Balas Dendam? Tentu Saja!

Balas Dendam? Tentu Saja!
Episode 31: Berkas Penting


__ADS_3

"Oh ya bos Gray. Nanti sore aku akan datang ke rumah Clara. Karena ada hal yang mau aku bicarakan dengannya." Ucap Alina memberitahukannya.


"Kau harus hati hati, dan berjaga jaga. Karena bisa saja, ada yang curiga denganmu. Kau tahu itu kan." Ujar bos Gray.


"Soal itu aman bos. Aku akan berjaga jaga, sesuai yang bos katakan." Jawab Alina sambil tersenyum.


Sore pun tiba. Dimana Alina sudah bersiap siap untuk ke rumah Clara, dan Alina memilih mobil yang paling keren. Agar Alina dipandang tinggi oleh keluarga Clara.


Alina pun langsung pergi menuju rumah Clara, dengan mobil bos Gray yang paling keren. Di perjalanan. "Aku harus mengeluarkan ibu dari neraka itu. Untuk sementara waktu, aku akan membawa ibu ke rumah sakit yang ada di sini. Agar ibu bisa berbicara kembali. Aku ingin ibu bisa bicara, dan terus berbicara kepadaku. Karena aku benar benar menyayangi ibu." Ucap Alina menahan air matanya, dan dendam juga kepada keluarga Clara.


Sesampai di rumah Clara. Alina pun langsung keluar dari mobilnya dengan elegan. Sontak semua penjaga dan pembantu yang ada, langsung menatap ke arah Alina.


"Salam nona," sapa penjaga yang ada di depan rumah.


Alina harus berakting tersenyum, dan mengetuk pintu tersebut. Pintu pun terbuka, dan yang membukakannya adalah ibunya sendiri.


Sontak Alina dan ibunya saling bertatapan. "Ibu, aku ingin sekali memelukmu ibu." Ucap batin Alina, menahan tangannya yang ingin sekali memegang wajah ibunya.


"Kenapa saat anak ini ada di dekatku. Hawanya begitu tenang dan damai." Ucap ibu kandung Alina.


"Siapa itu," tanya Clara berteriak.


"Teman nona datang," jawab ibu kandung Alina.


"Ouh, suruh masuk saja," ucap Clara memerintahkannya.


Alina pun langsung masuk ke dalam, dan menghampiri Clara. "Halo sayang," sapa Alina, dan langsung duduk disamping Clara.

__ADS_1


Sontak Clara menatap wajah Alina, dan ikut tersenyum. "Felisa. Ada hal apa kamu datang kemari?" tanya Clara yang sedang santai menonton televisi.


"Aku merindukanmu tentunya sayang. Bagaimana kabarmu sekarang?" jawab Alina sekaligus bertanya.


"Aku baik baik saja kok. Aku juga merindukanmu." Jawab Clara ikut tersenyum.


"Oh ya, kan kata kamu. Kamu ada urusan pribadi di luar negeri. Tapi kenapa tidak pergi juga. Apa kamu mencoba berbohong dariku." Ucap Alina, sambil menaikkan alisnya.


"Mampus aku. Bagaimana ini, Felisa mulai curiga denganku. Apa aku harus mengatakan yang sebenarnya." Ucap batin Clara, sambil menundukkan kepalanya, dan sedikit gugup.


Alina memegang kedua tangan Clara, dan Clara langsung menatap wajah Alina kembali. "Clara, jangan berbohong kepadaku. Katakan saja yang sebenarnya. Kita ini kan sahabat. Sudah banyak hal yang kita lakukan bersama. Janganlah menyimpan rahasia seperti ini. Apa kau tidak menganggapku sebagai sahabatmu." Ucap Alina memainkan aktingnya dengan baik, dan memasang ekspresi sedih.


Sontak Clara juga memegang kedua tangan Alina. "Baiklah Alina. Sebenarnya aku tidak ke luar negeri. Aku di DO oleh pak kepala sekolah, karena kejadian yang viral itu. Itu bukan aku yang melakukannya, itu fitnah. Ada orang yang hendak menjebakku." Jawab Clara akhirnya jujur.


"Akhirnya kau buka mulut juga, dasar ular berbisa." Ucap batin Alina.


"Janji tentunya. Aku tidak akan mengatakan hal ini kepada siapapun. Karena kita ini sahabat yang paling dekat." Jawab Alina, dan mereka langsung berpelukan.


