Bams Dan Thalita

Bams Dan Thalita
Mulai pendekatan lagi


__ADS_3

Thalita tak kuasa menahan air matanya tak kala melihat reaksi Bams terhadap putra mereka.


"Hai...jagoan, nama kamu siapa?" tanya Bams Lembut


"Atta" ucap Bocah itu


"Atta?, nama yang keren sekeren orangnya" puji Bams, ia begitu hangat bila berbicara dengan Putranya berbeda jik ia bicara dengan Thalita.


"No...no...no, Atta!" ucap batita itu


"Namanya Batha, akronim namaku dan namamu" ucap Thalita.


"Aku nggak nanya kamu" ucap Bams kembali judes


"Sabar Tha, sabar" batin Thalita


"Bams beri aku waktu, kalau memang kamu belum bisa mengingatku setidaknya ijinkan aku untuk membuatmu jatuh cinta kembali" ucap Thalita dengan tenang.


"Awalnya gue males berurusan dengan elu, tapi lihat baby Batha gue kasih kesempatan elu selama 100 hari buat dapetin hati gue, kalau elu nggak bisa buka hati gue dalam seratus hari gue harap elu mundur dan kita kembali pada kehidupan kita masing-masing" ucap Bams


"Seratus hari? Mana bisa begitu? itu terlalu singkat Bams beri aku waktu lebih" ucap Thalita pustus asa


"Terserah!, kalau elu nggak mau juga nggak apa-apa itu urusan elu, dan urusan kita selesai sampai disini" ucap Bams ketus


"Ok...gue terima tantangan elu, tapi gue minta satu syarat, selama gue deketin elu selama seratus hari itu nggak boleh ada orang ketiga termasuk Celine pacar kamu" ucap Thalita.


"Nggak bisa begitu, kamu egois! kasian Celine dia nggak tau apa-apa dan harus berkorban pisah dari gue" ucap Bams


"Sakit...Bams, sakit!" batin Thalita.


"Bams, aku cuma minta waktu 100 hari itu adalah waktu yang singkat jika aku tak dapat membuatmu jatuh cinta, aku pastikan aku akan mundur dan kami tidak akan menganggumu lagi" ucap Thalita dengan wajah sendu, Bams melirik sekilas wajah Thalita ada rasa kasian terselip dalam dadanya.


"Baiklah, gue setuju!" ucap Bams mantab


"Tinggalah dikota ini, kamu bisa tinggal ditempat kak Rania, agar aku mudah untuk menghubungimu, kamu tau sendiri aku bekerja dan juga punya seorang batita yang masih membutuhkanku" ucap Thalita.


"Deal" keaduanya bersalaman


Mulai besuk Bams akan tinggal dirumah Rania untuk memulai kesepakatan barunya, hari ini Bams menemui Celine untuk memberitahuhya tentang kesepakatanya dengan Thalita, Celine sangat marah dan tidak terima, Bams meyakinkan Celine bila tidak akan ada yang berubah nantinya.Pagi hari Celine menemui Thalita dikediamanya.


"Thalita, keluar!" teriak Celine

__ADS_1


"Siapa sih? Pagi-pagi teriak-teriak dirumah orang" batin Thalita


Dengan langkah gontai Thalita keluar rumah dan alangkah terkejutnya dia saat keluar rumah Celine sudag berdiri diambang pintu sambil berkacak pingang


"Apa maksut kamu, membuat kesepakatan gila itu dengan Bams, kamu bilang kamu sayang sama dia? Kamu tau nggak cara kamu ini bakal nyakitin dia, kamu inggat nggak kejadian kemarin?" teriak Celine


"Heh, mbak Bule nyasar, udah beruntung ya elu nggak gue jambak-jambak karena elu udah jadi pelakor, mood gue lagi jelek pergi sekarang! Atau,"


"Atau apa?" Celine malah menantang


"Mbak Thalita ada apa mbak?" tiba-tiba seorang warga datang


"Ini ada Bule nyasar dan udah nyasarin suami saya!" Thalita mengompori tetangganya tersebut


"Oo...jadi dia pelakor?"


Tanpa Babibu perempuan tadi langsung menyerang Celine, Celine gelagapan dan berusaha untuk kabur


"Thalita urusan kita belum selesai" ucapnya saat hendak berlari


"Ayo kita selesaikan sekarang!" tantang Thalita


"Hei pelakor jangan Lari" teriak tetangga Thalita tadi.


