
Sampailah mereka di ruang istirahat Clara, setelah bertanya kepada suster yang ada. Saat mereka masuk ke dalam ternyata Clara sedang mengemil buahan dan di dalam sudah ada ibu Clara yang menyuapi Clara buahan tersebut.
"Halo Clara," sapa Alina dengan ekspresi bahagia.
Sontak Clara dan ibunya langsung menatap wajah Alina. "Eh, Felisa, dan kalian semua. Kalian datang." Ikut bahagia Clara.
"Felisa. Kamu datang nak. Kalian repot-repot datang ke sini." Ujar ibu tirinya.
"Tidak apa-apa tante. Kami juga membawa makanan untuk kamu Clara. Bagaimana dengan keadaan kamu sekarang?" tanya Alina sambil meletakkan makanan yang ia bawa di atas meja.
"Clara baik-baik saja. Tapi harus dirawat di sini dulu, karena kakinya masih sedikit sakit." Jawab ibu tirinya sambil menyuapi Clara kembali.
"Kasihan banget ya kamu Clara. Oh ya tante, apa polisi sudah menyelidik tempat tersebut?." Tanya Alina kembali, sambil menaikkan alisnya, dan menggenggam tangan Kevin.
"Polisi sudah menyelidiknya, dan akan mengabari kami nanti. Polisi masih dalam penyelidikan." Jawab ibu tirinya sambil tersenyum.
Clara melihat Alina berpegangan tangan dengan Kevin. "Mereka semakin dekat. Apa aku harus membenci Felisa yang sudah merebut orang yang paling aku cintai, atau aku harus memaafkannya." Ucap batin Clara sambil mengepalkan kedua tangannya, karena kesal.
Alina sadar kalau Clara sedang menatap ke arah tangan dirinya sedang menggenggam tangan Kevin. "Dia pasti iri melihat kami. Rasakan itu." Dalam hati Alina sambil tersenyum tipis.
"Oh ya gays, kalian gak memperkenalkan diri kalian kepada ibu Clara. Pasti ibu Clara belum mengenal kalian." Ucap Alina menatap wajah teman-temannya.
"Boleh saja sih, ini demi mu juga. Kalau begitu, kenalin tante nama aku Agnes." Jawab Agnes memperkenalkan dirinya.
"Nama aku Celine"
"Dan nama aku Gista tante. Salam kenal." Jawab Gista ikut tersenyum tipis.
"Kalau saya tidak perlu memperkenalkan diri lagi ya tante, karena tante kan sudah kenal saya. Salam tante." Ucap yang tidak lain lagi ialah Kevin, dan ia langsung memberikan salam, dengan menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Ouh, tentu saja. Kamu pacar Clara kan?" tanya ibu Clara.
"Eh, bukan tante. Saya dan Clara sudah putus, dan saya berpacaran dengan Felisa sekarang. Kami sudah bahagia tante." Jawab Kevin dengan sopan, sambil menatap wajah Alina.
"Eh, benar kah begitu. Kalau begitu, maafkan apa yang barusan tante katakan ya nak Felisa. Tante kirain Kevin dan Clara masih berpacaran. Karena dulu mereka sangat dekat, dan tante sangat tanda dengan wajahnya yang tampan ini. Hahahah." Tertawa tipis ibu Clara.
"Tidak apa-apa kok tante. Itu hal yang terbilang wajar. Kalau begitu, kau istirahatlah dengan baik, dan jangan banyak bergerak, karena kau masih sakit dan butuh banyak pengobatan. Aku akan sering menjengukmu ke sini, dan jangan pikirkan soal sekolah dulu. Semoga kau cepat sembuh, karena ujian kelulusan akan segera dimulai. Aku harap kau sudah sehat." Ucap Alina dengan ekspresi bahagia kembali, sambil mengelus tangan Clara.
"Terima kasih banyak buat kalian semua, karena sudah datang menjengukku." Ikut tersenyum Clara.
"Kalau tidak karena Felisa, kami juga gak sudi menjengukmu." Pelan Celine mengatakannya, dan tepat berada disamping Alina.
"Celine, jangan mengatakan hal seperti itu. Tidak baik tahu." Bisik Alina kepadanya.
