
Melihat reaksi Celine Thalita tak mau kalah, bak artis papan atas ia langsung berakting menyaingi Celine.
"Aduh...Morgan kepalaku sakit!" Thalita sengaja menyebut Morgan, karena tadi pagi ia melihat reaksi suaminya kurang begitu menyukai Morgan
"Ayo, aku antar pulang, kamu masih sakit!" ucap Morgan ia menjadi panik dan khawatir melihat Thalita.
"Tidak perlu!, biar aku yang antar Thalita" ucap Bams, yang membuat kaget semua orang, dalam hati Thalita bersorak kegirangan.
"Yes, berhasil" batin Thalita
"Bams, nggak bisa gitu!, ini ulang tahunku kamu mau meninggalkanku begitu saja, kamu keterlaluan Bams" Celine tidak terima
"Kamu nggak lihat kondisi apa? Lihatlah Thalita sedang sakit, bisa dihabisi kak Rania kalau tau dia sakit aku diam saja" oceh Bams
"Dasar perempuan licik, gua tahu dia cuma pura-pura" batin Thalita. Tanpa diduga Celine mendekati Thalita yang digendong Bams dan menarik rambut Thalita.
"Aduh....sakit" Thalita mengaduh
"Lepaskan! Celine kamu dengar apa tidak?" Bams membentak Celine.
Mendengar bentakan Bams Celine menangis sesengukan, hatinya sangat terluka, tak pernah sekalipun Bams membentaknya seperti ini apalagi ini didepan umum, Sementara itu Thalita bersorak dalam hati.
"Mampus kau pelakor, jangan berani main-main sama Gue!" batin Thalita.
Thalita pura-pura menagis kesakitan hal itu semakin membuat Bams merasa bersalah, tanpa babibu ia langsung mengendong Thalita ala bridal style menuju parkiran
"Tha, maafin sikab Celine ya" ucap Bams penuh penyesalan.
"Ok, nggak masalah" ucap Thalita lupa akan actingnya.
Mata Bams menyipit, ia melihat Thalita baik-baik saja dan segar bugar
"Brugh..." dengan kasar Bams melepaskan gendonganya dan memakinya.
"Dasar gila kamu ya!, kamu pura-pura sakit hah, apa maksud kamu?" teriak Bams sambil melotot
"Ya, gue memang nggak apa-apa, gue sengaja ingin tau seberapa elu peduli sama gue" ucap Thalita santai
"THALITA!" teriak Bams sambil melotot kearah Bams, emosinya memuncak merasa dipermainkan oleh Thalita.
__ADS_1
"APA? Elu mau apa tampar gue? Ayo tampar" tantang Thalita hatinya sudah kebas.
"Gara-gara elu, wanita yang gue cintai menangis gue bentak, dimana otak loe?" maki Bams merutuki kebodohanya main percaya saja dengan Thalita hingga membuat Celine terluka
Thalita tak menangis, mungkin air matanya sudah kering kerena seringnya menangis, ia jengah dengan sikab Bams dia langsung mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya, lalu menghubungi Morgan.
"Gan, gue tunggu di parkiran" ucap Thalita.
"Dasar cewek sinting!, setelah elu buat acara gue sama Celine, sekarang elu mau enak-enakan pacaran sama cecunguk itu" umpat Bams, emosinya semakin memuncak ketika melihat Thalita menghubungi Morgan
"Elu maunya apasih? gue sama elu, elu terus-terusan maki-maki gue dan nyalahin gue, dan sekarang gue mau pulang dengan Morgan, kasih kesempatan elu buat ngejar pelakor itu, elu marah" umpat Thalita
"Ngapain kamu hubungi dia hah?," bentak Bams
"Kan elu mau bujuk, pelakor itu , otomatis elu nggak bisa ngantar gue pulang, apa salahnya gue bareng Morgan?"
"Elu kan bisa naik taxy!,"
"Egois banget jadi orang, elu mau enak-enakan gue suruh pulang sendiri" ucap Thalita.
"Ya, siapa suruh nyusulin gue, ganggu acara orang aja!" ucap Bams tanpa filter sama sekali
"Ayo Tha" ucap Morgan mengajak Thalita, Saat hendak melangkah menuju mobil Morgan, Bams mencekal tangan Thalita.
