
"Bos Gray tidak tahu apa yang aku rencanakan untuk mereka. Sudah banyak aku rencanakan untuk membalas mereka semua. Hanya saja waktunya belum tepat untuk balas dendam. Karena aku belum mau, kalau identitasku ketahuan. Aku ingin menikmati masa masa nama baruku ini lho bos Gray." Jawab Alina dengan detail.
"Tapi kau harus berpikir. Jangan sampai karena lama kau mengerjakan balas dendam ini. Kau jadi gagal untuk membalas dendammu. Jangan sampai kau membuat nyawa ibumu hilang, karena perlakuan dari keluarga tirimu itu. Bisa saja sekarang mereka sedang menghajar ibumu sampai berdarah. Kau kan tidak tahu itu. Maka sebab itu, cepat lakukan. Sebelum nyawa ibumu hilang." Menegaskannya kepada Alina.
"Baiklah. Aku paham dengan apa yang bos Gray katakan. Secepatnya aku akan membereskan mereka semua. Karena aku juga tidak tahan, jika melihat wajah mereka yang masih tenang dan belum merasakan semua penderitaan yang aku rasakan di masa lalu." Mengepalkan kedua tangannya, dan marah.
"Kalau begitu, kau berlatihlah dulu. Untuk meningkatkan bela dirimu." Perintah bos Gray kepadanya.
"Baiklah bos. Aku mau berkuda dulu. Lagi kepengen." Langsung menuju ke belakang rumah bos Gray, untuk menunggangi kuda.
Alina pun langsung menunggangi kuda, sambil memanah. "Aku tidak akan membiarkan mereka terus menyiksa ibu. Tidak akan aku biarkan." Teriak Alina, sambil memanah dengan keras, dan menunggangi kuda tersebut dengan kecepatan yang ia inginkan.
Disisi lain. Ponsel Alina ia tinggalkan di meja, dan tiba tiba saja ponselnya berdering, tepat saat bos Gray sedang duduk di sofa, sambil mengerjakan sesuatu.
Bos Gray pun langsung mengambil ponsel Alina, dan melihat siapa yang menghubungi di ponsel tersebut. "Niko," langsung mengangkatnya.
"Halo Felisa. Kau ada dimana?" tanya Niko.
"Halo, ada apa ya?" tanya balik bos Gray.
"Eh, bukannya ini nomor Felisa ya. Apa aku salah nomor. Maafkan aku." Ujar Niko.
"Bukan, bukan. Ini memang nomor Felisa. Ada apa ya. Saya ayahnya." Tanya bos Gray, dan menyamar menjadi ayah Alina.
"Ouh, om. Saya kira salah nomor. Saya mau tanya anaknya om. Dimana Alina ya om?" jawab Niko sekaligus bertanya.
"Dia sedang istirahat, karena kelelahan. Kamu siapa ya Felisa?" jawab bos Gray sekaligus bertanya kembali.
"Saya temannya om. Saya hanya mau bertemu saja dengan anak om. Tapi karena Felisa sedang istirahat. Nanti saya hubungi lagi dia. Terima kasih banyak om." Jawab Niko dengan detail.
__ADS_1
"Sama sama," langsung mematikan ponsel tersebut, dan kembali meletakannya di atas meja.
"Dia benar benar mengejar Alina. Padahal dia sama saja dengan Kevin itu. Mereka hanya menjadikan Alina sebagai bahan taruhan. Aku tidak akan membiarkan mereka berdua menyakiti hati Alina." Ucap batin bos Gray serius, dan memasang wajah kesal.
Disisi lain. Alina pun selesai berkuda, dan ia langsung turun dari kuda tersebut. "Menyenangkan juga ya. Kalau sedang kesal, lalu naik kuda. Rasanya jadi tenang, dan bahagia. Benar benar menyenangkan." Bahagia Alina, sambil tersenyum dan mengusap keringatnya.
"Omong omong, besok aku akan ke rumah Clara deh. Ada hal yang mau aku bicarakan dengannya. Sembari mencari kebenaran untukku. Dan membuatnya membuka mulut." Menaikkan alisnya, dan meminum air dingin yang ia bawa dari kulkas bos Gray.
Setelah istirahat. Alina pun masuk kembali ke dalam rumah, dan menghampiri bos Gray yang sedang bekerja. "Tadi ada yang menghubungimu. Dan aku angkat saja." Memberitahukan kepada Alina.
