
Eva berjalan perlahan masuk ke dalam perusahaan ketika mobil Darren sudah meninggalkan dirinya sendiri di sana. Darren punya tugas lain yang sedang dia kerjakan saat ini.
Dirinya benar-benar sudah berbeda saat ini. Kalau dulu dia berjalan di tengah keramaian jangankan ada yang menegurnya, dia bahkan di anggap perusak pemandangan. Atau malah di anggap tidak ada sekalian. Kecuali orang-orang yang memang tahu kalau dia adalah anak tunggal dari William Mukhtar.
Tapi kini, setiap langkah semua orang seperti sedang memperhatikan dirinya, para wanita menatapnya dengan penuh iri kenapa bisa ada seorang wanita yang cantiknya seperti malaikat seperti itu. Dan para pria, jangan di tanya. Mereka sudah seperti serigala lapar yang melihat kelinci gemuk di depan mereka.
Dan baru sampai di meja resepsionis, seorang pria dengan setelan jas hitam yang sebenarnya, Eva juga mengenalnya. Dia adalah Om Sandy, kepala bagian HRD di perusahaan itu.
"Selamat pagi nona, aku belum pernah melihatmu. Ada yang bisa aku bantu, oh ya kenalkan aku Sandy, kepala bagian HRD perusahaan ini!" kata Sandy yang kebetulan baru datang juga ke perusahaan.
Sandy itu mang terkenal genit, padahal istrinya sudah dua. Tapi masih saja tidak bisa lihat wanita cantik.
"Selamat pagi, aku Angel...!"
"Wah namamu benar-benar cocok dengan dirimu, kamu memang benar-benar seperti malaikat!" sela Sandy memuji Eva.
Sedangkan resepsionis yang ada di depan mereka terlihat mengernyitkan keningnya dan menggaruk pelipisnya melihat Sandy bersikap begitu.
"Aku baru kembali dari Jerman kemarin malam...!"
"Oh dari Jerman? kamu dulu tinggal di mana? kemarin saat bulan madu, aku juga membawa istriku ke Jerman?" tanya Sandy lagi yang sudah begitu sok akrab pada Angel.
"Aku dari Rothenburg!" kata Angel.
"Oh sayang sekali, itu sangat jauh. Kami bukan madu di Frankfurt, yah kamu tahu kan tempat paling mudah untuk menghabiskan uang ha.. ha.. ha..!" kata Sandy menyombongkan dirinya.
"Anda benar, maaf tapi aku ada perlu dengan resepsionis. Permisi!" kata Eva yang berusaha tetap bersikap sopan dan elegan.
Resepsionis di depan Eva hampir tertawa, tapi dia menahannya. Baru kali ini Sandy di acuhkan seperti itu.
"Kak, maaf aku mau tanya. Dimana lokasi audisi untuk model parfum yang ada di sosial media itu ya? aku sudah daftar via online?" tanya Angel pada resepsionis wanita yang terlihat tertegun.
Resepsionis itu di panggil Kak, dia merasa terharu sebenarnya. Wanita secantik Angel, barang-barang yang dia pakai sungguh mewah, tapi masih begitu menghormati seorang resepsionis yang notabenenya hanya karyawan biasa dan banyak yang tak terlalu menghargai nya.
__ADS_1
"Eh... itu ada di ballroom perusahaan. Mari saya tunjukkan!" kata resepsionis itu yang berinisiatif mengantar Angel.
Sandy terlihat tak percaya, ada yang mengacuhkan dia. Tapi daripada malu, dia memilih kembali ke ruangannya.
Setelah sampai di tempat yang di tuju, resepsionis itu pamit pada Angel. Dan memberitahukan kalau Angel bisa langsung masuk ke dalam untuk bertemu dengan pihak penyelenggara audisi.
"Selamat pagi!" sapa Angel pada seorang petugas pencatat daftar nama peserta audisi yang hadir.
Pria muda itu sampai berdiri melihat Angel.
"Selamat pagi, ada yang bisa aku lakukan untukmu?" tanya pria itu.
Angel pun tersenyum.
"Aku Angelica Nickolay, aku sudah mendaftar semalam. Aku mau ikut audisi!" kata Angel.
