
Disisi lain. Di restoran. Niko sudah datang dari 1 jam yang lalu. "Dimana Felisa ya. Kenapa dia tidak datang. Apa dia lupa. Tidak mungkin dia melupakannya. Dia bukan orang yang seperti itu." Mengusap kedua tangannya.
"Tapi ini sudah 1 jam yang lalu. Apa dia benar benar melupakannya. Aku harus menghubunginya." Mengambil ponselnya, dan langsung menghubungi Alina.
Tapi nomor Alina tidak dapat dihubungi, "kenapa nomornya tidak bisa dihubungi. Apa tiba tiba dia ada urusan ya. Kalaupun ada urusan secara tiba tiba. Seharusnya dia kan mengabariku dulu. Bukan seperti ini. Bagaimana ini, aku sudah menyiapkan bunga mawar ini, dan makanan enak ini untuknya." Kecewa Niko.
Keesokan paginya. Dimana Alina tidur di rumah bos Gray. Dan ia pun langsung bangun.
"Huaa, selamat pagi dunia." Meregangkan badannya, dan duduk.
Alina pun mengambil ponselnya, dan menghidupkannya. Karena ponselnya ia matikan daya, dari kemarin malam.
"Wah, Niko menghubungiku sampai 7 kali. Maaf banget ya Niko. Sayangnya aku tidak mencintaimu. Aku hanya menganggapmu sebagai musuhku saja. Maafkan aku." Memiringkan bibirnya, dan kembali meletakkan ponselnya.
Alina pun bergegas mandi. Setelah beberapa menit. Ia pun selesai mandi, dan sudah mengenakan pakaian sekolah rapi.
Ia pun bergegas turun ke bawah, dan menghampiri bos Gray yang sedang minum kopi, sambil membaca koran.
"Pagi bos Gray," sapanya langsung duduk disamping bos Gray.
Bos Gray menatapnya, "pagi juga. Bagaimana dengan pria yang kau kerjain itu. Apa dia terus menghubungimu?" tanya bos Gray, sambil menaikkan alisnya.
"Tentu dong bos. Dia menghubungiku sampai 7 kali. Hahahah, mungkin saja dia masih kecewa denganku. Lagian itu tidak penting bagiku. Karena aku mau fokus balas dendam. Bukan percintaan." Jawab Alina dengan serius.
"Bagus. Itu baru Alina yang ku kenal. Kalau begitu, kau sarapanlah dulu. Sarapan sudah saya buatkan untukmu. Makanlah segera." Ucap bos Gray kembali membaca koran.
"Okey bos. Terima kasih banyak," menuju dapur untuk sarapan.
Selesai sarapan. Alina pun hendak keluar dari rumah. Saat Alina membuka pintu, ternyata sudah ada Max di depan rumah.
__ADS_1
Sontak Alina kaget, "eh, astaga. kau Max kah ini. Kenapa kau jadi berubah setampan ini. Kau bilang tidak ingin memperlihatkan ketampanan mu dulu?" tanya Alina terus menatap wajah Max yang benar benar tampan, dan sudah tidak mengenakan kacamata lagi.
"Heheheh, aku jadi teringat dengan kata katamu kemarin malam. Jadinya aku ingin berubah, dan memperlihatkan ketampanan ku kepada orang orang yang sudah membully ku." Jawab Max sambil tersenyum, dan merapikan pakaiannya.
"Kau benar benar tampan. Aku sampai terpukau melihat ketampananmu. Bahkan kau jadi mirip dengan Taehyung. Hahahahha, bercanda." Tertawa tipis Alina.
"Omong omong, ada apa kau datang ke mari?" tanya Alina sambil menaikkan alisnya.
"Mau menjemputmu tentunya. Sekalian membahas soal pekerjaan kita." Jawab Max sambil tersenyum.
"Hahahah, yuk lah," Alina pun langsung naik ke dalam mobil Max.
Merekapun langsung berangkat menuju sekolah. Sesampai sekolah, mereka berdua langsung turun dari mobil bersamaan.
Sontak semua murid menatap ke arah Alina dan Max, dan terpukau melihat ketampanan Max. Semua wanita dan pria langsung datang menghadiri Alina dan Max.
"Apa kamu murid baru di sini?" tanya anak cewek.
"What, Max yang culun itu. Kamu bisa tampan juga. Wah, Max benar benar tampan." Puji semua murid cewek kepada Max, dan terus tersenyum kepadanya.
