Balas Dendam? Tentu Saja!

Balas Dendam? Tentu Saja!
Episode 48: Membersihkan Diri


__ADS_3

Alina dan Gista langsung berteriak, menyebut nama Clara. "Clara, kamu di mana. Jawablah." Bersamaan Alina dan Gista.


Saat mereka sedang berteriak. Tiba-tiba saja ada berlari ke arah mereka. Sontak Gista dan Alina terkejut, lalu reflek berteriak. "Argh," teriak mereka bersama-sama, dan itu hanya seekor kucing saja.


"Astaga, hanya kucing. Aku kira apaan tadi. Hampir jantungku mau copot." Ucap Alina sambil menghela nafas panjang.


"Sama, aku kira apaan tadi. Kalau begitu, mari kita lanjut mencari Clara." Ujar Gista, dan mereka langsung mencari Clara kembali, dengan bergempetan.


Disisi lain. Clara mendengar ada orang yang memanggil namanya. "Ada orang yang memanggil namaku. Ini seperti suara Felisa. Aku mengenalinya. Sepertinya mereka mencariku. Aku harus berusaha semaksimal mungkin, untuk membuat mereka tahu, kalau aku ada di sini." Ucap Clara mencari barang yang bisa membantunya.


"Tidak ada apa-apa di sini. Bagaimana aku bisa membuat mereka tahu, kalau aku ada di sini. Ya Tuhan, bantulah aku. Aku juga sangat kelaparan di sini." Memohon kepada Tuhan, agar ia di selamatkan.


Disisi lain, "kita sudah mencari Clara di sekitaran sini. Tapi tidak ada siapa-siapa. Dia sama sekali tidak ada di sini. Lebih baik kita kembali saja." Ucap Gista.


"Benar juga. Mari kita kembali," jawab Alina, dan mereka langsung berjalan kembali ke depan sekolah.


Namun. Saat mereka hendak keluar, tiba-tiba saja mereka berdua mendengar ada suara ember jatuh. Sontak Alina dan Gista kembali kaget, dan berbalik badan bersamaan. "Eh, suara apa itu. Suaranya dari gudang?" tanya Gista, sambil melihat ke arah gudang.


"Dia berusaha membuat suara. Agar kami membantunya. Aku tidak akan biarkan itu sayang." Ucap batin Alina tersenyum miring.


"Halah, paling kucing itu lagi. Kan tadi ada kucing yang mengagetkan kita lagi. Sudahlah, Clara memang tidak ada di sini. Mungkin saja dia di bawa ke hutan. Mending kita beritahu yang lain, dan menanyakan kepada mereka, apa mereka menemukan Clara. Yuk." Jawab Alina langsung menggandeng tangan Gista, dan mereka bersama-sama ke depan sekolah.


Kembali ke Clara, "sial, kenapa mereka tidak mendengarnya. Bagaimana ini, aku sudah berusaha mungkin, untuk membuat suara dari ember yang aku temukan. Tapi tetap saja mereka tidak mendengarnya. Aku tidak ingin mati di sini." Ucap batin Clara menangis, dan meneteskan air matanya.


Disisi lain. Alina dan Gista sudah berada di depan sekolah, dan lainnya juga sudah datang. "Bagaimana. Apa kalian menemukan Clara?" tanya Alina kepada yang lainnya.

__ADS_1


"Belum. Kami sama sekali tidak menemukan Clara. Dan bagaimana dengan kalian, apa kalian menemukannya?" jawab Agnes sekaligus bertanya.


"Kami juga tidak menemukan Clara. Mungkin saja dia tidak ada di sini. Kita mau cari dia di mana lagi ya. Aku jadi mengkhawatirkannya." Jawab Alina langsung berakting cemas.


Kevin pun menghampiri Alina, dan menenangkannya. "Kamu yang sabar ya sayang. Aku tahu, kamu pasti khawatir sama Clara. Tapi kita akan cari sama-sama di mana Clara. Kamu jangan sedih lagi ya sayang." Menenangkan Alina, dan Alina bersandar di bahu Kevin.


"Terima kasih banyak sayang, karena sudah menenangkanku. Ini sudah malam, lebih baik kita kembali ke rumah masing-masing saja. Takutnya terjadi hal yang tidak enak lagi." Ucap Alina sambil tersenyum kembali, dan berakting mengusap air matanya.