"Nona, aku pikir kamu tidak perlu audisi lagi... maksudku. Silahkan masuk saja ke ruangan itu. Ini... ini berikan pada petugas penjaga di depan pintu itu!" kata pria itu yang memberikan nomer urutan, tapi dengan warna berbeda dari yang lain.
"Baiklah, terimakasih ya!" kata Angel dengan sangat ramah.
Kevin sebagai wakil William Mukhtar yang di tunjuk oleh William Muhktar secara langsung. Sedangkan Vanya adalah direktur marketing yang baru bekerja satu minggu yang lalu atas rekomendasi Kevin.
Ceklek
Begitu Angel membuka pintu, arah pandangannya tentu saja langsung tertuju pada Kevin. Dan entah kenapa, saat melihat mata suami yang telah kejam melenyapkan dirinya itu, Angel ingin menghampiri dan mencekik pria itu.
Tapi dia teringat apa yang di katakan oleh Darren, memasukkan Kevin ke penjara juga masih kurang bukti. Dan rasanya hukuman penjara terlampau ringan untuk suami yang begitu kejam seperti Kevin.
"Selamat pagi!" Sapa Angel berusaha bersikap ramah.
Angel segera mengalihkan pandangannya dari Kevin dan menyapa juri yang lain.
"Wah, golden ticket ya? tapi kamu memang cantik sih, siapa nama kamu?" tanya seorang wanita paruh baya yang terlihat galak.
__ADS_1
"Angelica Nickolay, 25 tahun!" kata Angel.
"Tapi kamu terlihat seperti 19 tahun! dan Nickolay, aku tidak asing dengan nama itu sepertinya" kata pria muda yang duduk di sebelah Kevin.
Pria itu Justin Aldera, pemilik perusahaan periklanan yang bekerja sama dengan Perusahaan William Mukhtar.
"Terimakasih!" kata Angel.
Pandangan mata Kevin benar-benar tidak bisa teralihkan dari wajah cantik Angel itu, dan tatapan matanya saat pertama kali masuk tadi. Membuat hatinya merasakan perasaan yang tidak bisa dia jelaskan. Tapi Kevin malah di buat penasaran, karena saat berada di tempat itu. Di ruang audisi itu, Angel malah sama sekali tidak melihat ke arah Kevin.
"Punya bakat lain tidak, selain mengandalkan kecantikan mu itu?" tanya Vanya jutek.
Sejak tadi dia terlihat kesal karena Kevin terus saja melihat ke arah Angel. Mau marah atau menegur, itu tidak mungkin. Masih ada nyonya Deborah dan Justin di tempat itu. Nanti mereka malah curiga kalau ada apa-apa antara Vanya dan Kevin yang mengaku sejak awal sebagai sepupu.
"Aku lulusan sekaligus salah satu dari 8 penari utama di John Cranco Skule Jerman!" jawab Angel sesuai arahan dari Darren. Karena adiknya dulu memang punya layar belakang itu.
"Wah, penari balet, dari Jerman, keluarga Nickolay. Aku tidak perlu bertanya apapun lagi. I chose her, Angelica Nickolay!" kata Justin begitu yakin dan dia memang terlihat sangat menyukai Angel.
Mendengar Justin sudah menentukan pilihan, padahal masih ada ratusan wanita cantik di luar sana yang ikut audisi. Vanya benar-benar terlihat tidak senang.
"Aku juga!" kata Kevin yang semakin membuat Vanya kesal.
"Kamu sudah punya segalanya kan? untuk apa audisi untuk menjadi brand ambassador seperti ini?" tanya Vanya kesal.
"Aku pikir parfum baru kalian itu seperti aku, cantik, harum, elegan, membuat orang tertarik, tapi jangan harap bisa menyentuhnya...!"
Prok prok prok
Deborah sampai berdiri mendengar apa yang di katakan oleh Angel.
"Luar biasa, aku juga memilihnya. Dia benar-benar bisa mengekspektasikan parfum buatanku, kamu benar-benar seperti parfum yang aku racik itu, mahalll!" seru Deborah membuat Vanya tak bisa lagi membantah.
***
__ADS_1
Bersambung...