Balas Dendam? Tentu Saja!

Balas Dendam? Tentu Saja!
Episode 57: Hal yang Ditunggu


__ADS_3

"Baiklah nak, ibu mau bersama kamu. Tapi jangan sampai ada yang tahu, kalau kamu yang membawa ibu ke rumah kamu. Apa di rumah kamu ada seseorang?" tanya ibunya kembali, dengan bahasa tangan, karena belum bisa berbicara.


"Tidak ada siapapun di rumah saya bi. Saya tinggal sendiri. Karena saya tidak memiliki keluarga. Keluarga saya membuang saya, saat saya masih berusia 11 bulan. Dan sejak kecil saya tinggal di panti asuhan, dan sekarang saya sudah besar, lalu bekerja untuk membiayai hidup saya sendiri." Jawab Alina dengan jelas, sambil tersenyum tipis.


Setelah beberapa jam berlalu. Alina langsung menaruh koper ibunya di bagasi mobilnya, dan setelah itu, Alina berdiri disamping ibunya yang berdiri di depan rumah mereka.


"Ayo bi, kita masuk ke dalam mobil. Nanti keburu ada yang lihat kita." Mengajak Alina.


"Sebentar ya nak," jawab ibunya.


"Baik bi. Saya akan tunggu di dalam mobil," ucap Alina, dan ia langsung masuk ke dalam mobil.


"Selamat tinggal rumah yang penuh dengan kenangan. Maafkan aku sayang, karena aku tidak bisa tinggal di rumah ini lagi. Suatu saat nanti, aku akan tinggal di rumah ini, tanpa siksaan apapun, bersama anak kita sayang. Aku sudah meninggalkan surat untuk Clara dan keluarganya yang sudah banyak menyiksaku. Selamat tinggal rumah tercinta." Ucap batin ibunya, dan langsung masuk ke dalam mobil, setelah menaruh surat di depan rumah tersebut.


Di perjalanan, "oh ya bi, apa bibi sudah makan?" tanya Alina sambil menyetir.

__ADS_1


"Belum nak," jawab ibunya kembali.


"Baiklah bi. Kalau begitu, mending kita makan dulu ya bi di rumah. Kebetulan Felisa sudah membuatkan makan malam yang enak. Semoga bibi suka deh dengan masakan Felisa." Ucap Alina dengan bahagia, dan ibunya ikut bahagia.


Sesampainya di rumah. Mereka berdua langsung turun dari mobil, dan Alina mengambil koper ibunya yang ada di bagasi mobil. Setelah itu, mereka berdua langsung masuk ke dalam rumah bersamaan.


"Ini rumah Felisa bi. Semoga bibi betah deh di rumah ini. Walaupun rumahnya tidak sebagus yang bibi tinggalin. Setidaknya rumah ini bisa menjadi tempat tinggal bibi yang paling ternyaman." Ucap Alina kembali tersenyum.


"Ini rumah yang paling baik nak. Bibi akan betah tinggal di rumah ini. Terima kasih banyak, karena sudah mau memberikan tempat tinggal untuk bibi." Bahasa tangan ibunya.


"Kalau begitu, mari bi. Felisa tunjukkan kamar bibi." Ucap Alina langsung menunjukkan kamar untuk ibunya.


"Bagaimana bi. Bagus bukan kamarnya. Saya sudah menata bagus kamar ini, karena bibi akan tinggal di rumah ini." Tanya Alina sambil menaikkan alisnya.


"Ini bagus banget nak. Bibi suka dengan desain kamar ini." Bahasa tangan ibunya, dan memasang ekspresi bahagia.

__ADS_1


"Kalau begitu, mending bibi mandi dulu, dan setelah itu, kita makan malam bersama. Saya akan menyiapkan makan malam untuk kita. Silahkan bi." Ujar Alina mempersilahkannya.


Ibunya langsung masuk ke dalam kamar. Sedangkan Alina langsung memanaskan masakannya. "Aku sangat bahagia bisa tinggal bersama ibu. Walaupun ibu belum sadar, kalau aku anaknya. Tapi aku bahagia, karena ibu sudah berada disisiku. Aku akan menjaga ibu dengan sebaik mungkin, dan aku akan mengembalikan suara ibu, agar ibu bisa berbicara lagi." Ucap batin Alina meneteskan air matanya karena terharu.


Setelah beberapa menit. Ibunya sudah selesai mandi, dan langsung keluar dari kamarnya. Dan begitu juga dengan Alina. Alina juga sudah selesai membuat makan malam, dan sudah menyusunnya di atas meja makan.


Alina menatap ibunya yang menghampirinya, dan sudah mengenakan pakaian tidur. "Bibi, bibi sudah selesai mandi juga. Cantik banget bibi, aku jadi iri dengan kecantikan bibi." Ujar Alina memuji ibunya, karena sudah lama Alina tidak pernah memuji kecantikan ibunya.


"Terima kasih banyak nak. Kamu juga cantik kok. Bahkan kamu lebih cantik dari Alina." Bahasa tangan ibunya, dengan ekspresi tersenyum."


"Ah gak lah bi. Cantikan Alina dong, Alina gemes dan pipinya chubby juga. Menggemaskan." Ucap Alina ikut tersenyum.


"Kalau begitu, mending kita makan malam sekarang ya bi. Bibi pasti sudah lapar kan. Yuk bi." Ujar Alina, dan ibunya langsung duduk di hadapannya.


"Ouh ya bi. Apa aku boleh

__ADS_1


__ADS_2