat menuju restoran yang sudah ia atur. Disisi lain, ternyata sudah ada Niko dan Kevin yang menunggu Alina, dengan membawa hadiah masing masing, yang begitu indah dan mahal.


"Kita lihat saja. Siapa yang akan menjadi pasangan Felisa. Siapa yang kalah, dia akan menghentikan cintanya kepada Felisa." Ucap Kevin.


"Kita lihat saja. Felisa pasti akan memilihku," ujar Niko yang sudah berbangga diri.

__ADS_1


Disisi lain. Alina pun sudah sampai di restoran tersebut, dan Alina langsung turun dari mobilnya. Saat turun, semua orang yang ada di restoran tersebut, langsung menatap ke arah Alina. Karena Alina begitu cantik.


Niko dan Kevin yang sadar, akan Alina yang sudah datang, langsung


__ADS_2