
"Jadi selama ini Batha sakit?, dan aku nggak ada saat dia butuh papanya" guman Bams.
Menyesal itulah yang Bams rasakan sekarang meskipun belum sepenuhnya ingatanya pulih namun, ia mempuanyai ikatan batin yang kuat pada Batha, ia sempat mau menghubungi Thalita ingin menanyakan keadaan Batha namun, perempuan itu malah mengomporinya dan mengatakan kalau Thalita sedang berselingkuh dengan Morgan puncaknya ia mendapati Morgan dan Thalita dalam satu mobil bersama, ia mengira mereka habis jalan-jalan seperti yang dikatakan Celine.
Hari berikutnya Bams memutuskan untuk menemui Thalita dan meminta maaf pada wanita itu, semalam ia telah berperang melawan batinya, keputusanya pagi ini ia ingin menemui Thalita dan memulai semua dari awal ia sudah terlanjur kecewa dengan Celine yang ternyata membohonginya.
"Selamat pagi Bik, Ibu ada tanya Bams" pada Art Thalita
"Ada pak silahkan masuk" ucap Art tersebut. Bams langsung masuk ruang tamu ia sama ia melihat foto pernikahanya di pajang sangat besar di ruang tamu, di beberapa sisi diding juga tampak banyak sekali foto dirinya dan Thalita diberbagai moment.
"Apakah aku dulu secinta itu pada Thalita?" batin Bams mengamati satu persatu foto dirinya dan Thalita yang selalu mesra disetiap kesempatan.
"Udah lama Bams?" tanya Thalita dari kamar nampaknya wanita cantik itu sedang menidurkan putra semata wayangnya, Bams tersentak dari lamunanya dilihatnya wanita yang sudah hampir tiga bulan ini membersamainya, namun kali ini ia melihat hal yang berbeda dari tatapan Thalita, kalau biasanya ia terbiasa dengan melihat tatapan memuja dari Thalita kini ia tak lagi melihat itu, Thalita menatapnya bagai menatap orang asing.
"Tha...aku kesini" Bams menjeda kalimatnya, Thalita dengan seksama masih menunggu kata selanjutnya yang akan keluar dari mulut Bams.
"Aduh gimana ini? Bisa ge er kalau gue bilang minta maaf sama dia, tapi kalau nggak minta maaf rasanya ada yang menganjal" batin Bams yang masih berperang dengan egonya.
"Bams, jikalau kamu lupa apa yang ingin kamu sampaikan, pulanglah dulu kalau kau sudah ingat barulah kemari, karena aku juga harus kerja, anakku membutuhkan susu,diapers dan kebutuhan lainya yang harus aku penuhi seorang diri" ucap Thalita
"Jleb" ucapan Thalita sontak membuat Bams seperti tertimpa godam yang berat.
"Thalita maafkan aku?" akhinya kalimat itu keluar juga dari mulut Bams
"Maaf?, maaf untuk apa?" pancing Thalita.
"Maaf kemarin, aku tidak hadir pada saat Batha sakit" ucap Bams yang sontak membuat luka hati Thalita kembali menganganga, bagaimana ia tidak sakit hati suaminya memilih bersama wanita lain dari pada anaknya yang sedang sakit.
"Oh...itu, aku sudah memaafkanmu, sudahkan? Kamu sudah tidak ada kepentingan lagi?" tanya Thalita kemudian.
Bams cukup kaget melihat reaksi Thalita, bukannya makian dan kebencian yang ia dapat tapi sepertinya Thalita sudah tidak peduli lagi padanya, harusnya ia senang tapi mengapa hatinya tidak terima.
"Bolehkah aku ketemu Batha?" tanya Bams ragu-ragu
__ADS_1
"Kapanpun kamu boleh menemui dia, aku tidak akan memisahkanmu dengannya walau bagaimanapun kamu papa kandungnya" ucap Thalita, bagai angin segar di tegah panas menerpanya ucapan Thalita barusan.
"Terima kasih Tha" ucap Bams
"Tapi maaf, untuk pagi ini kamu tidak bisa menemuinya karena dia baru saja bobok , semalam dia rewel aku harap kamu mengerti" ucap Thalita.
