Balas Dendam? Tentu Saja!

Balas Dendam? Tentu Saja!
Episode 27: Si Culun


__ADS_3

"Kau jangan datang, dan biarkan saja dia menunggumu. Lalu jangan angkat teleponnya. Dengan begitu, dia akan kecewa denganmu. Hahahah, bagaimana dengan rencanaku." Jawab bos Gray memberitahukan rencananya.


"Bagus banget. Terima kasih banyak bos Gray. Ide yang bagus." Bahagia Alina, dan kembali duduk di sofa, dan mengambil ponselnya yang ia letakkan di meja.


"Halo Vin," panggil Alina dengan lembut.


"Iya Felisa. Bagaimana, kau menerima ajakanku?" tanya Kevin kembali, dengan pertanyaan yang sama.


"Ehm, aku menerimanya. Kalau begitu, kau datanglah duluan. Nanti aku menyusul." Jawab Alina.


"Baiklah. Terima kasih banyak Felisa." Langsung mematikan ponselnya.


"Bagaimana. Beres kan," ujar bos Gray tersenyum, sambil menaikkan alisnya.


"Aku jadi tidak tega dengannya bos Gray," ucap Alina.


"Biarkan saja. Jangan pikirkan soal dia. Kau harus fokus ke pembalasanmu sekarang." Jawab bos Gray dengan ekspresi serius.


"Baiklah," menurut, dan langsung menonton televisi.


Tiba tiba ada memencet bel rumah. Sontak Alina dan bos Gray menatap ke arah pintu. "Siapa itu bos. Buka bos, aku lagi mager." Ucap Alina, sambil memakan cemilan.


Bos Gray pun langsung membukakan pintu tersebut, dan ia adalah agen rahasia, yang akan menjadi teman satu partner Alina.


"Halo bos," menyapa bos Gray dengan senyuman.


"Akhirnya kau datang juga. Mari duduk." Ujar bos Gray, dan mereka berdua langsung menghampiri Alina.


"Alina. Inilah teman satu partnermu," ucap bos Gray kepada Luciana yang masih menonton televisi.

__ADS_1


Alina pun langsung menatap wajah pria tersebut, dan Alina terkejut. "Kamu, bukannya kamu pria culun yang ada di sekolahnya?" tanya Alina memastikannya.


"Kau kan cewek yang populer di sekolah. Tapi namamu Felisa. Kenapa menjadi Alina. Kau gadis gendut itu kah?" tanya pria tersebut juga, yang ternyata pria culun di sekolah. Tapi di luar, benar benar tampan.


"Mari kita bicarakan bersama. Tapi sebelum itu, kau pria culun itu kan. Aku bisa melihat mu, dari kacamata yang kau kenakan itu." Tanya Alina kembali penasaran.


"Iya, ini aku Max. Pria culun itu. Sebenarnya aku tidak culun. Aku hanya menutupi identitasku saja." Jawab Max langsung duduk disamping Alina, dan membuka kacamatanya, dan membuka wig rambut yang ia kenakan.


"Wow, tampan juga kau ternyata," puji Alina kepadanya.


"Aku memang tampan. Hanya saja, aku harus menutupi ketampanan ini. Demi pekerjaanku." Jawab Max sambil merapikan rambutnya, dan meletakkan wig nya di atas meja.


"Jawab juga pertanyaanku. Apa kau Alina yang gendut itu juga. Yang pernah viral, katanya mencuri dompet kakaknya sendiri?" tanya balik, untuk memastikannya.


"Benar. Aku memang Alina. Aku menyamarkan nama asliku, demi balas dendamku. Sebenarnya kejadian itu, benar benar bukan aku pelakunya. Tapi Clara lah yang memfitnah diriku." Jawab Alina dengan jujur, sambil melipat kedua tangannya.


"Aku tahu kau. Karena pernah Clara bercerita, kalau ada murid pria yang sangat culun dan kutu buku. Hingga pernah jadi bahan bully an mereka juga. Apa itu benar?" jawabnya sekaligus bertanya.


"Benar sih. Tapi aku mengabaikan mereka. Aku muak melihat iblis yang terus berada disampingku. Aku juga ingin menghabisi mereka semua satu per satu." Jawab Max, sambil mengerutkan keningnya.


"Wah, nasib kita sama ya," ucap Alina, sambil menghela nafas panjang.