"Iya iya. Aku menurut," menurut Celine, sambil melipat kedua tangannya, dan tidak mau menatap wajah Clara bersama ibunya.
"Semoga kau cepat sembuh," ucap Kevin sambil tersenyum tipis, dan langsung keluar dari ruangan tersebut, untuk menyusul yang lainnya.
Malam pun tiba. Di mana Alina sudah berada di rumah bos Gray, dan ia sedang meminum kopi hangat, karena cuaca di luar tiba-tiba hujan.
"Bagaimana kabar Clara. Apa yang kau lakukan kepadanya?" tanya bos Gray sambil merapikan berkas yang baru ia selesaikan.
"Aku tidak melakukan apapun kepadanya kok. Hanya sedikit candaan saja, untuk membuatnya takut saja. Apa bos Gray mau melihatnya." Jawab Alina sambil tersenyum miring, dan kembali meminum kopi tersebut.
"Tidak perlu, aku sudah tahu, kalau kau melakukannya dengan sebaik mungkin. Kau memang seperti itu. Oh ya, soal pekerjaan yang pernah aku katakan padamu, sebentar lagi kau akan bekerja. Yaitu esok hari, di malam hari. Apa kau bisa." Ucap bos Gray sambil menaikkan alisnya.
"Tentu saja aku bisa. Mana mungkin aku tidak bisa. Ini kan demi uang, jadi aku akan selalu bisa. Hahaha." Tertawa Alina.
"Oh ya bos Gray. Apa Max ada datang tadi?" tanya balik Alina, kemudian menyilangkan kakinya.
__ADS_1
"Iya, dia meminjam panah dan pistol, karena dia mau belajar di kamar pribadinya saja. Paling dia akan datang sebentar lagi." Jawab bos Gray sambil menaikkan alisnya sebelah.
"Apa kalian sedang membicarakanku?" tanya yang tidak lain lagi ialah Max.
Sontak Alina dan bos Gray langsung menatap wajah Max. "Eh, Max. Kau seperti setan saja, langsung muncul secara tiba-tiba. Kapan kau sampai?" tanya balik Alina, dan Max langsung duduk disampingnya.
"Baru 1 menit yang lalu," jawab Max sambil tersenyum.
"Kau ini, bukan ya langsung masuk, malah menguping. Apa kau mau mengembalikan barang kau pinjam dari bos Gray?" tanya Alina kembali, sambil meminum kopinya.
"Kok anda tahu, apa anda pesulap. Hahahah." Tertawa tipis Max, sambil mengeluarkan barang yang ia pinjam dari tasnya.
"Aku tahu dari bos Gray, kau ini. Oh ya, kata bos Gray kita sudah melakukan misi rahasia kita besok. Apa kau sudah siap." Ucap Alina sambil menaikkan alisnya kembali.
"Tentu saja aku sudah siap. Bahkan aku sudah siap menjadi suamimu." Jawab Max menggoda Alina, dan memegang pundak Alina.
"Sejak kapan kau pandai gombal seperti itu. Basi tahu, iyyuh, menjijikkan." Jijik Alina, sambil memasang ekspresi jijik.
"Hahahah, tahu dari pacarmu itu. Dia yang mengajariku cara menggoda wanita." Jawab Max sambil menaikkan alisnya, dan tersenyum lebar.
"Sudahlah, kalian jangan mempersalahkan itu. Lebih baik kalian latihan, karena besok kalian sudah harus melakukan misi kalian masing-masing." Perintah bos Gray.
"Siap bos Gray. Yuk lah Max." Jawab Alina dan mereka berdua langsung ke ruangan pelatihan menembak.
Di ruangan menembak. Mereka berdua langsung mengambil pistol yang ada di meja, dan mulai menembak. "Kau tahu soal Clara Max?" tanya Alina sambil menembak ke sasaran yang ada di depannya.
"Gak. Memangnya ada apa dengannya. Aku gak tahu soal berita hari ini, karena aku sibuk belajar, karena sebentar lagi ujian kelulusan?" tanya balik Max, sambil menaikkan alisnya.
"Kau tahu soal Clara. Clara
__ADS_1