
Gadis bule itu langsung membawa Bams kerumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan, Thalita tidak bisa tinggal diam dia tetap mengikuti kemana perempuan itu membawa suaminya, dengan perasaan yang tidak menentu Thalita terus saja menangis di sepanjang perjalanan. Sesampainya di rumah sakit Bams langsung mendapat penangangan.
"Semua gara-gara kamu perempuan udik!, Bams dalam masalah lagi karena kamu!, jika terjadi apa-apa maka kamu orang pertama yang akan gue cari, camkan itu!" ucap perempuan bule itu
Thalita hanya diam, ribut dengan perempuan itu hanya akan menimbulkan masalah baru, ia akan di usir dari rumah sakit dan kemungkinan untuk bertemu dengan suaminya semakin sulit.
"Apa-apan ini, pelekor ini malah ngata-ngatain gue, harusnya gue yang marah, tapi ya sudahlah!, gue akan tunggu disini sampai Bams sadar, sebaiknya gue kirim pesan ke Suster dulu kalau gue akan telat pulang" batin Thalita
Selasai mengirimkan pesan, saat ia hendak duduk dari kejahuan ia melihat dua orang tua yang sangat ia kenali, yaitu mertuanya, banyak hal yang ingin ia tanyakan pada mertuanya tentang masalah Bams.
"Bapak, Ibu!" ucap Thalita lalu menyalami keduanya dan memeluk mertuanya.
"Tha....maafin Ibu" ucap mertuanya sesengukan.
"Ibu, duduk dulu!" ucap Thalita lalu membimbing mertuanya untuk duduk di bangku ruang tunggu.
"Ibu saya pergi dulu, titip Bams ini saya pulang dulu Bryan jatuh" ucapnya panik lalu memeluk dan mencium Ibunya Bams dan melengang melangkah meninggalkan Rumah sakit itu.
"Bryan?, siapa dia? Apa hubunganya dengan Bams?" hati Thalita bergemuruh.
Saat ia hendak bertanya kepada Ibu mertuanya tiba-tiba dokter keluar dari ruang perawatan Bams
"Keluarga Pasien Bambang," ucap dokter setelah keluar dari kamar periksa
"Saya Ibunya dok"
"Saya Istrinya"
"Begini Ibu, kondisi pasien saat ini sangat lemah jangan memaksanya untuk mengingat semua memori, pelan-pelan saja bu" kata dokter yang biasa menangani Bams selama kembali dari luar Negri
__ADS_1
"Memory? Memory apa?" Thalita tampak kebingungan
"Nanti Ibu jelasin, tapi Ibu mohon jangan temui Bams dulu, Ibu kedalam sebentar nanti Ibu temui kamu setelah dari dalam" ucap Ibunya Bams.
Thalita hanya bisa menganguk pasrah, tak ada yang bisa ia lakukan selain hanya pasrah, tak berapa lama kemudian mertuanya keluar dari ruang rawat Bams dan langsung mengajak Thalita ke taman agar dapat berbicara dengan leluasa.
"Tha...Ibu tau kamu pasti sangat kecewa sama Ibu dan Bapak, karena sudah menyembunyikan semua ini dari kamu, hiks..hik..hik" wanita sepuh itu menangis sejadi jadinya, sebenarnya Thalita ingin marah namun, meilhat mertuanya juga tampak terpukul ia menahan diri.
"Katakan ma, apa salah Thalita hingga kalian tega padaku, hik...hik..hikk, apa yang kurang dari Thalita biar Thalita benahi ma," Air mata yang sejak tadi dibendungnya kini tak kuasa lagi ia menahan laju derasnya air mata.
"Maafkan, Ibu Nak...kamu menantu yang sempurna Ibu sayang sama kamu seperti putri kandung sendiri, hik..hik..hik" Ibunya Bams tergugu.
"Bukan maaf yang Thalita butuhkan Bu, tapi tolong jelasin salahnya Thalita Bu!" ucap Thalita sambil duduk bersimpuh di depan mertuanya
"Jangan begini sayang, Ayo bagun!," ucap Ibunya Bams membimbing Thalita untuk bangun
"Anakku sayang, duduklah dulu Ibu akan jelaskan sesuatu" pinta wanita paruh baya itu.
