Bams Dan Thalita

Bams Dan Thalita
Siasat Celine


__ADS_3

Delapan hari sudah Thalita bersama Bams, meskipun belum ada kemajuan yang berarti pada hubungan mereka hal ini tak menyurutkan semangat Thalita untuk mendekati suaminya.Hari ini Thalita mengajak Bams ke Taman dimana mereka sering berkencan.Disaat mereka tengah asyik bersama tanpa mereka sadari seseorang menatap mereka dengan tatapan tidak suka.


"Pa...pa..pa" celoteh Batha


"Ya sayang!" ucap Bams, meskipun ia masih cuek pada Thalita namun Bams sangat sayang pada Batha, bahkan kini ia bisa merasakan rindu bila tidak melihat bocah itu.


"Halon...halon" kata Batha


"Sayang mau balon?" tanya Bams


"Au.." ucap bocah itu.


Bams lalu mengendong putranya dan membelikanya sebuah balon, melihat kedekatan Bams dan Batha hati Thalita kembali menghangat.


"Ya Tuhan....jangan kau ambil lagi kebahagiaanku" dalam hati Thalita terus berdoa.


Sementara itu Bams sepintas seperti melihat Celine, namun ia tak yakin itu Celine atau bukan.


"Itu Celine apa bukan sih, tapi nggak mungkin itu Celine, dia sudah janji sama aku akan percaya padaku nggak mungkin dia memata-matai aku" batin Bams


Hari itu adalah hari yang sangat istimewa bagi Thalita seharian ia menghabiskan waktu bersama Bams dan anak semata wayang mereka, malam ini Thalita akan menginap dirumah Rania, ia sangat bahagia meskipun tidak satu kamar dengan Bams setidaknya ia bisa satu rumah dengan Bams lagi, kini pasangan ini tengah bercengkrama dengan anak semata wayang mereka.


"Pa...pa.., ho bo ini!" kata Batha yang ingin bobok bersama Papanya


"Ok, apapun untuk kamu sayang!" ucap Bams


"Kalau begitu mama, kembali ke kamar mama ya, Sayangnya Mama, bobo sama papa dulu ya!" ucap Thalita ia ingin meninggalkan Bams dan Batha ia tidak ingin dikatai Bams mencuri kesempatan dalam kesempitan


"No...no..no, Mama ho bo cini uga!" ucap Batha yang membuat Thalita dan Bams kaget.


"Sayangnya Papa, kamukan udah sering bobok sama Mama, nah sekarang giliran kamu bobok sama Papa" ucap Bams yang sepertinya keberatan tidur bertiga.


"No..no Papa bobok belcama" ucap Batha dengan kedua tangan mengatup di depan dada, Bams tidak tega menolak keinginan anak itu, Anak itu terlihat sangat senang bisa tidur bareng kedua orang tuanya begitupun dengan Thalita tak henti-hentinya ia bersyukur, ini adalah moment-moment yang ia tunggu. Thalita membacakan dongeng untuk Batha dan Bams mendengarkan dengan seksama entah mengapa ia sangat menyukai situasi ini, tak berapa lama kemudian Batha tertidur lelap, Bams memperhatikan Thalita dengan seksama, dalam hatinya ia mulai tertarik dengan Thalita namun ia masih gengsi mengakuinya, Thalita yang merasa Bams terus memperhatikanya jadi salah tingkah.Melihat Thalita yang salah tingkah Bams jadi gemas sendiri, entah siapa yang memulai keduanya tiba-tiba berciuman dan ciumannya semakin lama semakin panas, tangan Bams hendak melepas kancing baju Thalita, Thalita hanya bisa pasrah ia juga sangat merindukan Bams, kancing bagian atas Thalita sudah terbuka dengan menampilkan dua gundukan besar yang membuat jakun Bams naik turun saat hendak membuka penutup gundukan itu tiba-tiba ponsel Bams berbunyi, mau tidak mau dia menghentikan aktifitasnya dan mengangkat telephonenya.


"Ya hallo Celine!" Bams membuka pembicaraan.


"Iya...iya gue akan segera kesana!" ucap Bams

__ADS_1


Thalita yang mendengar Bams menerima pangilan Celine dan sengaja menguping pembicaraan mereka dadanya bergemuruh, emosi,cemburu, kesal menyatu.Bams langsung merapikan Bajunya dan menyambar jacket yang ada didekatnya.


"Mau kemana kamu Bams!," tanya Thalita meskipun ia sudah tau akan kemana suaminya.


"Sorry, untuk yang tadi gue khilaf untung Celine menelphoneku kalau enggak pasti aku akan menyakiti Celine, dan sekarang gue mau pergi" ucap Bams


"Pergi kemana?" tanya Thalita, matanya mengembun


"Celine sakit, gue harus kesana, dia butuh gue, saat gue sakit dia selalu ada buat gue, sekarang gue akan kesana bagaimanapun dia adalah wanita yang aku cintai" ucap Bams


"Jleb" bagai Di tujuk ribuan panah kesejur tubuhnya, sakit dan perih itu yang Thalita rasakan


"Bams, kamu nggak boleh pergi!, kamu inget perjanjian kita bahkan ini belum ada satu bulan, kamu nggak boleh lupa itu" ucap Thalita berusaha menahan Bams


"Kamu ini jadi perempuan nggak punya hati, Celine itu sedang sakit!, dia butuh gue, MENGERTI" ucap Bams.