"Baiklah. Yuk kita pulang," ujar Kevin.


"Kalau begitu, kami pulang juga ya Felisa dan Kevin. Kau antarlah Felisa dengan hati-hati. Mari kita kembali gays." Ucap Niko, dan mereka langsung masuk ke dalam mobilnya masing-masing.


Kevin dan Alina pun masuk ke dalam mobil bersama. Dan di dalam mobil, Kevin langsung mengendarai mobilnya, dengan Alina di sampingnya.


"Iya sayang, ada apa?" tanya Kevin sambil fokus menyetir.


"Kalau Clara tidak di temukan bagaimana?" tanya balik Alina sambil menaikkan alisnya.


"Kamu jangan khawatir sayang. Kita pasti akan menemukan Clara. Kamu jangan terlalu cemas sayang. Kan ada aku di sini. Aku akan selalu ada di sisi kamu sayangku." Mengecup kening Alina, dan kembali tersenyum.


"Astaga, pakai segala mencium keningku lagi. Memang ****** cowok satu ini. Rasanya aku ingin memotong bibirnya itu. Menyebalkan." Ucap batin Alina mengepalkan tangan kirinya karena kesal, dan menahan emosi.


Sesampainya di gang rumah bohong Alina. Alina pun langsung turun dari mobil Kevin, "terima kasih banyak sayangku. Kamu hati-hatilah di jalan. Sampai jumpa besok sayang." Melambaikan tangannya, dan Kevin langsung pergi meninggalkan Alina.


"Untung tadi aku sudah memesan taxi. Jadinya taxi nya akan cepat datang." Ucap Alina langsung menunggu taxi datang, sambil merapikan rambutnya, dan pakaiannya.

__ADS_1


Tibalah taxi di hadapannya. Dan Alina langsung masuk ke dalam mobil, dan memberitahukan alamatnya. Mobil pun berangkat.


Sesampainya di gang rumahnya. Alina langsung turun dari mobil, dan membayar taxi tersebut. Setelah itu, Alina pun masuk ke dalam rumahnya. Dan di dalam rumahnya, Alina berbaring di sofa, dan terkapar di sofa.


"Lelah banget ya tuhan. Malas banget mencari si Clara itu. Aku harus terus berakting di hadapan mereka semua, agar balas dendamku berjalan dengan baik." Menghela nafas panjang, karena kelelahan.


"Oh ya. Aku mandi dulu deh, karena baru saja aku di cium oleh binatang kotor. Aku harus menyiapkan sabun banyak, karena bibirnya najis. Iyyuh." Langsung masuk ke dalam kamar mandi, dan meletakkan tasnya di atas meja ruang tamu terlebih dahulu.


Tengah malam pun tiba. Di mana Alina baru selesai mandi, dan ia sudah menghabiskan 20 shampoo sachet, hanya karena membersihkan keningnya saja.


Alina langsung keluar dari kamar mandi, dengan mengenakan piyama nyaman, sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


Alina pun duduk di sofa, sambil menyilangkan kakinya, "akhirnya lega juga, karena aku sudah shampoo-an banyak. Semua kuman yang menempel langsung hilang seketika. Enak nya." Lega Alina dan menghela nafas panjang kembali.


Tiba-tiba saja ponselnya berdering. Alina pun mengambilnya, lalu melihatnya. Dan yang menghubunginya adalah Max.


Alina langsung mengangkatnya, "halo Max. Ada apa?" tanya Alina sambil mengeringkan rambutnya kembali.


"Aku dengar-dengar. Kau sedang mencari Clara yang hilang. Apa itu benar?" tanya balik Max.


"Iya. Kau tahu dari mana, dan kenapa memangnya." Jawab Alina sekaligus bertanya.


"Aku tahu dari Niko. Aku hanya bertanya saja. Omong-omong, apa kau di rumah, atau ada di rumah bos Gray." Jawabnya.


"Aku lagi ada di rumah, karena aku habis pulang dari mencari wanita gila itu. Sebenarnya aku malas banget mencarinya. Tapi ini demi

__ADS_1


__ADS_2