"Sudahlah. Minggir, jangan menghalangi jalan kami. Mari kita masuk Alina. Dan pesan untukku kepada kalian. Jangan menghina orang dari penampilannya. Tapi lihat dari hatinya. Karena bisa saja dia berubah, akibat hinaan yang menyakiti hatinya. Maka sebab itu, berpikirlah, sebelum berkata. Mari Felisa." Ujar Max langsung menggandeng tangan Alina, dan mereka langsung masuk ke dalam sekolah.
Saat menuju kelas. Tiba tiba saja ada yang menghalangi Alina, dan ia adalah Niko. Sontak Alina dan Max berhenti, dan langsung menatap wajah Niko.
"Kau siapa?" tanya Niko kepada Max.
"Aku Max, anak culun yang sering di-bully di sekolah ini juga." Jawab Max dengan wajah datar.
"Wah, selamat kau sudah berubah. Tidak akan ada lagi yang membully mu. Dan kamu Felisa. Ada yang mau aku katakan kepadamu. Ikutlah denganku." Ujar Niko langsung menarik tangan Alina, dan berjalan menuju belakang sekolah.
__ADS_1
"Kabari aku nanti," teriak Max kepada Alina, dan Alina pun tersenyum kepadanya.
Di belakang sekolah. Niko pun langsung melepaskan tangan Alina, dan Niko langsung menatap wajah Alina.
"Ada apa kau mengajakku ke belakang sekolah?" tanya Alina sambil melipat kedua tangannya.
"Apa kau lupa, kalau kemarin malam kita ada janji. Kenapa kau tidak datang. Padahal aku sudah menyiapkan hadiah khusus untukmu." Tanya Niko dengan serius.
"Akhirnya anak ini membahas soal ini juga. Hahahah, menyenangkan untuk menjawabnya." Ucap batin Alina tersenyum tipis.
"Begini Niko. Kemarin malam ada hal mendadak yang terjadi kepadaku. Tiba tiba saja ayahku mengalami drop, dan katanya ayahku terkena penyakit kanker. Katanya umurnya tidak akan lama lagi. Maka sebab itu, aku lebih mementingkan ayahku daripada kau. Maafkan aku Niko." Memainkan perannya, dan menundukkan kepalanya juga. Agar aktingnya lebih bagus.
"Eh, ternyata Felisa memang sibuk. Dan dia lebih mementingkan ayahnya daripada diriku. Dia benar benar wanita yang baik. Kenapa aku malah marah, karena dia tidak datang. Astaga Niko." Ucap batin Niko menyesal.
Niko pun memegang kedua tangan Alina, dan Alina pun kembali menaikkan kepalanya, dengan raut wajah berpura pura sedih.
"Maafkan aku Felisa. Karena aku marah denganmu. Habisnya kemarin malam kau tidak bisa dihubungi, dan kenapa kau tidak mengangkat teleponku?" tanya Niko kembali.
"Ponselku kemarin rusak. Karena terburu buru ke rumah sakit, setelah mendengar kabar ayahku yang masuk rumah sakit. Maka sebab itu, ponselku sedang diperbaiki. Dan syukurlah, sekarang ponselku kembali berfungsi. Maafkan aku karena tidak mengabarimu Niko." Jawab Alina berbohong dengan detail.
"Ternyata Felisa benar benar orang yang baik. Aku tidak salah lagi, telah menyukai Felisa. Dia benar benar wanita baik, dan sangat menyayangi kedua orangtuanya." Ucap batin Niko kembali, dan tersenyum tipis.
"Baiklah, aku memaafkanmu. Kalau begitu, kapan kau ada waktu?" tanya Niko kembali.
"Ehm, tidak tahu. Karena akhir akhir ini aku sangat sibuk." Jawab Alina sambil tersenyum kembali.
"Oh ya, soal Max. Kapan kau jadi dekat dengannya. Apa kau berpacaran dengannya. Dan kenapa tiba tiba dia berubah menjadi tampan?" tanyanya kembali.
"Soal itu. Saat aku ke rumah sakit kemarin. Aku tidak sengaja bertemu dengannya. Dia duluan yang menyapa diriku, dan dari situ kami berteman. Dan katanya dia ingin mengubah penampilannya. Agar dia tidak terus dihina oleh teman temannya." Jawab Alina kembali berbohong.
__ADS_1
"Kalau begitu