
Suster yang menjaga Batha terpaksa mengusir Celine, tak lama kemudian Thalita datang ia melihat putra semata wayangnya masih kejer menangis, Suster lalu menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya, Gigi Thalita gemeletuk menahan amarah mendengar penjelasan suster.
"Baiklah Celine, mulai hari ini aku putuskan tidak akan berhubungan dengan kalian lagi, toh bagaimanapun usahaku nyatanya tidak mampu mengugah hati Bams" batin Thalita
Setelah satu minggu Batha diijinkan pulang, lagi-lagi hingga Baby Batha pulang Bams tidak menampakkan batamg hidungnya.
"Tha, kamu mau pulang kemana?" Tanya Morga yang sudah siap mengantar Thalita pulang.
"Pulang kerumahku sendiri" ucap Thalita.
"Kamu yakin dengan keputusan kamu?" tanya Morgan
"Seribu persen yakin!" ucap Thalita mantab.
Morgan membawa Thalita dan Batha pulang dengan kecepatan sedang, melewati jalanan yang ramai, ia menawarkan Thalita untuk mampir kemana dulu, namun Thalita menolak.
Beberapa saat kemudian mobil yang ditumpangi mereka sampai dirumah Thalita, disana sudah ada Bams yang menunggu dengan muka masam.
"Begini kelakuan kamu, kalau aku lagi tidak ada, ini yang kamu bilang ingin memperbaiki hubungan kita?" begitu turun dari mobil Bams langsung menyerang Thalita dengan kata-kata pedasnya.
"Diam kamu brengsek!, dasar laki-laki nggak tanggung jawab!, salah bukannya meminta maaf malah berkoar-koar seolah kamu adalah korban" bentak Morgan
"Sudahlah Morgan, tak ada gunanya meladeni mulut sampahnya, anggap dia nggak ada dari pada ada cuma nyakitin" ucap Thalita tanpa melihat kearah Bams, ia langsung mengendong Batha masuk kedalam rumah, Morgan dan Bams langsung mengekori dari belakang
"Cewek ini gila, apa bagaimana? Harusnya gue yang marah, meskipun gue nggak inget tapi dia masih istri gue, bisa-bisanya dia berduaan dengan laki-laki lain saat gue lagi nggak ada" batin Bams
"Ngapain kamu ikut masuk?" omel Morgan
"Ini rumah istri gue, suka-suka gue, lah elu siapa harusnya elu yang pulang" ucap Bams tak mau kalah.
"Istri? Istri yang selalu kamu sakiti, istri yang tidak kamu anggap, istri yang kamu duakan dengan ******" Morgan semakin emosi
"Tutup mulutmu!, ini rumah tangga gue elu nggak berhak ngatur" bentak Bams.
"Bugh...B******n," sebuah pukulan mendarat di pipi Bams
__ADS_1
"Bugh....brengsek!" Bams membalas pukulan Morgan
"Cukup!, hentikan, kalian keluar dari rumah gue, anak gue butuh istirahat" teriak Thalita yang sudah tidak tahan dari tadi mendengar pertengkaran Bams dan Morgan
Bams dan Morgan hanya saling lirik, tak ada yang bergeming dari tempatnya.
"Morgan, tolong kamu tau gimana kondisi Batha, pulanglah! setelah kondusif kamu boleh kemari" ucap Thalita lembut
"Dan kamu, pergi dari rumah gue, mulai detik ini gue udah nyerah!, gue nggak akan paksa-paksa elu buat kembali sama gue dan anak gue, pergi!" ucap Thalita dengan nada tinggi
"Begini kelakuan kamu, ini rupanya wajah asli kamu, tak kusangka dibalik wajahmu yang kalem ternyata kamu seorang player, nggak nyangka gue" sinis Bams
"Plak..." sebuah tamparan mendarat di pipi Bams
"Pergi!, Ya gue player, puas kamu, pergi!" ucap Thalita sambil menangis, namun Bams tidak mengindahkan ucapan Thalita ia ingin penjelasan lebih lanjut dari Thalita
"Panggil satpam Bik, seret laki-laki nggak berguna ini" ucap Thalita hatinya sungguh lelah.
Tak lama kemudian datang dua orang berperawakan tinggi besar mereka adalah satpam yang dipekerjakan Bams untuk menjaga Thalita, namun Bams sama sekali tidak mengingatnya.
