
Disisi lain. Alina pun sudah sampai di restoran tersebut, dan Alina langsung turun dari mobilnya. Saat turun, semua orang yang ada di restoran tersebut, langsung menatap ke arah Alina. Karena Alina begitu cantik.
Niko dan Kevin yang sadar, akan Alina yang sudah datang, langsung menghampiri Alina, dan berusaha menyambut Alina dengan baik.
"Selamat datang tuan putri," sambut Kevin.
"Selamat malam princess," sambut Niko juga, dan mereka saling tersenyum.
"Kalian tidak perlu sampai seperti ini. Mari kita duduk bersama." Ucap Alina, dan mereka bertiga langsung duduk bersama.
"Kamu mau pesan apa. Biar aku yang bayari?" tanya Kevin kepada Alina.
"Biar aku yang membayarnya. Pesanlah semua makanan yang kamu inginkan." Ucap Niko juga.
"Baiklah. Masing masing ambilkan aku makanan yang enak, dan minuman yang paling enak di restoran ini." Memerintah Alina.
"Baik," menurut Niko dan Kevin, dan langsung ke ruang pemesanan makanan bersama.
Setelah beberapa menit. Niko dan Kevin datang, sambil membawa makanan dan minuman yang di minta Alina.
"Ini makanannya," ujar Niko dan Kevin bersamaan, lalu meletakkannya di atas meja.
"Enak juga kalau menipu mereka berdua ini. Hahahah." Ucap batin Alina, sambil tertawa tipis di dalam hatinya.
"Terima kasih banyak. Kalian jadi repot begini," ujar Alina, dan mereka berdua langsung duduk di hadapan Alina.
"Tidak perlu berterima kasih. Ini sudah kewajibanku, untuk menjadi pacarmu nanti." Ucap Kevin tersenyum tipis.
Merekapun langsung menikmati makan malam bersama. Dan setelah beberapa jam, Alina sudah menghabiskan makanan dan minuman yang ia pesan. "Semuanya sudah habis. Kalau begitu, tanpa tunggu lama lagi. Felisa, mau kah kamu menjadi pacarku." Lamar Kevin, dan langsung bertekuk lutut di hadapan Alina.
"Felisa. Mau kah kamu menjadi pasanganku. Aku akan membahagiakanku, dan tidak akan pernah membuatmu meneteskan air mata." Lamar Niko juga, dan mereka berdua, sama sama menyerahkan bunga mawar.
__ADS_1
Alina pun berdiri di hadapan mereka berdua. Dan semua orang melihat ke arah mereka. "Ini sudah keputusanku dari kemarin. Aku sudah memilih, siapa yang cocok untuk aku jadikan pacar. Dia adalah, kamu Kevin. Aku ingin kamu menjadi pacarku." Jawab Alina yang menerima lamaran Kevin, dan mengambil bunga pemberian Kevin.
Kevin langsung berdiri, dan memegang kedua tangan Alina. "Terima kasih banyak Felisa. Kau tidak salah memilihku." Ujar Kevin langsung memeluk Alina, dan Alina berakting bahagia.
Disisi lain. Niko kembali berdiri, dengan raut wajah kecewa. "Selamat ya Kevin dan Felisa. Semoga kalian langgeng." Mengucapkan selamat, dengan raut wajah tidak terima.
Kevin dan Alina langsung menatap wajah Niko. "Terima kasih bro. Kalau begitu, kau harus mengakhiri perasaanmu kepada kekasihku. Terima kasih banyak, karena kau sudah bertahan sampai sini." Tersenyum Kevin kepada Niko, sambil merangkul pinggang Alina.
"Sama sama. Kalau begitu, aku pergi dulu. Semoga kau bahagia Felisa." Tersenyum sakit hati, dan langsung pergi meninggalkan Kevin dan Alina.
Setelah Niko pergi, "maafkan aku Niko. Tapi ini belum seberapa, dengan apa yang aku rasakan dulu." Ucap batin Alina.
"Kalau begitu, mari kita jalan jalan. Kamu mau?" tanya Kevin terus tersenyum kepada Alina.
"Tidak usah deh. Aku mengantuk banget. Boleh kamu antar ke rumah aku." Jawab Alina sekaligus bertanya.
"Boleh banget. Dan apa aku boleh memanggilmu dengan sebutan sayang sekarang?" tanya balik Kevin.