Bams sangat kecewa karena ia tak dapat bertemu dengan bocah yang ia rindukan selama satu minggu ini.
"Dan satu lagi, kalau ingin bertemu anakku, maka harus sepengetahuanku!" ucap Thalita.
Bams cukup kaget dengan pernyataan Thalita, belum berhenti kagetnya ia sudag di kagetkan dengan kedatangan sebuah mobil di depan rumah Thalita.
"Sudah siap?" tanya Morgan, rupanya mobil itu adalah mobil Morgan yang hendak menjemput Thalita.
"Sebentar, kamu duluan nggak apa-apa, maaf tadi ada sedikit masalah" ucap Thalita.
"Semalam Batha bobok berapa?" tanya Morgan tampak begitu khawatir
"Hampir pagi, baru mau bobok" ucap Thalita singkat
"Yah...padahal kesini mau main dulu" ucap Morgan kecewa.
"Nanti sore kamu bisa datang lagi, semalaman dia nanyain kamu terus" ucap Thalita yang seolah tak peduli adanya Bams disitu
"Pulang kerja aku langsung kesini" ucap Morgan.
"Tha, biar aku aja yang antar kamu ke kantor, tidak baik diantar laki-laki asing"ucap Bams yang tidak suka dengan kehadiran Morgan
"Maaf, anda siapa? Dan Morgan bukan laki-laki asing dia selalu ada disaat kami butuh" ucap Thalita
"Jleb" ucapan Thalita langsung membungkam mulut Bams, secara agama dan Negara mereka memang suami istri tapi Bams sama sekali tidak mengenal Thalita bahkan merasa asing dengan istrinya itu.
"Aku jelas suamimu dimata Negara dan Agama" ucap Bams pada akhirnya.
__ADS_1
"Suami diatas kertas aja kok bangga" ejek Morgan
"Diem kamu!, kamu orang luar dan nggak berhak ikut campur dalam urusan rumah tangga saya" ucap Bams tidak terima
"Ok, Bapak Bamabang Suryo Atmaja yang terhormat, saat ini saya memang masih menjadi istri sah anda entah esuk" ucap Thalita lantang
"Apa maksud kamu?" tanya Bams yang tidak menyangka Thalita akan berkata demikian, Thalita yang biasanya selalu tersenyum, selalu menatapnya dengan penuh cinta, selalu sabar dengan setiap ucapan pedasnya, kini sudah tidak ada yang ada dihadapanya kini adalah sosok lain sosok wanita mandiri yang sama sekali tidak membutuhkanya.
"Maksud saya sudah jelas, tak perlu anda tanyakan kembali" ungkap Thalita
"Dengar ya Thalita, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikanmu!" ucap Bams lantang
"Kenapa?" tanya Thalita
Bams hanya diam ia tak bisa menjawab pertanyaan sederhana dari Thalita.
"Aku ingin kamu berjuang lagi untukku" ucap Bams pada akhirnya
"Maaf, saya sudah lelah dan menyerah, nyatanya semua usaha saya yang saya lakukan tak ada artinya dimatamu, buat apa saya teruskan?" ucap Thalita
"Mana Thalita yang selalu bilang akan menaklukanku dalam seratus hari, ini belum ada seratus hari kamu mau menyerah begitu" ucap Bams nampak begitu kecewa dengan keputusan Thalita.
"Maaf, sebagai laki-laki yang cerdas harusnya kamu faham dengan apa yang namanya menyerah, kalau kamu tidak bisa membahagiakanya maka akulah yang akan membahagiakanya" ucap Morgan
"Bugh..., brengsek!, kamu bilang aku sahabatmu, ini yang namanya sahabat, menikamku dari belakang" Bams meninju perut Morgan
"Bukan gue yang brengsek!, tapi elu yang brengsek, kalau saja elu tidak menyakitinya gue tetep dukung elu sebagai sahabat, tapi ini berulang kali kamu menyakitinya, sesuai janjiku padamu dulu maka aku yang akan ambil alih" ucap Morgan
"Bugh..." Bams kembali meninju wajah Morgan
Tbc...
Jangan lupa like comment dan favirite ygy
__ADS_1