
Ponsel Angel berbunyi, itu adalah bunyi notifikasi pesan dari Darren yang memang sedang mencari tahu tentang keadaan papanya Angel. Di pesan itu, Darren mengatakan kalau William Mukhtar sedang berada di makam Eva Tatiana. Makam dimana jasad orang lain yang di ambil dari rumah sakit, korban kebakaran yang di ambil dari rumah sakit oleh Vanya, tentu saja dengan beberapa belas juta rupiah.
Membaca pesan itu, artinya Angel memang harus secepatnya kesana.
"Em, tuan Kevin...!"
"Seperti kamu memanggil Justin dengan nama, kamu juga bisa memanggilku dengan nama Angel!" kata Kevin yang sepertinya sudah benar-benar tertarik dan terjerat pada pesona Angel.
"Baiklah, Kevin. Aku harus pergi sekarang, bagaimana kalau besok aku datang lagi untuk tanda tangan kontrak itu. Bisa kan?" tanya Angel.
"Kamu sangat terburu-buru sepertinya? mau aku antar?" tanya Kevin menawarkan bantuan.
'Oh astaga, apa dia benar-benar tidak punya pekerjaan. Dasar, dulu saja berangkat pagi pulang larut malam katanya sibuk, ternyata tidak punya pekerjaan di kantor. Benar-benar pria brengsekk!' batin Angel yang kesal pada Kevin.
"Tidak perlu, aku akan naik taksi saja. Permisi!" kata Angel yang memang merasa sangat gerah berada di dekat Kevin lama-lama.
Angel lalu memesan sebuah taksi online dan pergi ke makam itu. Di sana dia menghampiri Darren yang sudah berada di dalam mobil dan mengirim lokasinya pada Angel.
Begitu Angel membuka pintu mobil. Darren memberikan sebuah paper bag pada Angel.
"Gunakan itu dan berpura-pura sajalah mengunjungi makam teman kita. Siapapun namanya, cari yang usianya seumuran kita. Bisa kan? aku akan tinggalkan mobil ini, sementara akan ada orang yang mencuri mobil tuan William Mukhtar. Bantu dia dan antar ke rumahnya. Hari ini adalah peringatan empat puluh hari meninggalnya Eva Tatiana, kamu bisa dekat dengan papamu dengan rencana ini!" kata Darren.
Angel tak bisa berkata-kata. Tadinya dia hanya bilang pada Darren ingin melihat papanya dari jauh. Itu sudah sangat membahagiakan untuknya, tapi Darren merencanakan semua ini sehingga dia bisa berada dekat papanya dan bicara pada papa ya. Itu benar-benar sangat membahagiakan untuknya. Sampai dia tidak bisa berkata-kata.
Begitu Darren keluar, Angel mengganti pakaiannya menjadi lebih sopan. Angel segera pergi ke makam yang ada di dekat William Mukhtar.
Mencari makam yang usianya tak jauh darinya. Kaca mata hitam yang di pakai angel membuat arah pandangannya tersamarkan. Dia seolah melihat ke makam di depannya tapi sebenarnya dia memperhatikan dan melihat papanya yang tengah menangis di depan makam yang baru nisannya bertuliskan namanya.
'Pa, ini aku pa. Ini Eva anak papa, aku masih hidup pa!' batin Angel yang matanya berkaca-kaca.
"Eva... papa rindu. Papa sangat rindu padamu nak!" lirih pria yang usianya sudah lebih dari paruh baya itu.
"Papa sudah kehilangan mama kamu, sekarang kamu juga pergi nak. Papa sendirian...!"
__ADS_1
William Mukhtar mengusap wajahnya, mengusap air mata yang mengalir di wajah tua dan lelahnya itu.
Air mata Angel juga mengalir, ingin rasanya dia memeluk papanya. Tapi sekarang belum waktunya. Perusahaan berada di bawah kepemimpinan Kevin, bisa-bisa semua kerja keras papanya itu akan di ambil paksa oleh Kevin. Seperti Darren bilang, orang yang licik macam Kevin. Tak pernah bisa di tebak, hal nekat apa yang bisa dia lakukan.
