
Mendapatkan laporan dari Jason, Darren tentu saja sangat kesal dan marah. Dia segera pergi menemui adik tirinya itu di perusahaan dimana Luke bekerja saat ini sebagai seorang CEO. Tentu saja dia menjual nama Nickolay.
Brakkkk
Pintu ruangan CEO perusahaan Luke di dobrak dengan keras. Bukan dua anak buah Darren yang melakukannya. Tapi Darren sendiri yang menendang pintu itu dengan kesal.
Semua yang ada di dalam ruangan itu, termasuk seorah klien yang baru saja datang untuk menandatangani kerja sama tampak terkejut dan langsung berdiri.
"Tuan Darren" ucap klien itu yang mengenal Darren.
Darren menoleh ke arah orang yang mengenalnya tersebut.
"Tuan Samsudin, sebaiknya anda pergi sekarang" kata Darren.
Pria tua itu mengangguk paham dan langsung meninggalkan ruangan itu dengan sekertaris nya dengan buru-buru.
"Ck... mengganggu saja. Kenapa kakak tiriku sayang? apa kamu sangat merindukan ku sampai tidak sabar aku menghampiri mu, dan kamu datang menghampiri ku?" tanya Luke dengan wajah mengejek ke arah Darren.
Darren langsung tersenyum miring.
"Menjijikan! kamu dan ibumu sama-sama menjijikan..."
"Jangan bawa-bawa ibuku!" sela Luke memekik.
Mata Darren melebar dan menggebrak meja kerja Luke.
Brakkkk
"Kalau begitu jangan ganggu istriku!" pekik Darren tak kalah garang.
Williana dan Oscar sampai mundur ke arah belakang karena teriakan Darren yang begitu mengejutkan mereka.
Tapi Luke kembali terkekeh.
"Jadi benar, kamu sangat mencintai istrimu itu. Darimana kamu dapatkan wanita cantik seperti itu, dia bukan hanya cantik, aku rasa dia pasti sangat terampil di atas ranjang..."
Bughhh
Sebuah pukulan keras mendarat di wajah Luke. Padahal Darren berada di seberang meja kerja, mereka berdiri berhadapan tapi terpisah oleh meja kerja Luke.
__ADS_1
Namun karena sangat emosi, tangan Darren bahkan bisa menjangkau wajah adik tirinya itu entah bagaimana hal itu bisa terjadi. Karena memang kejadiannya sangat cepat sekali.
Luke meringis kesakitan, bahkan dari salah satu lubang hidungnya keluar cairan merah, menunjukkan betapa kerasnya pukulan Darren tadi.
"Ini peringatan pertama dan terakhir dariku, jika kamu mengganggu istriku. Aku habisi kamu" kata Darren yang langsung berbalik dan meninggalkan Luke bersama Jason dan Erick.
Oscar langsung mendekat ke arah Luke, begitu juga Williana.
"Tuan..."
"Jangan sentuh aku, kita lihat saja. Apa istrinya itu akan meninggalkannya atau tidak, sombong sekali dia" kesal Luke.
Keesokan harinya, Luke yang tidak mendengarkan sama sekali apa yang di peringatkan oleh Darren kembali menemui Eva di kampus. Dengan alasan ingin menyiapkan jadwal kunjungan, Eva di pertemukan dengan Luke di ruangan khusus menerima tamu di samping ruangan rektor.
"Apa pukulan suamiku kurang membuat otakmu waras?" tanya Eva sambil melipat tangannya di depan dada.
Luke terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh kakak iparnya itu.
"Dia menceritakannya padamu, benar-benar pria sejati ya? mengadukan tindakan semacam itu pada istrinya. Tidakkah kamu pikir suamimu itu terlalu picik?" tanya Luke yang mencoba memprovokasi Eva.
"Yang picik itu kamu tuan Luke, kenapa terus berusaha menabur garam di luka suamiku. Kamu tahu, betapa sulitnya dia melupakan masa lalunya. Awalnya keluarganya sangat bahagia, sampai ibumu datang merayu ayahnya dan hadirlah kamu, apa kamu tidak sadar, kalau ayah Darren dan ibumu bahkan tidak pernah menikah, itu artinya apa? ayah Darren tidak pernah mencintai ibumu, tidak ingin memberi ibumu status yang hanya ingin dia berikan pada ibu Darren. Darren sudah tidak pernah mengusik mu, dia tidak mempermasalahkan kamu menjual nama keluarga Nickolay, tolong jangan ganggu kebahagiaan suamiku..."
