Bams Dan Thalita

Bams Dan Thalita
Titik jenuh


__ADS_3

"Berhenti!, dan jangan bikin keributan dirumahku, kalian semua pergi!" usir Thalita.


Bams dan Morgan serentak menghentikan pertikaian mereka, manik mata mereka menetap lurus wanita cantik dengan hijab rumahan sedang berkacak pinggang.


"Maafkan Gue Tha, semua gara-gara dia" tunjuk Bams pada Morgan


"Bukanya elu duluan yang mulai, dasar amnesia begitu aja lupa" umpat Morgan


"Kalian bisa Diam nggak!, dan tolong pergi dari rumah saya sekarang atau perlu aku panggil penjaga" ucap Thalita sengit.


Kedua laki-laki tadi hanya pasrah, akhirnya mereka keluar dari rumah Thalita, setelah kepergian mereka Thalita menagis tergugu


"Ya Tuhan, kenapa cobaanmu begitu berat, hik...hik...hik, hamba tak sangup ya Allah" Air mata Thalita semakin luruh


Hari ini Thalita memutuskan untuk cuti kembali, rasanya pikiranya semrawut tak mungkin ia paksakan bekerja, seharian ia hanya menunggui Batha.


"Aku harus bersikab tegas, aku nggak boleh lemah kasian Batha, Ok....hufttt tarik nafas....buaang....tarik...buang" Thalita menstimulasi diri sendiri.


Sepulang dari tempat Thalita Bams langsung memblokir nomor Celine dan Kakaknya, ia memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan Celine, ia terlanjur kecewa dengan perempuan itu, ekspetasinya terlalu tinggi, hingga saat ia tau sudah dibohongi Celine maka hanya rasa kecewa yang tersisa.


Sore hari ia kembali menyambangi kediaman Thalita, hatinya mengahangat saat melihat seorang wanita cantik tengah mengendong bayi laki-laki tampan, dan menyuapinya.


"Sore anak Papa yang ganteng!," sapa Bams pada putranya


"Om pelgi!, ata ndak au injam om Ladi" ucap Batha.


"Kamu omong apa sayang?" tanya Bams


"Om Pergi, Batha nggak mau pinjam Om lagi" Thalita menterjemahkan ucapan putra semata wayangnya.


"Kenapa kamu panggil Papa Om nak?" tanya Bams, hatinya terasa sakit tatkala mendengar anak itu memanggilnya dengan sebutan Om.


"Karena itu yang kalian mau kan?, kini kami sudah mewujudkanya, puas kamu?" sarkas Thalita


"Apa maksudnya ini Tha?"


"Ya, seperti yang kamu dengar, kami sudah tidak membutuhkanmu lagi, dan perempuan itu lebih membutuhkanmu dari pada kami, dan kami cuma meminjam maka kami akan kembalikan lagi, terima kasih untuk waktumu yang terbuang untuk kami" ucap Thalita


"Tha ini maksudnya apa?" Bams kembali bertanya, ia bingung dengan reaksi Batha dan Thalita sekarang, mereka berubah seratus delapan puluh derajat.

__ADS_1


"Kalau kamu kurang jelas tanyakan langsung pada Calon istrimu, kalau dirasa sudah tidak ada yang dibicarakan lagi, disana ada pintu keluar" ucap Thalita sambil menunjuk arah pintu keluar


"Kamu mengusir aku Tha?" tanya Bams tak percaya, untuk kesekian kalinya ia diusir oleh istrinya sendiri


"Kamu bilang, aku suamimu kalau ini rumahmu berarti ini rumahku juga dong, dan aku berhak tinggal sama kalian" ucap Bams tanpa dosa


"Apa kamu bilang?, tinggal sama kita setelah apa yang kamu lakukan sama kami, dan atas dasar apa kamu mau bersama kami lagi?" cecar Thalita


"Karena kalian masih keluargaku, jadi apapun alasanya aku tetap kepala keluarga ini, kau bilang mau bimbing aku, mau memulai dari awal, mana janji-janji kamu kenapa berubah secepat ini" ucap Bams tidak terima


"Aku sudah lupa dengan semua yang aku katakan padamu dan anggap aku tak pernah mengatakan apapun padamu, kamu senangkan, akhirnya kami bebas dari kami? Seperti kata Celine pada putraku bahwa kami hanya meminjam selebihnya kami akan kembalikan" ucap Thalita.