"Omong omong, ada hal apa kamu kemari Felisa?" tanya Clara, dan mereka melepaskan pelukannya.


"Kan sudah aku katakan tadi. Aku merindukanmu, dan ada hal yang mau aku katakan kepadamu." Jawab Alina terus menatap wajah Clara.


Tiba tiba saja ibunya datang, sambil membawa minuman untuk Clara dan Alina. "Ini minuman untuk non Clara dan temannya." Langsung meletakannya di atas meja.


Sontak Alina dan ibunya, saling bertatapan kembali. "Bu. Kasihan sekali ibu. Aku akan menyelamatkan ibu. Aku sayang padamu bu." Ucap batin Alina, langsung memalingkan wajahnya, dan ibunya langsung pergi dari tempat tersebut, dan kembali ke dapur.


"Omong omong, dimana ayah dan ibumu?" tanya Alina kembali, sambil meminum jus yang dibuat oleh ibunya sendiri.

__ADS_1


"Ibuku sedang arisan, dan ayahku seperti biasanya, mengurus pekerjaan di perusahannya." Jawab Clara kembali tersenyum.


"Perusahaanmu. Jangan mimpi kamu bodoh. Semua harta yang ada di rumah ini. Itu milik keluarga kandungku. Bukan keluarga tiri seperti kalian. Dasar manusia tidak punya otak." Ucap batin Alina menahan emosinya.


"Ouh, oke deh. Bagaimana kalau kita jalan jalan, untuk mencari angin. Kamu siap siap dulu sana. Soal biaya, tidak perlu dipikirkan. Biar aku yang mentraktir dirimu hari ini." Ujar Alina.


"Okey deh. Makasih sayang. Tunggu sebentar ya, aku mau ganti pakaian dulu." Sahut Clara, dan langsung masuk ke dalam kamarnya, untuk mengganti pakaiannya.


Saat Clara sedang mengganti pakaiannya. Alina masuk ke dalam ruang kerja ayah tirinya.


Di dalam ruang kerja ayah tirinya. Alina mencari sebuah dokumen penting, yang berupa pemilik saham perusahaan. Alina terus mencari di semua lemari yang ada, dan saat membuka lemari terakhir.


Akhirnya Alina menemukan berkas yang ia cari, dan Alina langsung membukanya. "Benar, ini adalah berkas pemilik perusahaan. Namanya sudah diganti oleh nama si gila ini. Aku akan menggantinya kembali, dengan nama ibu. Aku tidak akan diam saja. Dan aku akan membongkar semua kejahatan, dan kebusukan mereka semua." Ucap batin Alina, langsung memasukkan berkas tersebut, ke dalam tasnya.


Saat hendak keluar. Tiba tiba saja ada yang masuk, dan ia adalah Clara. Sontak Alina dan Clara saling bertatapan. "Felisa. Kenapa kau ada di sini. Ini kan ruang kerja ayahku?" tanya Clara, sambil menaikkan alisnya.


"Eh. Tadi aku melihat ada hewan masuk ke dalam. Sepertinya hewannya tidak di sini deh. Mungkin saja lari keluar. Sudahlah. Kalau begitu, mari kita keluar sekarang." Jawab Alina, langsung menggandeng tangan Clara dan mereka langsung keluar dari rumah tersebut.


"Felisa kelihatan aneh. Apa itu hanya khayalanku saja. Sudahlah, yang terpenting, aku akan bersenang senang hari ini." Ucap batin Clara tersenyum tipis.


"Syukurlah Clara tidak curiga denganku. Kalau sampai dia curiga tadi. Bisa habis aku nanti." Ucap batin Alina, sambil menghela nafas panjang.


Merekapun langsung berangkat menuju mall. Di perjalanan, "oh ya Felisa. Ada hal yang mau aku tanyakan padamu." Ucap Clara, sambil mengelus kedua tangannya.


"Apa itu?" tanya Alina yang sedang menyetir.


"Bagaimana keadaan Kevin sekarang. Apa dia merindukanku?" tanya Clara malu malu.

__ADS_1


"Ouh, Kevin. Dia sangat merindukanmu. Katanya, dia menyesal karena sudah memutuskanmu. Dan dia ingin balikan denganmu." Jawab Alina berbohong.


__ADS_2