Angel lantas berdiri, mengambil tissue yang ada di dalam tasnya. Kemudian melangkah menghampiri papanya yang tengah menangis. Di belakangnya ada asisten pribadi William Mukhtar, tapi bukan paman Viktor. Mungkin orang itu bahkan adalah orang suruhan Kevin, orang Kevin yang di pekerjakan untuk menjaga atau bahkan mungkin sebenarnya lebih ke untuk mengawasi William Mukhtar.
"Paman, aku punya tissue. Ambilah, untuk menyeka air mata paman!" kata Angel dengan lembut.
William Mukhtar menoleh, suara yang begitu mirip dengan suara Eva. William Mukhtar bahkan termangu untuk sesaat. Tapi dia sadar kalau yang di depannya itu bukanlah Eva.
William Mukhtar meraih tissue dari tangan Angel dan menggunakannya.
"Terimakasih nak!" kata William Mukhtar.
"Anak paman ya? dia meninggal masih sangat muda, apa dia sakit?" tanya Angel.
"Eva dia, dia meninggal karena kecelakaan. Baru 40 hari yang lalu!"
"Tuan, pencuri!" teriak supir itu.
Asisten William Mukhtar langsung berlari ke arah mobil William Mukhtar tapi mobil itu langsung di bawa pergi sangat cepat. Di kemudikan dengan sangat cepat.
"Ya Tuhan...!" keluh William Mukhtar.
"Kenapa bisa ada pencuri di tempat seperti ini, sungguh keterlaluan!" kata Angel terlihat terkejut bukan main.
William Mukhtar tampak ingin berdiri, tapi dia sedikit kesulitan. Angel pun segera membantu William Mukhtar.
"Terimakasih nak, maaf paman merepotkan mu!" kata William Mukhtar.
"Tidak paman, aku Angel. Aku baru datang ke negara ini kemarin. Senang bisa membantu paman!" kata Angel mengenalkan dirinya.
"Begitu ya, darimana asal kamu?" tanya William Mukhtar.
__ADS_1
"Jerman paman!" jawab Angel cepat.
Asisten William Mukhtar dan supirnya lantas berlari menghampiri William Mukhtar dan Angel dengan tersengal-sengal.
"Maaf tuan, tidak terkejar. Aku akan telepon supir lain untuk membawakan mobil kemari, kami akan lapor pada polisi secepatnya!" kata asisten William Mukhtar yang tak pernah di kenal oleh Angel sebelumnya itu.
"Paman, bagaimana kalau aku antar saja. Kebetulan aku tidak punya agenda apapun hari ini. Boleh ya paman?" tanya Angel.
Mendengar tawaran Angel, William Mukhtar tersenyum. Menurut William Mukhtar, wanita di depannya itu benar-benar sangat mirip dengan Eva.
"Jika tidak merepotkan mu nak!" kata William Mukhtar.
Angel menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tentu saja tidak paman. Mari!" kata Angel yang mengajak William Mukhtar dan kedua asisten dan juga supirnya menuju ke arah mobilnya.
Dari mobilnya saja, William Mukhtar pikir Angel itu pasti bukan berasal dari keluarga main-main.
"Pak supir, kamu saja yang mengemudi. Paman silahkan!" kata Angel yang membukakan pintu mobil untuk William Mukhtar dan memberikan kuncinya pada supir.
Selama perjalanan Angel terus berusaha mengajak William Mukhtar bicara karena papanya itu terlihat sangat sedih.
"Seperti apa Eva, paman?" tanya Angel.
"Eva itu sangat pendiam, pemalu, tapi dia punya suami yang begitu baik. Begitu mencintainya dan sangat dia cintai. Dia meninggal, karena... karena ingin memberi kejutan untuk suaminya!" kata William Mukhtar yang kembali menunduk sedih.
Angel langsung mengusap tangan William Mukhtar. Menepuknya perlahan, cara yang sama yang selalu Eva lakukan untuk menghibur papanya. Mendapat perlakuan itu, William Mukhtar semakin sedih.
'Angel, kenapa suara dan sikapnya sama seperti Eva!' batin William Mukhtar.
***
Bersambung...
__ADS_1