Balas Dendam? Tentu Saja!

Balas Dendam? Tentu Saja!
Episode 23: Menjalankannya Dengan Baik


__ADS_3

Niko pun datang, sambil membawa dua jus jeruk." Ini minuman untukmu." Langsung meletakannya di atas meja, dan duduk disamping Alina.


"Omong omong, kenapa rumahmu sangat sepi?" tanya Alina kembali.


"Ayah dan ibuku sedang bulan madu di Spanyol, dan pembantu di rumah kami pulang kampung. Karena ada keluarganya yang sakit. Jadi aku sendirian di sini. Tapi aku bisa menjaga rumah ini dengan baik." Jawab Niko kembali tersenyum, sambil meminum jus jeruk.


"Oh ya, ada yang mau aku tanyakan kepadamu, soal wanita yang bernama Alina itu." Ucap Alina.


"Ada apa dengannya?" tanya Niko langsung menatapnya.


"Apa kau punya perasaan dengan Alina itu?" tanya balik Alina.


"Ada apa denganmu. Kenapa kau terus menanyakan soal Alina itu. Apa kau saudara Alina?" tanya kembali Niko.


"Bukan begitu. Aku dengar dengar, kan kalian sahabat dekat. Apa diantara kalian tidak mempunyai perasaan?" jawab Alina.


"Aku sama sekali tidak menyukainya. Karena kejadian waktu itu, yang pernah aku ceritakan. Aku dan dia sudah tidak bersahabat. Kadang aku juga kasihan dengannya. Tapi mau bagaimana lagi, dia melakukan hal yang tidak baik. Aku sangat membencinya." Jawab Niko dengan serius.


"Sudah kuduga. Pasti jawabannya seperti itu. Benar benar memuakkan. Tampang saja baik dan cool. Padahal aslinya sok cool dan hatinya benar benar kotor." Ucap batin Alina.


"Tapi, aku dulu memang menyukainya. Walaupun dia gendut. Tapi dimataku, dia menggemaskan. Apalagi kalau sedang makan, benar benar menggemaskan. Tapi seperti yang aku katakan tadi. Karena kejadian itu, aku membencinya." Jawab Niko, sambil mengelus kedua tangannya.


"Hah, dia mengatakanku menggemaskan. Hahahah, manis sekali. Tapi itu tidak akan berlaku dimataku lagi. Karena kalian semua berengsek." Ucap batin Alina kembali, sambil mengerutkan keningnya.


"Yaudah deh. Kalau begitu, mari kita mulai drama kita saja." Ujar Alina mengeluarkan naskah miliknya, dan Niko mengambil naskah miliknya juga, yang ada di kamarnya.


Setelah mengambilnya. Niko pun langsung menghampiri Alina kembali, dan duduk disampingnya.


"Mari kita mulai," ujar Niko melihat naskahnya, dan Alina juga ikut melihat naskahnya.


Setelah 1 jam berlalu. Mereka akhirnya sudah menghafal naskah mereka untuk pentas seni nanti.

__ADS_1


"Akhirnya selesai juga. Lelah juga," ucap Alina kembali meminum jus yang baru dibuat Niko.


"Aku juga merasa lelah. Tapi menyenangkan, karena aku punya banyak waktu denganmu." Tersenyum Niko, ikut meminum jus yang ia buat.


"Apa maksud perkataanmu itu?" tanya Alina sambil menaikkan alisnya.


"Tidak apa apa kok. Semoga pentas seninya berjalan dengan baik deh. Agar semua menjadi meriah dan bagus." Ujar Niko.


"Semoga deh," ikut tersenyum Alina.


"Kalau begitu, aku pulang dulu deh. Karena ada urusan lagi yang harus aku selesaikan." Ucap Alina berdiri.


"Apa mau aku antar pulang?" menawarkannya.


"Boleh saja sih. Yuklah." Jawab Alina menerimanya.


Merekapun langsung keluar dari rumah, dan Niko membonceng Alina menggunakan mobilnya.


"Eh, maaf, maaf. Tadi kayaknya ada hewan lewat deh. Makanya aku berhenti. Maaf." Jawab Niko kembali menjalankan mobilnya.


"Omong omong, di mana rumahmu?" tanya Niko.


"Kau berhenti saja digang itu. Dekat situ rumahku." Jawab Alina sambil menunjuknya.


