
"Hari ini. Hari ini kami kenal. Dan, ada hal apa kau ada di sini?" tanya balik Alina.
"Aku ingin mengajakmu makan malam. Apa kamu ada waktu nanti malam?" jawab Kevin, sambil tersenyum kepada Alina, dan terus menatap wajahnya.
"Aduh, maaf banget ya Kevin. Hari ini aku benar benar sibuk, dan tidak punya banyak waktu." Jawab Alina ikut tersenyum.
Tiba tiba ada yang datang menghampiri mereka lagi, dan ia adalah Niko. Sontak mereka bertiga langsung menatap wajah Niko.
"Niko, ada apa kau kemari juga?" tanya Alina sambil menaikkan alisnya.
"Tentu untuk menemuimu," jawab Niko sambil tersenyum tipis.
"Astaga. Bisa bisa kepalaku pecah, karena dikejar oleh mereka berdua. Astaga." Ucap batin Alina, sambil mengerutkan keningnya.
"Oh ya Felisa. Kapan kita akan dinner berdua. Soalnya ada yang mau aku katakan padamu." Ucap Niko.
"Kenapa malah kau duluan. Aku duluan yang mengajak Felisa berdua. Kenapa tiba tiba kau mengajak Felisa juga. Bagaimana Felisa. Kau mau denganku kan." Ujar Kevin.
"Sudahlah. Kan sudah aku katakan. Kalau aku sangat sibuk. Jangan mengganggu deh. Yuk kita pergi Max." Jawab Alina langsung menarik tangan Max, dan pergi dari kantin.
Niko dan Kevin saling bertatapan, "apa hubungan Felisa dengan Max?" tanya Kevin kepada Niko.
"Entahlah. Felisa bilang, mereka hanya teman saja. Aku juga tidak tahu, dia bohong atau tidak. Yang penting, kita harus tetap taruhan." Jawab Niko dengan ekspresi serius.
"Siapa takut. Kalau begitu, kita makan saja dulu," ucap Kevin.
Disisi lain. Max dan Alina langsung ke perpustakaan. Dan mereka duduk berhadapan kembali. "Ada apa denganmu. Kenapa kau main tarik tanganku?" tanya Max, sambil menaikkan alisnya.
"Aku pusing melihat mereka berdua. Tiap detik, menit. Selalu saja berebut diriku. Aku pusing mendengarnya." Jawab Alina, sambil menghela nafas panjang.
Max pun mengambil buku yang ada di dekatnya, dan langsung membacanya. "Bagaimana dengan teman sekelasmu. Apa mereka masih membully mu?" tanya Alina sambil menyilangkan kakinya.
__ADS_1
"Tidak. Malah mereka takut melihat wajahku ini, dan otot yang baru aku tunjukkan. Biasanya kan aku selalu menutupi diriku, dan mengenakan kacamata. Padahal semua itu hanya samaranku saja." Jawab Max sambil tersenyum tipis, dan membaca buku yang ia ambil.
"Maco deh, memang Max ini. Hahahah, omong omong, nanti sore kita ke rumah bos Gray ya. Karena katanya, ada yang mau dikatakan oleh bos Gray." Ucap Alina sambil melipat kedua tangannya juga.
"Iya iya. Terserah mu saja. Aku mengikut saja. Karena ini juga suatu pekerjaanku." Ujar Max menurut.
Tiba tiba ada yang datang ke meja mereka berdua, dan ia adalah cewek cewek yang menyukai Max tampan. "Halo Max, ini ada hadiah dariku. Semoga kamu mau menerimanya." Ucap adek kelas, langsung memberikan sebuah kotak berbentuk hati.
Sontak Alina dan Max langsung menatap ke arah adek kelas cewek tersebut. Max pun mengambil kotak pemberian adek kelas tersebut. "Terima kasih banyak. Kau bisa pergi." Jawab Max dengan dingin, dan adek kelas tersebut langsung meninggalkan mereka berdua, dengan ekspresi bahagia.
"Kau mau. Aku lagi tidak mau makan coklat. Itu paling isinya coklat." Memberikannya kepada Alina.
"Mau dong. Kalau gratis mah aku mau aja. Sini." Jawab Alina langsung mengambilnya, dan membukanya.
