Beautiful Revenge Istri Yang Di Lenyapkan

Beautiful Revenge Istri Yang Di Lenyapkan
Bab 10


__ADS_3

"Sudah bertemu dan bicara pada papamu, apa itu membuatmu tenang sekarang?" tanya Darren yang menghampiri Angel yang sedang berdiri sendirian di balkon lantai dua.


Angel langsung mengangguk dengan cepat.


"Sangat lebih baik, terimakasih banyak kak. Kamu sangat baik!" kata Angel.


Dan Darren sepertinya biasanya tak pernah banyak bicara dan hanya mengangguk saja.


"Tapi.. apa boleh aku tahu, kenapa kamu mau membantu aku sampai seperti ini. Aku tahu kamu pasti membayar harga yang begitu mahal untuk operasi ku, dan semua rencanamu ini. Apa kamu menginginkan perusahaan papaku?" tanya Angel yang merasa kalau mungkin saja ada hal yang Darren inginkan untuk semua bentukannya ini.


Tapi mendengar pertanyaan yang di ajukan oleh Angel. Darren malah tersenyum getir.


"Apa menurutmu tidak akan ada orang yang akan membantu seseorang karena memang dirinya tulus hanya ingin membantu?" tanya Darren pada Angel.


Angel tampak diam, selain papanya dia benar-benar tidak bisa mempercayai siapapun sekarang ini.


"Kamu benar, mungkin memang tidak ada yang seperti itu. Tapi aku benar-benar hanya ingin membantumu karena kamu adalah senior ku dulu, dan adikku juga adalah korban suami seperti suamimu itu. Saat itu aku sama sekali tidak bisa menolong adikku. Sekarang aku berharap aku bisa menolong mu. Hanya itu!" kata Darren dengan ekspresi datar.


Tak mau menyinggung Darren, Angel pun mengangguk paham.


"Nanti malam kita akan bertemu dengan suamimu, sebaiknya kamu siapkan dirimu. Mungkin kamu harus lebih dekat dengannya, untuk mencari bukti kalau mereka yang telah melenyapkan Eva!" kata Darren lagi.


"Baik, aku mengerti. Aku akan ke kamarku untuk ganti baju. Kita akan berangkat sebentar lagi kan?" tanya Angel.


Darren pun mengangguk. Ketika Angel akan berjalan ke kamarnya, angin bertiup lumayan kencang, membuat rambutnya terbang menutup mata dan dia sedikit kehilangan keseimbangannya.


Grep


Untung saja Darren menangkap Angel ketika dia akan terjatuh. Darren menangkap pinggang dan punggung Angel. Kedua pasang mata itu saling bertatap.


Angel melihat tatapan dalam manik mata coklat kehijauan milik Darren. Membuatnya seperti hanyut dalam pusaran air yang begitu dalam. Sangat dalam. Tatapan itu tatapan seseorang yang sangat kesepian di dalam hidupnya.


"Tuan...maaf!" kata salah satu pelayan.


Angel langsung berdiri dan menyeimbangkan posisinya.


"Ada apa?" tanya Darren.

__ADS_1


"Ada telepon dari perusahaan tuan, dari tuan Abigail!" kata pelayan itu.


"Baiklah, sambungkan ke ruang kerjaku!" kata Darren yang langsung meninggalkan Angel.


Langkah kaki yang begitu terburu-buru namun dengan irama yang begitu mengintimidasi. Angel bahkan memegang dadanya, jantungnya sudah seperti mau copot tadi, saat Darren mantapnya seperti itu.


"Ya ampun, perasaan ini. Rasanya jantungku mau mencelos keluar. Damage tatapan Kak Darren benar-benar mengerikan!" gumam Angel menuju kamarnya.


Di kediaman William Mukhtar, sejak mengetahui Angel dan kakaknya akan datang ke pengajian 40 hari peringatan meninggalnya Eva.


Sejak tadi Kevin terlihat sangat sibuk menjadi penerima tamu. Padahal di acara sebelum-sebelumnya dia sibuk menangis sambil membaca doa di tempat yang semua orang bisa melihatnya, di ruang tengah.


Tapi kali ini dia tampak ramah pada semua orang yang mempersilahkan tamu-tamu masuk dengan senang hati.


"Mas, apa yang kamu lakukan di sini? seharusnya kamu di dalam, lalu berakting sedih seperti kemarin-kemarin!" tegur Vanya yang juga datang ke tempat itu bersama dengan Marta.