Sesampainya. Alina pun langsung turun dari mobil Niko, dan Niko ikut turun dari mobilnya.


"Terima kasih banyak ya Niko. Kau jadi repot repot begini mengantarkanku." Kembali tersenyum Alina.


"Sama sama. Kalau begitu aku duluan." Ikut tersenyum, dan langsung masuk ke dalam mobilnya, dan pergi meninggalkan Alina.


Setelah Niko pergi. Alina pun memberhentikan taxi, dan langsung pergi menuju lokasi bos Zax.

__ADS_1


Di perjalanan,"aku harus tampil cantik di pentas seni nanti. Agar semua terpaku dengan wajahku. Dan kasihan banget Clara tidak bisa melihatnya. Dia tidak bisa datang, karena di DO dari sekolah. Hahahah, kasihan banget ci." Tertawa tipis, sambil melipat kedua tangannya.


Sesampainya. Alina pun langsung membayarnya, dan taxi pun pergi. Alina masuk ke gang tempat rumah bos Gray yang besar. Sesampainya di depan rumah bos Gray.


Alina pun mengetuk pintu, dan pintu pun terbuka, "Alina. Kenapa malam banget datang ke sini?" tanya bos Gray kepadanya, dan Alina langsung masuk ke dalam, lalu duduk di sofa.


Bos Gray pun menutup pintu, dan ikut duduk di sofa. "Ada apa denganmu. Apa semua berjalan dengan baik?" tanya bos Gray kepadanya.


"Semua berjalan dengan baik bos. Tapi, ada hal yang membuatku kesal. Aku harus berpura pura baik dan membutuhkan bantuan mereka. Padahal aku sama sekali tidak butuh bantuan mereka. Dan kadang kadang mereka membuatku kesal dan muak." Jawab Alina sambil mengambil rokok yang ada di meja, lalu mematiknya dan menghisapnya.


"Siapa memangnya. Temanmu?" tanya bos Gray kembali.


"Siapa lagi kalau bukan Kevin dan Niko. Mereka terus mengejarku. Bahkan mereka lebih parah daripada anak laki laki yang ada di sekolah. Ya walaupun aku ditraktir, diantarin pulang. Tapi aku kesal melihat mereka berdua." Jawab Alina kembali kesal.


"Sabarlah. Ini kan demi rencanamu juga. Jangan sampai rencanamu gagal, karena kau kesal. Kau tidak boleh gegabah. Kau kan mau balas dendam kan. Jangan bersikap seperti itu." Tegas bos Gray kepadanya.


"Ya deh bos Gray. Oh ya bos Gray, aku tidur di sini dulu deh. Sembari mempelajari yang lainnya juga. Omong omong, besok orang yang akan bos kenalkan akan datang kan?" tanya Alina kembali.


"Benar, dan dia akan datang malam hari. Kenapa memangnya. Apa kau sudah tidak sabar bertemu dengannya." Tersenyum mengejek, sambil menaikkan alisnya.


"Ih, apaan sih bos Gray. Tahu ah, aku mau minum dulu." Menuju dapur, dan mengambil minuman yang ada.


"Ouh ya bos Gray. Bolehkan aku meminjam uang bos Gray. Ada hal yang mau aku beli. Seperti motor baru." Meminjam Alina.


"Kau tidak perlu meminjam. Aku akan memberikannya untukmu. Karena aku sudah menganggapmu seperti anakmu sendiri." Jawab bos Gray kembali tersenyum.


"Baik banget bos Gray. Maaci bos Gray baik nan tampan." Ikut tersenyum Alina, sambil meminum air putih dingin.


Alina pun ke ruang menembak, dan ia mengambil pistol yang diletakkan di atas meja. "Bagus banget nih pistol. Sudah lama juga ternyata aku memakainya. Benar benar hebat. Aku tidak menyangka, karena aku bisa berubah seperti ini. Benar benar hebat." Kembali tersenyum Alina, dan mulai menembak ke target.


Bos Gray pun melihatnya dari belakang, sambil menyender ke dinding. "Akhirnya aku bisa merubahnya menjadi kepribadian yang baik. Aku sudah membayar semua kebaikan nyonya. Tapi ini semua masih belum apa apa. Karena nyonya

__ADS_1


__ADS_2