"Maaf pak, tolong kerja samanya Ibu sedang tidak stabil" ucap Salah seorang security
"Tolong bawa dia keluar, sekarang kalian tanggung jawab saya bukan dia" ucap Thalita sambil menunjuk Bams
Security lalu memaksa Bams untuk meninggalkan rumah Thalita, dengan langkah gontai ia mendekati mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi ia ingin meminta penjelasan kakaknya, karena ia tau kakaknya pasti tau sesuatu. Begitu sampai dirumah seisi rumah langsung bersikab cuek terhadap Bams, tak ada satupun anggota keluarga yang mau bicara dengan Bams.
"Kenapa semua orang cuekin gue?" guman Bams kebingungan.Saat hendak mendekati Rania kakaknya langsung menghindar dan menuju kamarnya pun dengan Arya, saat Bams hendak bicara dengan Arya Rania langsung menarik suaminya itu untuk menjahui Bams.
"Eliza..., hanya dia yang tidak cuek sama gue" batin Bams
Bams melangkah menuju kamar Eliza, ponakanya itu tengah asik main boneka barbie.
"Sini om, main cama Eisa" ucap Eliza yang melihat omnya masuk dalam kamarnya.
"Eiz sayang, hmmm...kok main sendiri, yang lain kemana?" pancing Bams
__ADS_1
"Sus, ladi nyuci baju eisa, Mama ladi istilahat dikamal cama Papa, adek lagi bobok, kakak cekolah, adek Batha cakit, jadi eisa ndak ada temen" ucap Eliza polos
"Batha sakit?, kapan sakitnya?, tadi om lihat dia dirumahnya kok" ucap Bams penasaran.
"Ihhh...om ini gimana cih, adek Batha kan memang cakit udah ceminggu mungkin cekalang udah puwang" ucap Bocah itu sambil bersedekap, seolah marah
"Batha sakit?, sudah seminggu kenapa nggak ada yang kasih tau gue" batin Bams
"Eliza om keluar bentar ya" ucap Bams yang ingin penjelasan dari kakaknya.
"Om cama aja!, menyebalkan" ucap Eliza merajuk
Terpaksa Bams menenangkan Eliza dan bermain sebentar dulu dengan keponakanya itu, setelah puas bermain Eliza tertidur kesempatan itu Bams gunakan untuk menemui Rania, beruntung saat ia kedapur ia melihat Rania disana sedang membuatkan susu untuk anaknya yang kecil
"Kak, kenapa nggak ada yang kasih tau kalau Batha sakit?" cecar Bams
"Emang kamu peduli?, lanjutkan saja urusanmu bersama jalangmu itu kakak cape nasehatin kamu, sekarang terserah apa maumu dan sepertinya Thalita juga sudah menyerah, baguslah akhirnya ia sadar tak ada gunanya menunggu laki-laki tidak punya tanggung jawab seperti kamu" sinis Rania
"Kenapa kakak ngomong begitu? Seolah aku ini nggak punya perasaan, sekalipun aku lupa ingatan tapi logikaku masih jalan,apa susahnya hubungi aku?" ucap Bams frustasi.
"Oh ya? Kamu masih punya perasaan, perasaan apa? Perasaan ingin menyakiti istrimu lebih jauh lagi, nggak akan kakak biarkan itu" ucap Rania tidak terima
"Kakak, sebenarnya adekmu itu aku atau Thalita sih, segitunya banget, dan tolong jawab kenapa nggak ada satupun orang dirumah ini hubungi aku" ucap Bams emosi
"Lebih baik kakak nggak punya adek seperti kamu, dari pada punya adek tapi tak punya otak, dan untuk masalah menghubungi kamu cek ponsel kamu mungkin udah ratusan pangilan dari kami yang tidak kamu indahkan, benar-benar tidak berguna!" ucap Rania
"Nggak ada kak, pangilan yang aku terima hanya pas pada saat aku ningalin rumah ini aja selebihnya nggak ada" ucap Bams
"Asal elu tau, pada saat elu ninggalin rumah ini saat itu pula Batha deman tinggi dan dibawa kerumah sakit ia menadapatkan perawatan selama seminggu disana, dan elu tak pernah sekalipun berkunjung untuk menjenguknya" ucap Rania mengebu
"Apa?" tanya Bams kaget
"Nggak perlu pura-pura kaget kek gitu, Basi tau nggak sih?" sewot Thalita lalu meninggalkan Bams begitu saja
Kini Bams terpekur seorang diri, ia sangat menyesali kepergianya ia tidak menyangka kejadianya akan seperti ini.
__ADS_1
Tbc...
Jangan lupa like comment dan favorite agar author semangat