"Vanya, ini sudah 40 hari. Sepertinya akting seperti itu malah akan mencurigakan. Papa mertuaku saja sudah mulai bisa menerima kenyataan, dan dia sudah mulai pergi keluar rumah. Akan aneh kalau aku masih terus menangis dan tidak menyapa para tamu!" kata Kevin.


"Terserah!" kata Vanya yang tak mau berdebat.


Vanya lalu masuk ke dalam, dan tak lama dari kepergian Vanya. Terlihat sebuah mobil yang begitu mewah di persilahkan untuk masuk dan parkir di pekarangan rumah besar William Mukhtar.


Dari bagian lagi mobil itu juga keluar seorang pria yang tubuhnya tegap, kekar dan tampan karena punya wajah blasteran. Buluu tebal yang tumbuh di sekitar rahang dan dagunya membuat semua orang melihat ke arahnya karena kehadirannya di tempat itu memang memancing perhatian semua orang.


"Bukankah itu keluarga Nickolay!"


"Benar, aku dengar mereka sudah pindah ke luar negeri!"


"Keluarga Nickolay kembali lagi!"


Beberapa pebisnis senior pasti mengenal Darren Nickolay. Wajahnya selalu muncul di surat kabar dan media massa pada jamannya.


Kevin terlihat senang atas kehadiran Angel, dia baru saja akan menghampiri wanita yang sedang mengganggu pikirannya sejak kemunculannya di hadapan Kevin itu. Tapi ternyata dia kalah start.


"Angel, kamu juga datang kemari?" tanya Justin yang lebih dulu menghampiri dan menyapa Angel.


Kevin menghentikan langkahnya, dia tampak kesal karena Justin mendahuluinya.

__ADS_1


"Siapa dia, Angel?" tanya Darren.


"Kak, dia Justin. CEO perusahaan periklanan yang bekerja sama dengan perusahaan paman William Mukhtar!" jelas Angel.


"Ah, dia kakakmu. Artinya ini adalah tuan Darren Nickolay, satu-satunya pewaris Nickolay Construction. Senang bisa bertemu denganmu tuan!" kata Justin yang mengulurkan tangannya pada Darren.


Darren pun tersenyum ramah dan membalas uluran tangan Justin.


"Kita sebenarnya tetangga tuan Nickolay, aku juga tunggal Di Rosella Residen!" kata Justin yang memang terlihat sangat mudah mengakrabkan diri dengan orang yang baru dia kenal.


"Benarkah, kalau begitu kapan-kapan kita bisa main golf bersama!" kata Darren.


"Tentu saja, apakah Angel suka main golf juga?" tanya Justin.


"Tentu saja!" kata Darren.


"Selamat datang tuan Darren, terimakasih sudah hadir. Kalau Angel suka golf, perusahaan Mukhtar punya lapangan golf pribadi di kota Mada. Kita juga bisa syuting di sana untuk pengambilan gambar iklannya kan?" tanya Kevin pada Justin.


"Sejujurnya aku tidak suka yang free Kevin, aku sudah bilang aku yang akan mendanai iklan ini. Jadi kita bisa pakai lapangan golf di Rosella Residen saja!" kata Justin.


"Dimana paman William?" tangan Angel yang tidak senang dengan obrolan kedua pria di depannya itu.


"Di dalam, aku akan tunjukkan!" kata Kevin yang langsung mempersilahkan Angel dan Darren ke ruang tengah untuk bertemu dengan William Mukhtar.


Dari jauh, Vanya melihat Kevin yang terlihat terus memandangi ke arah Angel terus.


Setelah Kevin mengangkat Angel dan Darren, di dekat tempat duduk William Mukhtar. Vanya minta ijin untuk bicara dengan Kevin.


Saat itulah Darren juga minta ijin ke toilet pada William Mukhtar.


Di dekat dapur, di balik dinding menuju kolam renang. Vanya terlihat kesal pada Kevin.


"Mas, awas saja kamu berpaling pada wanita itu ya. Aku sudah susah payah merayu dokter tuan William untuk mengganti obat, kamu keterlaluan sekali kalau malah berpaling pada wanita itu!" kata Vanya.


'Benar-benar manusia licik tidak punya harga diri. Mereka benar-benar melakukan segala cara untuk mendapat harta dan kekuasaan!' batin Darren yang mendengar percakapan itu.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2