
"Omong-omong, bagaimana dengan Clara sekarang ya. Apa dia kelaparan dan sedang menangis?" bertanya-tanya.
Disisi lain. Di mana Clara baru sadar dari pingsannya, dan ia membuka matanya perlahan-lahan. "Argh, sakit banget kepalaku. Aku masih berada di sini. Di mana sebenarnya ini?" bertanya tanya batin Clara.
"Ikatannya begitu kuat. Aku tidak bisa membuka tali ini. Bagaimana ini, dan tempat ini begitu gelap." Ujar Clara menahan sakit.
"Aku harus keluar dari tempat ini. Aku harus meminta tolong kepada orang sekitar." Ucap Clara berusaha melepaskan tali yang mengikat tangan dan kakinya.
Setelah mencobanya beberapa kali. Clara tetap tidak bisa membuka ikatan tersebut. Karena ikatan tersebut begitu kuat, sampai membuat luka di kedua tangan dan kedua kaki Clara. "Sial, tali ini benar-benar kuat. Aku tidak bisa melarikan diri. Dan mulutku di tutup lakban. Bagaimana aku berteriak kalau aku begini. Sial." Menyerah, dan menangis kesakitan.
"Aku jadi penasaran. Siapa yang menyuruh anak cowok itu, untuk menculikku. Kalau aku tahu siapa bos yang menyuruh mereka. Aku tidak segan-segan untuk membunuhnya. Lihat saja, kalau aku sudah keluar dari sini, aku akan mencari siapa yang menculikku, dan tidak memberiku makan." Marah Clara, sampai mengepalkan kedua tangannya.
Keesokan paginya. Di mana seperti biasanya, Alina sudah bersiap-siap, dan berangkat menuju sekolah. Saat keluar dari rumah, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Alina pun mengambil ponselnya yang ada di saku bajunya, dan yang menghubunginya adalah Max.
"Max, ada apa dia menghubungiku." Langsung mengangkatnya.
"Halo Max, ada apa menghubungiku pagi-pagi begini?" tanya Alina sambil bersender di mobil.
"Apa kau sudah berangkat ke sekolah?" tanya balik Max.
__ADS_1
"Belum Max tampan. Aku masih mau berangkat ini. Ada apa memangnya?" jawab Alina sekaligus bertanya.
"Tidak ada. Aku kira kau sudah ada di sekolah. Ada hal yang mau aku katakan padamu. Nanti temui aku di perpustakaan ya. Bay." Jawab Max langsung mematikan ponselnya.
"Hal apa yang ingin di katakannya. Sudahlah, temui dia dulu nanti. Baru dia akan mengatakannya." Ujar Alina langsung masuk ke dalam mobilnya, dan berangkat ke sekolah.
Sesampainya di sekolah. Alina pun langsung turun dari mobil, dan menyandang tasnya ke samping. Lalu Alina mengibaskan rambutnya, dan mengenakan kacamata hitam. Semua murid terus menatapnya, dan kagum dengan body Alina yang begitu indah.
Lalu Alina melihat ke adek kelasnya, dan ia mengedipkan sebelah matanya. Sontak semua adik kelas cowok langsung jatuh, dan salting, dengan tatapan maut Alina. Alina pun tertawa tipis, dan langsung menuju kelasnya.
Sesampainya di kelas. Tiba-tiba saja ada yang memegang pundaknya dari belakang, dan ia adalah Kevin. Sontak Alina membalikkan badannya, dan menatap wajah Kevin. "Kevin. Baru datang?" tanya Alina melepaskan kacamatanya, dan menatap wajah Kevin.
"Iya nih. Omong-omong, kamu kenapa datang ke mari. Bukannya kelas kamu ada di atas?" tanya Alina kembali, sambil menaikkan alisnya.
"Tentu untuk menemui pacarku yang paling cantik dan menggemaskan ini. Oh ya, aku punya sesuatu untuk kamu sayang." Jawab Kevin, dan mengeluarkan sesuatu untuk Alina.
Alina menahan emosinya, karena ia benar-benar jijik, dengan keromantisan Kevin dengannya. Kevin pun mengeluarkan sekotak coklat untuk Alina. "Ini untuk kamu sayang. Katanya kamu suka dengan coklat kan. Jadi aku belikan coklat untuk kamu sayang." Ujar Kevin langsung memberikan sekotak coklat untuk Alina.
"Terima kasih banyak sayangku. Kamu memang tahu kesukaanku. Kalau begitu, aku masuk ke kelas dulu ya sayang." Langsung mengambil coklat pemberian Kevin, dan saat Alina hendak masuk, tangannya di tarik Kevin.
__ADS_1
Sontak Alina kembali menatap wajah Kevin, "ada apa?" tanya Alina kembali, sambil memegang coklat tersebut.
"Apa kamu tidak ingin memberikan hadiah untukku. Karena aku sudah memberikan coklat untuk kamu. Kamu jahat." Jawab Kevin cemberut.
"Laki-laki ini membuatku emosi. Rasanya aku ingin membunuhnya sekarang juga." Ucap batin Alina menahan emosinya, dengan mengerutkan keningnya, dan menundukkan kepalanya.
Alina pun mengelus Niko, dan kembali tersenyum kepada Niko. "Lain waktu saja ya sayangku. Karena aku lagi badmood hari ini. Dah sayang, dan terima kasih atas coklatnya." Jawab Alina langsung masuk ke dalam kelasnya, dan meninggalkan Kevin di luar.
Di luar. Kevin kembali tersenyum, karena melihat senyuman Alina. "Aku benar-benar jatuh cinta dengannya." Ucap Kevin langsung menuju kelasnya.
Di dalam kelas. Gengnya langsung tersenyum kepada Alina. "Cieee, pagi-pagi udah romantis begitu. Bikin iri deh." Ujar Gista tersenyum.
"Nah, untuk kalian. Makanlah, aku lagi gak pengen makan coklat hari ini." Ujar Alina tanpa ekspresi, dan langsung memberikan coklat tersebut kepada gengnya.
"Terima kasih banyak sayangku Felisa. Kamu tahu saja kalau kami lapar. Hahahah." Ucap Agnes langsung mengambil coklat yang di berikan Alina.
"Sama-sama. Oh ya, bagaimana dengan kabar Clara. Apa Clara sudah di temukan?" tanya Alina sambil melipat kedua tangannya.
"Belum. Katanya polisi masih berusaha mencari keberadaannya sih. Tapi aku heran, kenapa dia bisa tiba-tiba hilang ya. Aneh, seperti penculikkan." Curiga Gista.
__ADS_1
"Mungkin saja dia benar-benar di culik. Tapi kita tidak boleh menuduh sembarangan. Bisa saja ada hal lain, kan katanya Clara habis pergi dari luar negeri." Jawab Agnes.