"Tha..." tak mampu Bams meneruskan ucapanya, ingin rasanya dia mengatakan jangan pergi dariku namun, gengsi masih menguasai hati dan pikiranya.


"Untuk saat ini, anakmu belum mau bertemu dengan kamu, dia butuh waktu!, ia masih kecil tolong jangan lagi libatkan anakku dalam urusan asmaramu,hik...hik..hikks" sungguh hati Thalita sangat terluka.


Diam, itulah reaksi Bams saat ini, hal itulah yang sangat Thalita benci dengan sifat Bams setelah amnesia, tak ada lagi Bams yang tegas namun kasih sayangnya utuh padanya, kini laki-laki yang sama dihadapanya kini menjelma menjadi sosok lain, yang sangat asing bagi Thalita.


"Jika tidak ada yang dibicarakan bisakah kamu pergi dari rumahku?" usir Thalita


"Satu lagi, aku akan urus perceraian kita setelah itu aku berjanji tidak akan pernah lagi mengusikmu, selamat sore" ucap Thalita meninggalkan Bams


Bams hanya bisa menatap pilu punggung istrinya yang sudah masuk kedalam rumah bersama anaknya.


"Keputusanku sudah benar, ini demi kebaikan kita semua, mulai besuk aku akan mengurus percerainku dengan Bams" ucap Thalita


Sementara itu Bams masih diam mematung ditempat, ia tak tau apa yang harus ia lakukan. Pasokan oksigen ditubuhnya serasa berhenti, semua mendadak gelap dan tiba-tiba ia pingsan


"Bruk..." Bams terjatuh pingsan


"Ibu...bu, ini pak Bamsnya pingsan" teriak art Thalita


"Kenapa bisa begitu?" tanya Thalita


"Entahlah bu, kita bawa kedalam saja kasian!" ucap Art


"Panggil Mang Asep dan Didin untuk membawanya kedalam" perintah Thalita


"Taruh dikamar tamu!" ucapnya Lagi

__ADS_1


Tak lama kemudian Bams dibawa ke kamar tamu dan dibaringkan disana, meskipun Thalita masih sakit hati atas perlakuan Bams namun sisi kemanusiaanya masih berjalan, dengan telaten ia mengurus Bams.


"Aku dimana?" tanya Bams ketika sudah siuman


"Dirumahku!" ucap Thalita singkat


"Kenapa aku bisa ada disini?" tanya Bams


"Kamu pingsan, pasti kamu lupa minum obat" ucap Thalita


"Sudah seminggu ini aku tidak mengkomsumsi obat" jawab Bams


"Kenapa, takut sembuh takut kami kembali, kamu jangan khawatir kami tak akan menganggumu lagi" sinis Thalita


"Bukan...bukan itu, aku merasa lebih baik jika tidak mengkonsumsi obat itu, sedikit demi sedikit memoriku telah kembali meski belum sepenuhnya dan maaf aku belum bisa mengingat kamu" ucap Bams


"Tak perlu diingat, aku malah senang kau tidak mengingatku, jadi lebih mudah aku mengugatmu" ucap Thalita


"Jangan....jangan lakukan itu" ucap Bams


"Kenapa?, bukanya kau harusnya senang" tanya Thalita


"Kasian Batha" ucap Bams


"Kau salah, Batha malah sekarang lebih dekat dengan Morgan jadi kau tidak usah khawatit soal Batha" ucap Thalita tanpa tedeng aling-aling


Bams tanpak kebingungan merangakai kata yang tepat agar Thalita tak meneruskan niatnya untuk mengugatnya.


"Sepertinya kamu juga sudah baikan, aku tinggal dulu" ucap Thalita


Ingin sekali Bams bilang kalau Thalita jangan meninggalkanya namun mulut dan hatinya lagi-lagi tidak singkron.


Diluar tampak Morgan sedang berkunjung dan tengah asik bermain robot bersama Batha, sungguh ini adalah pemandangan terburuk sepanjang masa bagi Bams, ingin rasanya mengusir Morgan namun ia tak bisa melakukanya.


"Dady...Dady..." tetiak Batha


"Bahkan dia sudah memanggil Morgan dengan sebutan Dady" batin Bams


Tbc

__ADS_1


Jangan lupa like, comment dan favorite


Jangan lupa like comment dan favorite ygy


__ADS_2