Thalita langsung duduk dihadapan mertuanya dan Ibunya Bam mulai bercerita.
"Nak, Sebenarnya Bams itu mengalami amnesia, dia tidak ingat siapapun termasuk Ibu dan Bapak, perlahan dan pasti kami memperkenalkan diri lambat laun ia menerima kami, saat kami hendak memberitau tentang kamu sama dia, kamu dinyatakan koma saat melahirkan putra kalian, jika hal ini kami beri tau Bams maka psikisnya juga terganggu kami sudah konsultasikan dengan dokter yang merawat dia, Ibu juga nggak tau kenapa setiap Ibu memberitau tentang kamu dia pasti pingsan jadi kami belum bisa memberitau soal kamu sama dia" ucap Ibunya Bams sambil menangis
"Ok, Thalita bisa mengerti bagaimana perasaan Ibu, karena Thalita juga seorang Ibu, tapi siapa perempuan tadi? Dan kenapa dia bilang itu pacar Bams, Thalita sangat sakit dengar dia menyapa gadis itu dengan sebutan sweety" ucap Thalita sambil menagis dan menahan sesak didadanya mengingat ucapan Bams
"Dia Celine, perempuan itu adalah suster yang selama ini merawat Bams, dan Bams sangat ketergantungan dengan perempuan itu, Ibu sudah melarang Bams untuk tidak terlalu dekat dengan dia, penah suatu ketika Ibu berusaha menjauhkan Bams dengan dia, Bams tidak mau terapi dan mengalami kemunduran yang signifikan, Ibu tau ini salah Nak, tapi apa yang bisa Ibu Lakukan? Kamu boleh membenci Ibu, Ibu rela nak" ucap Ibunya Bams tergugu
"Berarti perempuan itu tau kalau sebenarnya Bams itu sudah berkeluarga?" tanya Thalita
"Iya, dia tau" ucap Ibunya Bams pelan.
__ADS_1
"Sebenarnya Ibu juga kurang suka dengan kedekatanya dengan Bams, namun Ibu tidak bisa berbuat apa-apa, hik..hik..hik.."
"Ibu, bolehkan Thalita punya satu permintaan bu?" pinta Thalita
"Apa nak, ijinkan Thalita mendekati Bams, bagaimanapun dia suami Thalita Bu" ucap Thalita
"Itu hak kamu nak, cuma Ibu pesan jangan terlalu dipaksa Bams karena dia akan pingsan seperti sekarang" ucap Ibunya Bams memelas.
Setelah pertemuan dengan mertuanya Thalita bertekat merebut hati suaminya kembali bagaimanapun dia lebih berhak dari pada perempuan asing itu, setelah Bams sehat dan diperbolehkan pulang Thalita rutin berkomunikasi dengan mertua untuk mengatur pertemuanya dengan Bams, hari ini adalah waktu yang sudah diatur oleh Thalita dan mertuanya untuk ketemuan.
"Katakan apa maumu, Siapa namamu?" tanya Bams
"Sakit Bams, sakit! Denger kamu ngomong kek gini ,aku nggak boleh lemah, aku nggak boleh kalah, aku belum berjuang" batin Thalita.
"Bams, aku ada satu permintaan padamu, tolong beri aku kesempatan untuk membuktikan kalau aku adalah istrimu" ucap Thalita sambil berkaca-kaca
"Apa untungnya buat aku?" tanya Bams sinis
"Ya Tuhan, pertanyaan macam ini?" batin Thalita
"Bams, aku melakukan semua bukan hanya untuk aku sendiri, ada seseorang yang merindukannmu siang dan malam, aku mohon bukakan pintu hatimu sedikit saja untuk dia" ucap Thalita sambil menujuk seorang Anak yamg digendong susternya.
Awalnya Bams ingin menolak namun melihat anak kecil itu yang wajahnya 100% mirip denganya hatinya bergetar ia belum pernah merasakan ini sebelumnya, ia memang dekat dengan Bryan anaknya Celine, tapi rasa ini bener-bener beda ada sebuah rasa entah apa itu rasanya ia tak dapat mengambarkan begitu melihat batita itu melangkah mendekatinya lalu memeluknya dan berkata
" Pa..pa...pa"
Tbc
Jangan lupa like comment dan favorite ya men temen
__ADS_1