Alina pun mengambil ponselnya, "siapa yang menghubungiku?" tanya Alina kepada bos Gray.
"Cowok yang naksir denganmu itu. Si Niko itu," jawab bos Gray sambil menaikkan alisnya.
"Ouh, dia hanya teman saja. Aku juga benci dengannya. Aku hanya mau mempermainkannya saja. Karena aku hanya fokus untuk balas dendam. Bukan untuk percintaan. Aku hidup bukan untuk memikirkan soal perasaan dan cinta. Aku hidup untuk menikmati indahnya dunia, dan indahnya uang. Bukannya harus pusing pusing memikirkan cinta. Karena cinta tidak penting bagiku. Karena aku sudah bahagia, dengan kesendirianku." Jawab Alina sambil tersenyum miring, dan kembali meminum es tersebut.
"Baiklah bos Gray. Aku mau mandi dulu deh. Karena nanti malam aku juga akan bertemu dengan teman satu agen rahasiaku. Bay bos Gray." Langsung masuk ke dalam kamar.
Malam pun tiba. Dimana Alina sudah sangat rapi, dan sedang menonton televisi di ruang tamu. "Kau sangat cantik hari ini. Apa kau mau pergi dengan salah satu pria yang menyukaimu itu?" tanya bos Gray yang baru keluar dari ruang kerjanya.
"Aku kan mau bertemu dengan teman satu agen rahasiaku. Tentu aku harus cantik dong bos. Bukannya mau menarik hatinya. Tapi agar dia betah berteman denganku." Jawab Alina sambil tersenyum tipis, dan kembali menonton televisi.
"Kapan dia akan datang bos?" tanya Alina balik.
"Paling dia akan datang bentar bentar lagi. Katanya seperti itu sih." Jawab bos Gray mengambil berkas berkas yang ada di meja dekat televisi.
Tiba tiba ponsel Alina berdering, "pasti telepon dari pria yang mengejarmu. Hahahah." Mengejek Alina.
"Jangan tertawa bos Gray. Atau aku patahkan itu gigi bos Gray." Langsung mengambil ponselnya, dan melihatnya.
__ADS_1
Dan yang menghubunginya adalah Kevin. Alina pun langsung mengangkatnya. "Halo Vin. Ada apa?" tanya Alina, sambil mengemil cemilan yang ia dapatkan dari kulkas bos Gray.
"Malam Felisa. Kau ada dimana. Aku mau mengajakmu dinner bareng. Mau gak?" tanya balik Kevin.
"Apa yang dia katakan?" tanya bos Gray dari meja depan.
Alina menjauhkan ponselnya, "dia mengajakku dinner." Jawab Alina dengan berbisik.
"Hahahah, kau terima saja. Eh, tapi kan kau akan bertemu dengan teman satu agen rahasiamu. Bagaimana kalau kau kerjai saja dia." Ucap bos Gray memiliki ide.
"Apa itu?" tanya Alina kembali, sambil mengangkat alisnya.
"Halo Felisa. Bagaimana?" tanya Kevin kembali.
"Sebentar. Ada yang mengetuk pintu. Sebentar." Memberi alasan, dan kembali menjauhkan ponselnya.
"Apa rencananya?" tanya Alina kembali, langsung menghampiri bos Gray.
"Jadi begini. Kau suruh saja dia menunggu di sebuah restoran mahal. Dan bilang kepadanya, tolong pesankan makanan lobster untukmu gitu. Setelah itu kau bilang kepadanya, kalau kau akan datang dengan cantik dan elegan. Setelah dia datang, dan menunggumu cukup lama."
"Kau jangan datang, dan biarkan saja dia menunggumu. Lalu jangan angkat teleponnya. Dengan begitu, dia akan kecewa denganmu. Hahahah, bagaimana dengan rencanaku." Jawab bos Gray memberitahukan rencananya.
"Bagus banget. Terima kasih banyak bos Gray. Ide yang bagus." Bahagia Alina, dan kembali duduk di sofa, dan mengambil ponselnya yang ia letakkan di meja.
"Halo Vin," panggil Alina dengan lembut.
"Iya Felisa. Bagaimana, kau menerima ajakanku?" tanya Kevin kembali, dengan pertanyaan yang sama.
"Ehm, aku
__ADS_1