
"Ouh ya bi. Apa aku boleh memanggil bibi dengan sebutan ibu, karena itu akan mengobati rasa rindu saya kepada ibu saya. Apa boleh bi?" tanya Alina sambil menaikkan alisnya.
"Boleh saja nak. Bahkan kamu sudah saya anggap seperti anak sendiri, karena kamu benar-benar seperti Alina. Sangat baik, dan peduli sesama manusia. Kalau begitu, kamu bisa memanggil dengan sebutan ibu." Jawab ibunya sambil tersenyum.
"Terima kasih banyak, ibu," ucap Alina dengan bahagia, karena ia bisa memanggil ibu kandungnya dengan sebutan ibunya kembali, walaupun Alina harus membohongi ibunya, dengan mengatakan, kalau dirinya adalah Felisa.
"Nih bu, makan makanannya. Pasti ibu akan menyukainya." Ujar Alina langsung meletakkan beberapa ayam semur ke piring ibunya.
"Terima kasih banyak nak. Oh ya, ibu mau bilang, kalau Alina sangat menyukai ayam semur ini. Apa dia baik-baik saja di sana, dan apa dia sudah makan ya di sana?" bertanya-tanya ibunya sendiri, padahal Alina ada dihadapannya.
"Sudah pastinya bu. Karena sebelum Alina pergi dari kota ini. Aku mengingatkannya untuk makan tepat waktu, dan jangan memikirkan hal-hal yang membuat kepala pusing. Aku sudah mengurus semua keberangkatannya bu." Jawab Alina sambil mengunyah makanannya.
__ADS_1
"Terima kasih banyak nak. Kamu memang sahabat Alina yang paling baik." Ikut bahagia ibunya, dan mereka saling bertatapan dengan tatapan penuh kasih sayang.
Disisi lain, di mana ibu Clara baru pulang dari rumah sakit, dan yang menjaga Clara di rumah sakit adalah ayahnya. Ibu Clara yang bernama Estiana langsung keluar dari mobil.
Saat mau membuka pintu rumah. Tiba-tiba saja Estiana terhenti, karena melihat sebuah kertas yang ada di atas karpet. Estiana langsung mengambil kertas tersebut, dan membukanya.
Isi kertas tersebut, "saya yang bernama Lumina pergi dari rumah, karena sudah tidak betah tinggal di rumah yang seperti neraka. Dengan tidak ada kehadiran saya, hidup kamu akan tenang, dan jangan cari saya. Saya hanya ingin kebebasan, dan saya tidak akan mengatakan apa yang selama ini kamu lakukan kepada saya dan anak saya. Biarlah karma yang membalas kamu. Saya tidak akan pernah kembali, dan nikmatilah masalah yang akan datang ke hidupmu. Salam Lumina." Isi surat tersebut.
Ia langsung membuang kertas tersebut ke tong sampah, dan ia pun masuk ke dalam rumah, dengan ekspresi wajah tidak senang, sambil mengerutkan keningnya.
Keesokan paginya. Di mana Alina baru bangun dari tidurnya yang nyenyak. "Hua, selamat pagi dunia yang membahagiakan." Ucap Alina sambil menguap, dan langsung turun dari tempat tidurnya.
__ADS_1
Alina pun keluar dari kamarnya, dan ia melihat ibunya yang sedang beres-beres rumah, sambil menyanyi. "Pagi ibu," sapa Alina, sambil tersenyum.
Ibunya langsung menatap ke arah Alina, "eh, nak Felisa. Kamu sudah bangun, dan apa tidurnya nyenyak?." Tanya ibunya sambil menatap wajah Alina.
"Sangat nyenyak bu, apalagi kalau ada ibu. Oh ya bu, kenapa ibu membersihkan rumah ini. Ini kan pekerjaan Alina, jadi biar aku saja yang membereskannya bu." Ucap Alina sambil menghampiri ibunya.
"Apa maksud kamu. Alina, kan kamu Felisa?" tanya ibunya yang langsung bingung.
"Eh, maksudnya Felisa bu. Maaf bu, ini karena keseringan manggil Alina, jadinya gini bu. Hahaha, maklumi deh bu." Jawab Alina membohongi ibunya.
"Oh ya bu, Aku
__ADS_1