
Happy reading 😊
☘️☘️☘️
" Adi kamu mau ikut Mbak ke toko roti Bu Sri?" tanya Farah kepada sepupunya itu.
" Tidak Mbak, aku mau ke sungai aja mancing. Nanti kalau dapat ikan Mbak Farah yang masak yah." jawab Adi.
" Siap, aku tunggu. Hati-hati kalau mancing di sungai." perintah Farah kepada sepupunya itu yang sudah dia anggap seperti adik kandungnya sendiri.
" Siap Bos ku!" jawab Adi lalu meninggalkan lokasi pembangunan rumah sakit gratis.
Farah pun menuju toko roti Bu Sri yaitu toko roti jadul dan satu-satunya di Desa ini. Sesampainya di sana Farah melihat ada roti isi selai cokelat yang baru matang.
" Wah itu pasti nikmat sekali, itu bukan pesanan orang Bu?" tanya Farah.
" Tidak Nak, Ini Ibu rencananya mau kasih ke kamu buat ucapan terima kasih soalnya Fakhri sudah kamu bantuin supaya bisa kerja di perusahaan yang besar." jawab Bu Sri dengan tulus.
" Itu karena Fakhri memang anaknya cerdas Bu, aku cuma ngusulin ke perusahaanya saja." ucap Farah.
" Kalau begitu ini kamu makan roti kesukaanmu." perintah Bu Sri yang menyerahkan roti isi coklat yang begitu menggugah selera kepada Farah.
" Tapi, aku bayar yah?" tanya Farah.
" Inikan hadiah, jadi tidak boleh di bayar." jawab Bu Sri.
" Huh! percuma debat dengan Bu Sri Mah. Kalau begitu aku beli roti tawar rasa pandan dua bungkus soalnya persedian di rumah sudah habis." ucap Farah.
" Siap." Jawab Bu Sri.
Ketika Farah sedang menyantap roti isi cokelat dengan secangkir teh di meja dapur Bu Sri, tiba-tiba ada panggilan suara telefon masuk.
" Kala ku pandang kerlip bintang nun jauh di sana....." bunyi panggilan telefon milik Bu Sri.
" Update juga ternyata Bu Sri." gumam Farah sambil senyum-senyum sendiri yang mendengar bunyi suara panggilan telefon milik Bu Sri.
Bu Sri yang tadi asik menguleni adonan roti pun berhenti melanjutkannya karena ada panggilan telefon masuk.
" Nak Farah, yang telepon Fakhri." ucap Bu Sri dengan wajah yang begitu sumringah.
" Angkat Bu." jawab Farah yang juga merasa bahagia.
__ADS_1
📞 Mode telefon On
"Assalamualaikum Buk." salam Fakhri.
" Waalaikumsalam Nak, bagaimana keadaanmu?" tanya Bu Sri kepada anaknya.
" Aku baik-baik saja. Ibu juga bagaimana
keadaanya?" tanya Fakhri balik.
" Ibu mah baik, di sini juga ada Mbak Farah. Ibu besarkan dulu volumenya." jawab Bu Sri yang mengubah mode volume telefon.
" Mbak Farah makasih yah, udah bantuin aku Sekarang Bosnya baru Mbak, anaknya yang punya perusahaan. Dan beliau juga punya perusahaan baru yang sangat maju. Tapi, Boss barunya galak banget orangnya." ucap Fakhri dengan antusias
" Sama-sama. Kamu semangat kerjanya." jawab Farah dengan sedikit terkejut mendengar cerita dari Fakhri.
📞 Mode telefon Off
Bu Sri masih melanjutkan telefon dan bersama Fakhri sedangkan Farah pamit pulang karena terpikirkan oleh sesuatu.
Sesampainya di rumah Farah langsung menuju kamarnya dan membuka lemari bajunya lalu mengambil sebuah figura yang terdapat foto seorang remaja laki-laki yang selama ini selalu ia simpan.
" Apakah yang di bilang Fakhri itu adalah kamu Dam?" gumam Farah seorang diri.
" Ibu dan Abang juga tidak menghubungiku kalau Adam sudah kembali. Selama ini kalau aku bertemu Pak Wijaya dan Bu Erna mereka juga tidak pernah membahas tentang Adam. Kami hanya membahas tentang pekerjaan saja." gumam Farah.
" Apakah pertunangan ini di batalkan? atau Adam mencintai seseorang. Karena dulu saat Adam melamar ku, kami masih remaja yang labil. Apa aku terlalu berharap padanya selama ini." gumam Farah yang mulai meneteskan air mata.