"Jangan coba-coba halangi gue, atau perjanjian kita batal" Bams mengancam Thalita dan langsung pergi begitu saja


Thalita tidak bisa berbuat apa-apa ia hanya menangis tergugu, meratapi kepergian suaminya ketempat perempuan lain, tak lama kemudian Rania mendatangi kamarnya.


"Tha, dimana Bams?" tanya Rania


"Tha, kenapa kamu ijinkan!, bukankah kalian punya perjanjian?" tanya Rania


"Kak, pelokor itu bilang lagi sakit dan Bams sangat kawatir, hik...hik..hik, sakit kak sakit" ucap Thalita


"Itu pasti akal-akalan perempuan itu, kamu susul dia dan bawa dokter Morgan kesana dia kan sakit butuhnya dokter bukan Bams" ucap Rania


"Kamu siap-siap Kakak hubungi dokter Morgan, jangan lupa dandan yang cantik jangan kalah sama pelakor dan jangan sampai kelihatan kamu habis nangis bisa besar kepala dia" ucap Rania yang ikut geram.


"Iya, makasih Kak" ucap Rania lalu melepaskan pelukannya dan ia berdandan habis-habisan, malam ini ia tanpak begitu cantik dan mempesona.


"Tha, ini alamat Appartemen Pelokor itu, dokter Morga sudah menunggu kamu dibawah, ingat kamu harus tegakkan kepalamu, kamu istri sah sedangkan dia hanya pelakor, ingat itu" ucap Rania menyemangati Iparnya.


Tak lama kemudian mobil yang ditumpangi Thalita dan dokter morga menyusul Bams dengan kecepatan penuh, Morgan adalah dokter kepercayaan keluarga Rania sekaligus sahabat Bams.


Sementara itu Celine tersenyum senang karena Bams sebentar lagi akan datang, ia sudah berakting sakit dan sudah berdandan hingga terkesan sangat pucat seperti orang yang sedang sakit.

__ADS_1


"Ah...akhirnya kamu datang juga sayang!" ucap Celine


"Sayang, kamu pucet banget, Ayo kedokter aku nggak mau kamu kenapa-napa" ucap Bams yang Khawatir


"Mampus gue!, kalau gue ke dokter bakalan ketauan kalau gue bohong"batin Celine


"Nggak perlu sayang, aku hanya butuh kamu" ucap Celine manja


"Maafkan aku Celine, tadi aku hampir khilaf" batin Bams yang merasa bersalah pada Celine


"Malam ini kamu temeni aku disini ya, aku nggak punya siapa-siapa disini, kakakku jauh dan Bryan sengaja aku titipkan pada kakak karena aku nggak bisa menjaganya karena lagi sakit" ucap Celine ia sengaja berkata seperti itu agar Bams merasa bersalah.


"Maafkan aku Celine, disaat kamu sakit begini aku nggak ada" ucap Bams penuh penyesalan


Tak lama kemudian terdengar bel berbunyi.


"Siapa itu sayang?" tanya Bams


"Biarin aja, nggak penting" ucap Celine


"Nggak bisa begitu dong!, mungkin itu kakak kamu, dia khawatir karena adeknya yang cantik ini lagi sakit" ucap Bams


"Nggak mungkin itu Kakak" ucap Celine begitu yakin.


"Bentar sayang, kubuakain takutnya kakak kamu, kasian pasti dia khawatir" ucap Bams, lalu melangkah untuk membukakan pintu


"Ihh...siapasih gangu aja" batin Celine kesal


"Ceklek" pintu dibuka dan betapa kagetnya Bams yang datang adalah Thalita dan seorang laki-laki tampan dan Thalita juga sangat terlihat cantik sekali, ada rasa entah apa namanya ia tidak dapat mengambarkan, hatinya nggak suka melihat Thalita bersama laki-laki lain.


"Ngapain kamu kesini?, mau pamer pacar kamu" ketus Bams


"Selamat Malam!" ucap Thalita langsung nyelonong masuk sambil mengandeng Morgan.


Dadanya Bams serasa sesak melihat pemandangan itu namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Hai...Celine, katanya kamu lagi sakit, aku datang untuk menjemputmu bersama dokter Morgan, dia ahli loh bahkan ia punya alat mendeteksi kebohongan loh" ucap Thalita menakut-nakuti Celine, Wajah Celine mendadak pucat.

__ADS_1


"Iya sayang, kamu harus diperiksa, kamu sakit nggak boleh nolak" ucap Bams yang sangat menghawatirkan Celine.


Hati Thalita sangat sakit mendengar ucapan Bams barusan, namun ia juga senang karena kebusukan Celina akan terbongkar sebentar lagi.


__ADS_2