Alina dan Kevin langsung masuk ke dalam mobil Kevin, dan Kevin mengantarkan Alina pulang ke rumah palsunya.
Di perjalanan, "aku masih tidak menyangka, kalau kamu akan memilihku. Terima kasih banyak Felisa." Kembali tersenyum Kevin, sambil fokus menyetir.
"Aku lihat kamu begitu baik dan penyayang. Aku tidak akan salah memilihmu. Terima kasih, karena sudah menyukaiku." Ikut tersenyum Alina. Tapi tersenyum palsu.
"Kevin sudah masuk ke dalam perangkapku. Dan aku akan membuatnya hancur, seperti aku dulu." Ucap batin Alina tersenyum miring.
Sesampainya di gang seperti biasanya. Alina pun langsung turun dari mobil, dan Kevin ikut membantu Alina turun dari mobil. "Aku bisa sendiri kok sayang." Ucap Alina kembali tersenyum.
"Kenapa harus di sini. Kenapa tidak aku antar sama dalam?" tanya Kevin, sambil menaikkan alisnya.
"Tidak perlu. Kalau begitu, kamu bisa pergi sekarang, dan hati hatilah di jalan." Jawab Alina, dan mengelus rambut Kevin.
__ADS_1
Kevin pun mengecup kening Alina, "baiklah. Kalau begitu, aku pergi dulu. Dah sayang." Melambaikan tangannya, dan langsung masuk ke dalam mobil, lalu pergi.
Setelah Kevin pergi. Alina pun langsung memesan taxi, dan setelah taxi datang. Alina pun masuk ke dalam taxi, lalu menuju rumahnya.
Sesampainya di rumah. Alina membayar sang supir, dan langsung turun dari mobil. Setelah itu, Alina masuk ke dalam rumahnya, dan terkapar di sofa ruang tamu.
"Argh, lelahnya hari ini. Tapi memuaskan, karena rencanaku berhasil." Ucap Alina tersenyum tipis.
Disisi lain, "kenapa Felisa memilih pria seperti Kevin. Jelas jelas Kevin orang yang jahat, dan bisa bisanya Felisa menerimanya. Aku tidak terima. Aku sakit hati. Felisa, aku benar benar mencintaimu. Kenapa kau tidak memilihku, dan malah memilih Kevin gila itu." Marah Niko, sambil mengerutkan keningnya, dan mengepalkan kedua tangannya.
Keesokan paginya. Dimana Alina sudah bangun, dan itu adalah hari dimana Clara sudah masuk sekolah juga. Alina pun mendandani dirinya secantik mungkin, agar bisa membuat semua terpukau kembali dengannya.
"Saatnya di mulai kembali. Pembalasan dendam selanjutnya." Tersenyum miring, dan langsung keluar dari rumahnya, lalu berangkat dengan mobilnya.
Sesampai sekolah. Alina pun langsung keluar dari mobilnya, dan gengnya juga baru sampai. Otomatis Alina bertemu dengan gengnya.
"Halo gaes," sapa Alina, dan mereka berpelukan bersama.
"Cieee, ada yang lagi bahagia nih," ucap Celine.
"Iya nih. Sudah jadi pacar Kevin aja. Selamat ya Felisa sayang." Mengucapkan selamat kepada Alina.
"Terima kasih banyak gaes. Kalian tahu aja, kalau aku dan Kevin sudah berpacaran. Tapi, aku masih tidak enakan dengan Clara. Kan Clara pernah berhubungan dengan Kevin juga. Takutnya aku menyakiti hatinya lagi." Kembali memainkan aktingnya.
"Kau tidak perlu seperti itu. Kami akan ada disisimu. Kalau Clara menyakitimu, kami akan ada untuk membantumu." Ujar Gista dan yang lainnya.
"Terima kasih banyak. Kalian memang yang paling pengertian kepadaku. Kalau begitu, bagaimana kalau kita ke kantin. Aku traktir kalian." Ucap Alina langsung tersenyum.
"Mari," sorak gengnya, dan mereka langsung menuju kantin bersamaan.
Sesampainya di kantin. Merekapun duduk di kursi mereka seperti biasanya. Dan mereka langsung memesan makanan ringan.
__ADS_1
"Coba ceritakan. Bagaimana kau menerimanya. Dan apa yang kalian lakukan setelah itu?" tanya Agnes yang penasaran.