
Kevin segera datang ke rumah sakit. Dan tentu saja dia langsung mulai drama anak yang begitu berbakti dan khawatir pada mamanya. Meskipun sebenarnya Kevin juga tahu kalau ibunya berpura-pura.
Setelah semua drama itu, Kevin mengajak Angel ke rumahnya. Untung saja Vanya sudah berangkat kerja. Di dalam kamarnya, Marta menyentuh tangan Angel.
Rasanya Angel ingin menepis tangan itu, tangan wanita yang sebenarnya sangat di hormati. Dia menyayangi Marta seperti ibunya sendiri, memberikan apapun yang Marta mau. Tapi ternyata Marta juga bersekongkol menipu dan membodohinya. Membohonginya dan memperalat dirinya selama uji. Makan masakan dari Eva saja, kata Marta sangat menjijikan di belakangnya. Itu benar-benar membuat Eva merasa sakit luar biasa di dalam hatinya.
Tapi yang sekarang berada di depan Marta adalah Angel. Angel memasang wajah tersenyum, meski sebenarnya di dalam hatinya dia begitu kesal pada Marta.
"Nak, pergilah dengan Kevin. Dia sudah menyiapkan sesuatu yang istimewa untukmu. Makan siang yang romantis katanya!" kata Marta sambil tersenyum.
Angel pun menoleh kearah Kevin yang terlihat tersipu. Wajahnya benar-benar innocent, siapa yang mengira pria tampan berwajah innocent itu ternyata adalah seorang suami yang telah melenyapkan istrinya sendiri.
"Tapi Tante, kak Darren pasti akan marah...!"
"Tolong beri aku satu kesempatan saja Angel, aku ingin meyakinkan mu. Setelah itu akan menemui kakakmu, dan dia mau menerimaku atau tidak, aku hanya bisa pasrah saja akan hal itu!" kata Kevin terkesan seperti seseorang yang naif, yang pasrah setelah sekuat, semampunya dirinya berusaha.
Angel tahu dia harus melewati hal ini, lagipula dia percaya, Darren akan selalu melindunginya. Dan pada akhirnya, Angel mengangguk setuju. Kevin terlihat begitu senang, dia pikir dia memang sudah menuju keberhasilan dari rencananya.
Mereka berdua, Kevin dan Angel pergi ke sebuah villa milik Kevin. Tentu saja tidak ada anak buah Kevin yang tahu hal ini, karena apa? karena memang anak buah Kevin juga adalah anak buah Vanya. Kalau anak buahnya tahu, otomatis Vanya juga tahu. Sedangkan Kevin merencanakan semua ini di belakang Vanya, hanya dirinya dan mamanya yang tahu.
Begitu menginjakkan kaki di teras, Kevin membuka pintu villa itu. Banyak sekali bunga-bunga di dalam ruangan. Juga ada balon dengan warna silver dan biru, selama ini kebanyakan Angel menggunakan tas dan sepatu dengan warna itu. Kevin pikir itu adalah warna kesukaan Angel.
Di tengah ruang tamu terdapat tulisan permintaan maaf Kevin dengan banyak sekali rangkaian kata yang akan membuat wanita yang belum tahu siapa sebenernya Kevin pasti akan meleleh, melting, tak bisa berkata-kata sangking tersentuh sekali hatinya.
"Kevin, ini semua...!"
"Ini semua untukmu, aku sungguh-sungguh mencintaimu Angel, sejak pertama kali melihatmu. Aku benar-benar sudah jatuh hati padamu, kamu telah mencuri hatiku ketika pertama kali kamu menatapku...!"
Kata-kata yang begitu romantis, mulut Kevin benar-benar lebih berbahaya dari bisa ular, benar-benar mematikann.
Namun bukan mulutnya saja yang berbisa, perlahan Kevin pun menyentuh lengan Angel dengan lembut, dan bak menghipnotis tatapan mata Kevin itu membuat Angel tak bisa berpaling darinya.
__ADS_1
Tatapan mata mereka sangat intens, begitu dekat. Tapi bukan perasaan terharu dan tersentuh yang di rasakan oleh Angel. Justru dirinya merasa dendamnya semakin menjadi jadi saja.