"Makasih ya bu," ucap Thalita


"Iya sama-sama mbak, punya suami tampan dan kaya itu banyak resikonya mbak, pesan saya libas aja semua pelakor yang mendekat, kalau ada apa-apa jangan sungkan-sungkan teriak aja warga sini pasti bantu, biar pelakor itu tau diri" ucap Ibu-ibu tadi sebelum melangkah pergi.


"Bismillah, semoga usahaku tidak sia-sia" Thalita mulai berangkat ke tempat Rania untuk memulai pendekatan pada Bams lagi


Rania sangat antusias dengan kedatangan Bams dirumahnya.


"Bams....kamu ingat nggak ini kamarmu dulu" tanya Rania mencoba mengingatkan, reaksi Bams hanya mengeleng pelan


"Di kamar ini pula, awal kalian dinikahkan sama Kakaknya Thalita Mas Bima suami Kakak sebelumnya, kalian kedapatan tidur bareng padahal kalian belum menikah" ucap Rania sambil tersenyum membayangkan kejadian masa lalu, namun tal ada satupun yang Bams ingat.


Tak lama kemudian Thalita datang ia sudah membawa masakan dari rumahnya, masakan kesukaan Bams, ia berharap Bams perlahan-lahan mengingatnya.


"Bams, kita sarapan dulu ya, ini makanan kesukaan kamu" ucap Thalita


Bams hanya diam tanpa ekspresi, ia lalu mencicipi masakan yang dibawa Thalita rasanya sangat pas dilidahnya namun ia gengsi untuk memujinya, dia hanya diam sambil terus memakan masakan Thalita.

__ADS_1


"Bams, bagaimana? Enak nggak?" tanya Thalita dengan percaya diri karena ia yakin Bams sangat menyukainya dia juga melihat makanan yang ia bawa sudah tandas dimakan semua


"Biasa aja nggak ada yang istimewa" ucap Bams


"Masa, kok habis nggak tersisa kalau nggak enak" ucap Thalita


"Gue cuma hargai usaha elu aja, masakan elu jauh di bawah masakan Celine" ucap Bams tanpa perasaan


"Celine lagi, Celine lagi, ingin rasanya aku cekik pelakor itu, sabar...Thalita suamimu sedang amnesia" batin Thalita


"Kenapa kamu nggak ajak anak kamu kesini?" tanya Bams tiba-tiba


"Anak kita Bams" ralat Thalita


"Terserah apalah yang mau elu ucapin" sewot Bams


"Sabar, sabar" Batin Thalita


"Kalau jam segini dia, masih bobok dia bangunya siang susah dibangunin kaya papanya" goda Thalita.


"Ngarang!"


"Bams, kamu sekarang kerja dimana?" tanya Thalita


"Emang perlu gue jawab?" jawaban nyelekit keluar dari mulut Bams


"Ya perlu dong Bams, aku sekarang harus tau aktivitasmu ingat kita masih ada 99 hari yang belum kita lewati" ucap Thalita


"Percaya diri sekali kamu!, apa yang membuat gue harus jatuh cinta sama elu, sementara gue punya Celine yang jauh lebih baik segala-galanya dibanding kamu" lagi-lagi ucapan Bams menghujam bagai ribuan jarum menusuk jangungnya


"Hufttt..." helaan nafas terdengar dari mulut Thalita, ia mengatur emosinya agar ia tidak lepas kontrol.


"Bams tolong jawab pertanyaan gue!" ucap Thalita pada Akhirnya


"Gue kerja di kantor kakaknya Celine, puas kamu!"


"Bams selama seratus hari aku minta kamu jangan kerja ditempat itu lagi, kamu punya kantor sendiri kantor kak Bima kan kamu yang kelola kamu bisa balik lagi Bams" ucap Thalita


"Selain ngeyel ternyata kamu bodoh juga ya, mana aku ingat kerjaanku dulu seperti apa? Dan aku sudah nyaman kerja dikantor Kakaknya Celine, dan gara-gara permintaan gila elo gue harus cuti selama tiga bulan setengah" umpat Bams


Sakit namun tak berdarah itulah yang dirasakan Thalita

__ADS_1


Tbc


Jangan lupa like, comment dan favirite ya


__ADS_2