" Huh! tenang Farah. Kamu kuat, cobalah berpikir positif. Jangan jadi wanita lemah pasti Adam tidak akan berubah dan masih seperti dulu. Sebaiknya aku sholat dulu." gumam Farah yang menyemangati dirinya sendiri.
...****************...
Adi mendapatkan ikan gurame dari hasil pancingannya dan kemudian menuju rumah Farah untuk meminta di masak kan ikan hasil tangkapannya tersebut.
" Assalamualaikum." salam Adi
" Waalaikumsalam." jawab Bibi Ani yang sedang menonton televisi.
" Ya Allah, Adi kamu bawa apa itu?" tanya Bibi Ani yang melihat ponakannya sedang membawa ember dan pancingan.
" Ini aku dapat ikan gurame mau minta di masakin sama Mbak Farah. Terus nanti aku panggil Ayah sama Ibuku buat kesini dan makan rame-rame." jawab Adi.
__ADS_1
" Wah ide bagus itu, Bibi juga tadi buat kue lapis banyak. Tapi, belum sempat kasih ke Ibumu." tambah Bibi Ani.
Bibi Ani adalah saudara kandung Ayahnya Farah dan Pak Kades yaitu Ayahnya Adi. Ayahnya Farah merupakan anak sulung, Bibi Ani anak kedua, sedangkan Pak Kades adalah anak bungsu. Jadi, mereka adalah tiga bersaudara.
Ayahnya Farah menikah dengan orang kota yaitu Ibunya Farah dan mempunyai dua orang anak yaitu Abang Zian dan Farah. Sedangkan Bibi Ani menikah dengan seorang tentara yang pernah datang ke desanya untuk melaksanakan tugas. Akan tetapi, saat menjalankan tugas di pulau tersembunyi suami Bibi Ani gugur dalam peperangan dan Bibi Ani sampai sekarang tidak mau pernah menikah lagi karena di hatinya hanya ada satu orang yang paling ia cintai meskipun orang tersebut sudah tiada dan tidak ada lagi di sisinya. Dan yang terakhir adalah Pak Kades, Pak Kades menikah dengan seorang wanita yang berasal dari desa yang sama dan mempunyai seorang anak tunggal yaitu Adi.
...****************...
Farah yang sedang membaca berkas-berkas di kamarnya tiba-tiba terkejut karena ada suara ketukan pintu dari kamarnya yang begitu keras. Ternyata yang mengetuk pintu kamarnya adalah Adi yang menyuruhnya untuk memasak Ikan hasil tangkapan memancing.
Farah pun memasak ikan gurame yang di olah menjadi pecak. Tidak butuh waktu lama akhirnya pecak ikan gurame sudah jadi dan sangat menggugah selera.
" Heem so yummy. Duh nggak sabar banget deh buat makan." ucap Adi.
" Ayok Kita makan, Ayah sama Ibumu belum datang?" tanya Farah.
" Sudah dari tadi, tapi bagianku harus banyak sendiri yah? Soalnya ikannya aku yang mancing." tanya Adi.
" Terserah kamu hehehe." jawab Farah.
Mereka pun makan pecak ikan gurame dengan lahap karena masakan Farah begitu nikmat. Tidak lupa juga kue lapis buatan Bibi Ani juga ludes.
Farah yang melihat kebersamaan keluarga dari Ayahnya sangat bahagia karena kalau di kota Ibunya sibuk di warung dan Abangnya harus bekerja di bengkel milik keluarga. Tapi, Kerja keras Ibu dan Abangnya itu hanya untuk Farah.
" Farah kamu kapan ke kota lagi udah tiga bulan kamu nggak ke sana?" tanya Pak Kades.
" Rencananya besok lusa Paman." jawab Farah.
" Aku ikut dong Mbak sekalian liburan." bujuk Adi dengan wajah memelas.
" Kamu kan sekolah?" tanya Farah kepada Adi.
" Mulai besok sudah libur semester. Ajak yah yah." bujuk Adi lagi.
" Kalau Mbak Farah sih mau aja ajak kamu. Tapi kamu harus minta izin dulu sama Paman dan Bibi." jawab Farah.
Adi pun memberi kode kepada kedua orang tuanya untuk memberi persetujuan. Pak Kades dan istrinya menyetujui bahwa Adi boleh ikut bersama Farah ke kota karena selama ini saat Farah berkunjung ke kota Adi selalu ingin ikut tapi tidak di ijinkan oleh Pak Kades karena usia Adi masih kecil akan tetapi sekarang Adi sudah SMA.
" Adi kamu harus siap-siap, nanti kalau di kota Mbak Farah janji bakal bawah kamu keliling kota." ucap Farah.
__ADS_1
" Terimakasih Mbak Farah cantik. Tidak sabar aku melihat yang namanya Mall." jawab Adi.
...****************...