"Aku harap, ini menjadi rahasia kita berdua. Karena kita adalah teman satu kerjaan. Berteman." Memberikan jari kelingkingnya.


"Berteman," jawab Max, meriah kelingking Alina.


"Ehem. Sudah mengobrolnya?" tanya bos Gray, yang sudah dari tadi berada disamping mereka berdua.


"Eh, bos Gray. Maaf kami mencueki bos Gray. Soalnya banyak bahan obrolan. Hahahah." Tertawa Alina, sekaligus meminta maaf.

__ADS_1


"Tidak apa apa sih. Kalau kalian mau lanjut mengobrol. Lanjutkanlah. Kebetulan ada urusan yang harus saya selesaikan malam ini. Lanjutkan lah." Jawab bos Gray, langsung pergi meninggalkan mereka berdua, dan masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Ouh ya Max. Apa kau terus menjadi culun di sekolah. Apa kau tidak ada niatan untuk merubah dirimu menjadi lebih tampan. Seperti kau sekarang ini?" tanya Alina, kembali memakan cemilan yang ada.


Max pun mengambil cemilan yang ada di atas meja, dan memakannya. "Kapan kapan saja. Lagian aku tidak akan memasukkan perkataan mereka ke dalam hatiku. Lagian itu tidak penting. Lebih baik aku menikmati indahnya dunia, dan fokus bekerja." Jawab Max dengan santai, sambil mengunyah makanannya.


"Benar juga yang kau katakan itu. Oh ya, lain waktu kau ubah dirimu. Biar kita bisa bersama di sekolah. Kan jadinya si ratu sekolah, dan si raja sekolah. Kan cocok tuh. Mana tahu, kita dijodohkan di sekolah. Hahahah, menjadi pasangan. Hahahah. Dengan begitu, rencanaku akan cepat selesai." Ucap Alina sambil tertawa puas.


"Ada ada saja kau. Bukannya kau lagi dekat dengan Niko katanya. Apa kalian punya hubungan selain teman?" tanya balik.


"Aku sama sekali tidak mempunyai hubungan selain teman. Lagian, aku sama sekali tidak mencintainya sedikitpun. Itu hanya sebagian dari rencanaku saja. Untuk membuatnya hancur." Jawab Alina, sambil menaikkan alisnya.


"Wah, hatimu sungguh buruk juga ya. Hahaha, maksudku, isi kepalamu, menyimpan banyak rencana." Puji Max kembali.


"Hahahah, kau bisa saja. Ini semua sudah dari lahir begini. Tidak bisa diubah dong tentunya." Kembali tertawa tipis, dan Max pun ikut tersenyum tipis.


"Ouh ya. Kau harus mengubah dirimu dong. Bagaimana kalau kita akting berpacaran. Agar aku bisa menyakiti hati Kevin dan Niko. Dengan begitu, mereka tidak akan mengejarku. Tapi, biarkan dulu mereka berdua mengejarku. Bagaimana, bukankah itu ide yang hebat." Memiliki ide hebat.


"Boleh saja sih. Lagian kita ini kan sudah menjadi teman bisnis. Tentu aku akan menerimanya. Berikan nomormu. Biar aku mudah menghubungimu." Meminta Max, dan Alina langsung memberikan nomornya kepada Max.


"Tapi perlu kau ingat. Panggil aku Felisa, saat aku di sekolah. Ataupun sedang bersamamu, dan bersama yang lainnya. Aku tidak ingin identitas palsuku terbongkar. Kau mengerti." Serius Alina kepadanya.


"Soal itu aman. Aku akan mengingatnya. Jadi sekarang kau Alina. Tapi di sekolah, kau Felisa. Hahahha, nama yang indah. Persis seperti orangnya." Memuji Alina kembali, dan tertawa tipis.


Disisi lain. Di restoran. Niko sudah datang dari 1 jam yang lalu. "Dimana Felisa ya. Kenapa dia tidak datang. Apa dia lupa. Tidak mungkin dia melupakannya. Dia bukan orang yang seperti itu." Mengusap kedua tangannya.


"Tapi ini sudah 1 jam yang lalu. Apa dia benar benar melupakannya. Aku harus menghubunginya." Mengambil ponselnya, dan langsung menghubungi Alina.


Tapi

__ADS_1


__ADS_2