Kevin baru akan memajukan wajahnya, matanya tertuju pada bibir Angel. Angel yang mengerti selanjutnya apa yang ingin dilakukan oleh Kevin. Segera berdehem.
"Ekhem.. Kevin. Aku haus, boleh minta minum?" tanya Angel.
Mendengar hal itu, Kevin segera melepaskan Angel.
"Aku akan ambilkan minuman dulu!" kata Kevin dan Angel pun mengangguk.
Ketika Kevin pergi, Angel mengepalkan tangannya dengan kuat. Dia sama sekali tidak bisa menahan emosinya tadi. Dia nyaris memukul Kevin yang hampir saja mencium bibirnya.
Namun permintaan Angel itu justru membuat Kevin senang. Dia sudah merencanakan hal ini, memang inilah rencananya.
Kevin membawakan segelas jus jeruk dari dapur, senyumnya menyeringai lebar karena dia sudah menambahkan sesuatu yang akan membuat Angel menjadi miliknya setelah ini.
"Ini minumlah!" kata Kevin.
Semakin minuman yang ada di dalam gelas itu berkurang, Kevin terlihat semakin senang. Setelah menghabiskan setengah gelas jus jeruk, Angel memberikan gelas itu pada Kevin.
"Terimakasih!" kata Angel.
"Sama-sama, duduklah dulu Angel. Aku akan letakkan gelas ini dulu, dan kita bisa jalan-jalan di luar villa!" kata Kevin.
Angel pun mengangguk dan duduk. Tapi hanya dalam beberapa detik dia merasa kalau tubuhnya sangat panas, gerah, dan kepalanya berangsur pusing.
Angel memegang kepalanya dan melihat ke arah pendingin udara di ruangan itu.
'Kenapa panas sekali, pasti pendingin udaranya mati!' batin Angel.
"Kevin, pendingin ruangannya mati ya? kenapa panas sekali?" tanya Angel pada Kevin.
__ADS_1
Kevin yang mendengar itu lantas tersenyum, di lihatnya wajah Angel yang sudah memerah. Dia tahu obat yang dia berikan di dalam minuman Angel sudah bekerja.
"Oh mungkin saja, kalau kamu kepanasan. Kamu bisa ke kamar yang itu, di sana pendinginan ruangannya bagus, sangat dingin!" kata Kevin menunjuk sebuah kamar dekat dengan ruang tamu.
Angel yang memang merasa begitu kepanasan mengangguk. Dia pun di papah oleh Kevin ke kamar itu. Kepala Angel benar-benar sangat pusing, bahkan saat Kevin menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur, Angel tidak berdaya menolak atau memberontak.
Kevin sudah melepaskan ikat pinggangnya ketika Angel masih dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar. Angel berusaha untuk bangun, tak dia tidak kuat.
Kevin sudah melepaskan semua pakaian, tersisa sebua boxer ketat saja. Kevin juga sudah naik ke atas tempat tidur dan bersiap menanggalkan dress yang di pakai oleh Angel.
Bugh
Kevin terjatuh di atas tubuh Angel, Angel menghindari wajah Kevin, sehingga Kevin menjatuhkan wajahnya di sisi sebelah kiri wajah Angel.
Mata Angel sudah berkaca-kaca, dia tidak tahu apa yang terjadi, yang jelas dia sangat takut.
"Bawa dia keluar!"
Sebuah suara membuat Angel memejamkan matanya sangat lega. Suara itu sangat familiar, itu suara Darren.
Darren masuk dan memukul Kevin sampai pingsan. Dan meminta anak buahnya untuk membawa Kevin keluar.
"Kak Darren, tolong aku...!" lirih Angel yang merasa seluruh tubuhnya sakit, panas dan gatal.
"Bos, sepertinya obatnya sudah bereaksii. Sebaiknya kalian berhubungan, kalau tidak pembuluh darah nona bisa saja pecah, karena ketegangan dari efek obat itu!" kata salah satu anak buahnya yang langsung keluar dari ruangan itu.
"Agkhhh... tidak nyaman sekali, tolong aku kak..!"
***
Bersambung...
__ADS_1