"Aku sudah pesenin Taxy, kamu pulang naik taxy ini perintah!" ucap Bams tak terbantahkan
"Emang kamu siapa? perintahin Gue" ucap Thalita dengan tatapan sengit
"Ingat Thalita kita masih terikat perjanjian, kamu nggak bisa seenaknya pergi dengan laki-laki lain selama masih terikat perjanjian denganku"
"Enak bener jadi elu, egois!, Elu mau berduaan sama perempuan sialan itu, sedangkan gue cuma mau pulang diantar Morgan saja kamu tidak memperbolehkan, elu bener-bener egois" ucap Thalita langsung pergi tanpa mengubria Bams, ia langsung membuka pintu mobil Bams.
"Jalan, Morgan!" ucap Thalita
Mobil lansung meluncur meninggalkan parkiran itu, Bams kini tengah gundah gulana, antara mau menemani Celine atay mengejar Thalita.
"Harusnya gue seneng, dia biarin gue berduaan dengan Celine, tapi kenapa gue sebel banget dia sama dokter itu" batin Bams
"Celine, gue harus susul dia bagaimanapun sebelum ada Thalita dia yang selalu merawatku dan selalu ada untukku dan Thalita hanya orang baru yang kebetulan singgah" guman Bams.Kemudian ia menyusul Celine ke Appartemenya, sampai disana Bams membujuk Celine dan meminta maaf soal kejadian tadi, Celine awalnya tidak mau memaafkan, tapi dia takut kalau dia tidak memaafkan Bams akan pulang dan dia akan kehilangan Bams lagi, selama bersama Celine Bams seperti orang linglung pikiranya melayang jauh.
__ADS_1
"Apa yang Thalita lakukan bersama Morgan, kenapa gue harus kepikiran dia, sialan!, no...no..no Bams elu nggak boleh lemah, elu nggak boleh terjebak oleh cewek nggak jelas itu, tapi bagaimana kalau Morgan dan Thalita jadian, aduh gue mana udah sayang banget sama anaknya Thalita, bagaimana kalau tiba-tiba Batha panggil Morgan Papa" batin Bams terus berperang sendiri
"Tidakkkkkk...." tiba-tiba Bams menjerit
"Kamu kenapa Bams?" tanya Celine panik
"Gue harus pulang, kata kak Rania ada sesuatu dirumah, entah apa dia nggak bilang" dusta Bams
"Kapan Kak Rania kasih tau kamu? Perasaan hp kamu diem-diem aja nggak ada panggilan" selidik Celine
"Ya...ya...karena hp gue silent dan Kak Rania kirim pesan aja" kembali Bams berdusta
"Coba gue lihat pesanya?" tanya Celine yang mulai tidak percaya pada Bams
"Celine sejak kapan kamu jadi kepo begitu? Aku nggak suka kamu begitu" ucap Bams tiba-tiba marah.
"Kok kamu jadi marah? Aku kan cuma nanya" ucap Celine mulai ciut nyalinya.
"Aku kecewa sama kamu!, ternyata nggak ada kepercayaan dari kamu" ucap Bams
"Bu...bukan begitu maksutku Bams" ucap Celine
"Sorry gue pamit, Kak Rania sudah nunggu gue" ucap Bams entah kenapa ia sejak tadi uring-uringan terus
Bams melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, ditengah jalan Banya bocor.
"Sialan!, pakai bocor lagi" gerutu Bams, terpaksa dia menambal mobilnya karena tidak sabar menunggu ia, akhirnya naik ojeg online agar cepat sampai dirumah,mobil ia tinggal begitu aja.
Sementara itu Thalita menagis tergugu di mobil Morgan, berkali-kali ia mengehela nafas lalu menghembuskan dengan kasar
"Morgan, apa yang dilakukanya dengan perempuan itu, hik..hik..hik, sakit, sakit hati gue Morgan" Thalita semakin tergugu.
"Udah...buang semua rasa sakitmu, fokus pada tujuan utama kamu, kalau memang tidak sangup lagi, maka lepaskanlah!" nasehat Morgan
"Makasih ya, kamu selalu ada untuk kami" ucap Thalita.
Semakin Thalita mengingat Bams, semakin mengangga lukanya, rasanya sakit sekali membayangkan suaminya berduaan di Appartemen dengan wanita lain, rasanya ia ingin menyerah saja.
Tbc
__ADS_1
Jangan lupa,like comment dan favorite ygy