"Wah, ini kan coklat enak. Ehm, aku akan memakannya." Ucap Alina langsung mengambil coklat bulat, dan memakannya.
"Bagaimana rasanya?" tanya Max kepadanya.
"Nih, cobalah," ujar Alina menyuapi Max, dan Max langsung memakan coklat yang disuapi oleh Alina.
"Bagaimana. Enak kan?" tanya Alina sambil menaikkan alisnya.
"Enak juga ternyata. Memang kalau gratis enak." Tersenyum tipis Max.
Mereka tidak tahu, kalau murid yang di perpustakaan. Melirik ke Alina dan Max. "Mereka romantis banget ya. Sepertinya mereka pacaran deh." Bisik anak perempuan.
Disisi lain. Ada Kevin dan Niko yang melihat Alina dan Max di tempat persembunyian mereka, dibalik rak buku besar. "Kelihatannya mereka pacaran deh. Lihat saja itu, mereka suap suapan. Kita harus mencari tahu. Apa benar mereka berdua pacaran." Bisik Kevin kepada Niko.
Niko yang cemburu, langsung mengepalkan kedua tangannya. "Felisa sangat dekat dengan pria itu. Tapi kalau dekat denganku, dia tidak mau. Apa dia tidak suka denganku. Apa yang kurang dariku coba." Kesal batin Alina.
Jam pulang pun tiba. Dimana Alina menunggu Max mengambil mobilnya dari parkiran sekolah. Saat sedang menunggu, tiba tiba saja gengnya datang, dan langsung menghampiri Alina.
__ADS_1
"Cieee," ucap mereka semua.
Sontak Alina kaget, karena ia sedang bermain ponsel, "kalian kenapa. Apa kalian kesambet setan?" tanya Alina langsung memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Katanya kalian suap suapan di perpustakaan ya. Kau dengan Max. Fiks, kalian pacaran kan." Ucap Agnes, sambil menaikkan alisnya.
"Astaga. Kalian salah paham. Kami hanya sebatas teman saja. Dan bisa dibilang sahabat deh. Aku sama sekali tidak punya perasaan dengannya. Begitu juga dengan Max. Dia sendiri yang bilang, kalau dia tidak punya perasaan kepadaku. Aku sama sekali tidak berbohong kepada kalian. Sumpah." Jawab Alina menjelaskannya secara detail.
"Ouh, baiklah. Maafkan kami Felisa. Habisnya kalian sangat dekat. Jadi kami kira kalian pacaran." Ucap gengnya bersamaan.
"Ini kau sedang menunggu siapa?" tanya Gista sambil menaikkan alisnya.
"Aku menunggu Max. Kan dia menjemputku. Tentu dia akan mengantarkanku pulang dong." Jawab Alina sambil melipat kedua tangannya.
"Ouh, oke deh. Kalau begitu, kami duluan ya Felisa. Bay." Ucap mereka semua sambil melambaikan tangannya, dan pergi meninggalkan Alina.
Max pun datang dengan mobilnya, dan langsung turun dari mobil, tepat dihadapan Alina. "Yuk pulang," ucap Max, dan Alina langsung masuk ke dalam mobil.
Merekapun langsung pulang, ke rumah bos Gray. Sesampai rumah bos Gray. Mereka berdua langsung turun dari mobil bersamaan, dan langsung masuk ke dalam rumah.
"Halo bos Gray. Bos Gray sedang apa?" tanya Alina sambil menaikkan alisnya.
"Sedang merekrut pekerjaan kalian. Dan hal hal apa saja yang akan dibutuhkan nanti." Jawab bos Gray dengan ekspresi serius.
Alina pun mengambil minuman dingin di dalam kulkas, dan tersedia minuman kaleng. Alina pun memberikannya kepada Max yang sedang duduk.
"Nih, minuman," ucap Alina langsung duduk disampingnya, dan meminum minuman kaleng tersebut.
"Oh ya bos Gray. Nanti sore aku akan datang ke rumah Clara. Karena ada hal yang mau aku bicarakan dengannya." Ucap Alina memberitahukannya.
"Kau harus hati hati, dan berjaga jaga. Karena bisa saja, ada yang curiga denganmu. Kau tahu itu kan." Ujar bos Gray.
__ADS_1
"Soal itu