"Menurutmu bagaimana seorang anak bisa hadir di rahim seorang ibu tanpa adanya hubungan, ayahku menginginkan ibuku. Karena itu bisa ada aku, kamu mungkin percaya dengan semua cerita karangan Darren, tapi aku tidak!" tegas Luke.
Eva langsung keluar dari ruangan itu, menurutnya percuma saja bicara panjang lebar untuk menjelaskan semua yang terjadi sebenarnya pada Luke.
Darren yang mendapat laporan dari Jason tangan memang selalu menjaga dan mengawasi Eva, langsung pergi ke kampus ketika mendengar Luke kembali membuat ulah. Darren dan Luke terlibat pertengkaran lagi.
Satu buah pukulan mendarat lagi di wajah Luke yang memang bebal dan membuat Darren kesal.
"Aku akan menghabisimu kalau kamu tidak berhenti mengganggu istriku, aku sudah cukup lama diam Luke. Sebaiknya kita urusi urusan kita masing-masing..."
"Cih, aku tidak akan pernah berhenti mengganggu hidupmu, karena semua yang kamu miliki harusnya adalah milikku"
"Dasar tidak tahu malu..."
"Kenapa kamu tidak mati saja dengan adikmu itu, aku yang sudah membayar orang untuk membuat adikmu depresi, seharusnya kamu juga mati bersamanya" teriak Luke.
Darren terdiam mematung, kepalan tangannya tidak mendarat di wajah Luke. Tapi malah terjatuh lagi ke tempat semula.
__ADS_1
Darren ingat bagaimana dia, dengan mata kepalanya sendiri melihat adiknya mengakhiri hidupnya karena pria yang sangat dia cintai mengkhianatinya. Dan itu adalah ulah Luke.
Jason yang panik langsung memanggil Eva.
Darren yang sudah kembali pada kesadarannya langsung meraih pistol yang ada di selipan jaket Jason dan mengarahkannya pada Luke.
"Tuan sebaiknya kita pergi?" kata Oscar yang memang tidak membawa senjata saat itu. Karena di kampus dia tidak bawa senjata, senjatanya ada di dalam mobilnya.
Luke yang melihat nyawanya terancam pun pergi dengan Oscar. Eva menahan tangan Darren agar jangan menembak Luke.
"Hubby, hentikan. Jangan lakukan ini!" kata Eva memeluk Darren dengan erat.
"Jason, ambil senjatanya" kata Eva lagi dan Jason langsung mengambil senjata itu dari Darren.
"Dia yang membuat adikku tiada Eva, anak dan ibu itu. Mereka menghancurkan keluarga ku" lirih Darren di pelukan Eva.
Namun tak lama berselang dari itu, terdengar suara benturan keras. Dan banyak orang yang berlarian.
Jason yang melihat itu sangat terkejut, ternyata mobil yang di kendarai oleh Luke dan anak buahnya meledak.
"Apa?" tanya Eva terkejut.
"Benar nyonya, mobilnya hangus terbakar. Ada yang memasang bahan peledak di mobil itu saat tuan Luke tidak di sana" jelas Jason.
Dan setelah di selidiki ternyata itu adalah ulah rival Luke dari luar negeri yang sangat membencinya.
Darren dan Eva yang menonton berita itu beberapa hari setelahnya hanya bisa menghela nafas lega.
Darren bersyukur Eva menghentikan dirinya saat akan menembak Luke.
"Untung saja kamu menghentikan aku sayang, kalau tidak mungkin saat ini aku akan ada di penjara bukan di sampingmu" kata Darren setelah pikirannya tenang dan terbuka.
"Iya hubby, percayalah. Tidak akan ada manusia yang akan bisa bebas dari perbuatan jahatnya" kata Eva.
"Kamu benar!" kata Darren memeluk Eva dan begitu erat.
***
TAMAT
__ADS_1