Beautiful Revenge Istri Yang Di Lenyapkan

Beautiful Revenge Istri Yang Di Lenyapkan
Bab 12


__ADS_3

Begitu tiba di kantor, Kevin buru-buru menemui Justin yang sudah datang sejak tadi karena setelah ini Justin akan ada urusan lain.


"Selat siang, aku benar-benar minta maaf Justin. Aku harus membawa ibuku ke rumah sakit dulu!" kata Kevin mengatakan alasannya kenapa dia datang terlambat.


Padahal hal itu sebelumnya juga sudah di beritahukan oleh Nancy, sekertaris Kevin pada Justin.


Justin menepuk bahu Kevin.


"Sudah tidak masalah, aku juga punya ibu. Kalau ibuku sakit aku juga pasti akan meninggalkan semua urusan dan pergi ke ibuku. Jangan khawatir, lagipula bidadari kita juga belum datang!" sahut Justin.


Kevin pun melihat ke sekeliling ruangannya.


"Benar? bidadari kita belum datang. Apa kamu benar-benar tertarik padanya Justin?" tanya Kevin.


"Hey man, aku single. Memang siapa yang tidak akan tertarik pada wanita secantik Angel, lihat dia. Selain cantik, dia sangat elegan, seperti kata Bu Deborah. Dia mahal. Jujur saja aku sangat tertarik padanya, tapi sepertinya sangat sulit menarik perhatiannya!" kata Justin.


"Kamu benar, dia cantik, dia kaya, dan pintar. Apa yang akan membuatnya kagum pada seorang pria. Dia sudah punya segalanya, iya kan?" tanya Kevin pada Justin.


"Hey man, aku dengar nada putus asa dari cara bicaramu. Jangan katakan kamu juga menyukainya. Istrimu baru meninggal 40 hari yang lalu. Yah... meskipun aku tahu bagi pria tidak masalah, karena tidak ada masa apa itu... yang di sebutkan di kepercayaan kalian itu. Masa menunggu itu.. apa namanya?" tanya Justin yang memang beda kepercayaan dengan Kevin.


"Masa Iddah!" jawab Kevin.


"Nah iya, masa itu tidak ada. Tapi kan akan sangat canggung kalau kamu sudah menyukai wanita lain sementara istrimu baru meninggal dan itu masih beberapa minggu!" tegur Justin.


Kevin pun merasa apa yang di katakan oleh Justin benar. Setidaknya dia jangan terlalu memperlihatkan hal itu. Untung saja Justin mengingatkan, kalua tidak mungkin ayah mertuanya yang akan mengingatkan. Dan itu akan sangat tidak baik.


"Selamat siang, tuan. Nona Angel sudah datang!" kata Nancy mengetuk ruangan lalu langsung membuka pintu dan mengatakan itu pada bosnya.


"Persilahkan dia masuk!" kata Kevin.


"Selamat siang!" sapa Angel.


Baru Kevin akan menyapa balik, tapi Justin sudah maju lebih dulu mendekati Angel dan menyapa wanita cantik itu.


"Selamat siang my Angel, silahkan duduk!" kata Justin mempersilahkan Angel untuk duduk di sofa.

__ADS_1


"Terima kasih, tapi maaf aku tidak bisa lama. Kevin, bisakah aku tanda tangani kontrak sekarang. Aku harus ke rumah sakit untuk membeli obat, kakak ku sedang tidak enak badan!" kata Angel pada Kevin.


Mendengar kata rumah sakit tentu saja Kevin yang kebetulan ibunya di rawat di rumah sakit jadi punya ide untuk bisa lebih dekat dengan Angel.


"Baiklah sebentar!" kata Kevin yang langsung meminta Nancy untuk membawakan dokumen kontrak kerja sama dengan Angel ke ruangan nya.


"Kakakmu sakit apa?" tanya Justin.


"Biasalah, udara baru. Kakak ku sedikit flu, kami baru kembali, aku belum tahu dokter yang bagus di sini, aku pikir akan ke rumah sakit untuk membeli obat dan mencari dokter untuk keluarga kami!" jelas Angel.


"Keluarga ayah mertua ku, tuan William Mukhtar. Kamu mengenalnya kan Angel? dia punya dokter pribadi yang bagus. Kalau mau aku bisa mengenalkannya dengan mu?" tanya Kevin.


"Oh tentu, terimakasih Kevin!" kata Angel.


"Ck... sayangnya aku tidak suka pergi ke dokter!" keluh Justin.


"Bukankah mang tidak ada yang sebenarnya suka pergi ke dokter?" tanya Angel yang membuat Justin terkekeh.


Setelah tanda tangan kontrak, karena Justin memang ada pekerjaan lain. Dia pun meninggalkan perusahaan William Mukhtar.


"Tunggu, kita bisa pergi bersama. Aku akan langsung mengenalkan mu dengan dokter Santoso!" kata Kevin.


Mendengar nama dokter Santoso, Angel merasa kesal. Bagaimana bisa dokter yang sudah bertahun tahun di jadikan dokter keluarga bisa berbuat seperti itu pada papanya. Di bayar dengan apa, berapa banyak dia di bayar sampai pria tua itu mau menuruti keinginan Vanya. Angel benar-benar sangat penasaran.


"Baiklah!" kata Angel.


Kevin tersenyum karena kali ini Angel tidak menolaknya.


"Dengan mobilku saja ya, nanti kita bisa kembali ke sini untuk mengambil mobilmu. Atau aku akan mengantarmu dan mobilmu biar anak buahku yang mengantar ke rumah?" tanya Kevin.


"Tidak perlu, kita bisa kembali ke mari. Tidak sopa rasanya, aku terlalu banyak merepotkan mu!" kata Angel.


Kevin semakin senang mendengar apa yang Angel ucapkan. Karena dengan begitu dia bisa lebih lama berdua dengan Angel.


Kevin begitu senang bisa berjalan berdua dengan Angel, satu mobil berdua dengan Angel dan bicara dengan Angel. Padahal wanita di sampingnya itu, dulunya adalah wanita yang paling tidak ingin dia ajak bicara, tidak pernah mau dia ajak jalan berdua, dan wanita yang kalau di dekatnya Kevin sebenarnya sangat menahan, berusaha sangat bertahan. Karena sebenarnya Kevin ingin secepatnya menjauh dari wanita itu.

__ADS_1


Tapi begitu Eva berubah menjadi Angel. Sikapnya sangat berbeda. Memang sangat realistis ya, sesuatu yang indah dan cantik itu memang lebih menarik.


Di perjalanan, Kevin tampak menceritakan ibunya yang juga sedang di rawat di rumah sakit.


"Kenapa mama kamu masuk rumah sakit?" tanya Angel.


Seperti apa yang di katakan oleh Darren. Kalau dia harus bisa dekat dengan mama Kevin. Agar membuat hubungan Kevin dan Vanya merenggang.


Kevin terlihat menoleh ke arah Angel.


'Sepertinya dia khawatir pada mama!' batin Kevin senang.


"Mama kelelahan, mamaku memang seperti itu. Dia selalu ingin mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri. Dan susah sekali melarangnya makan makanan yang tidak boleh di makan. Jadi kondisinya menurun dan pingsan tadi pagi!" jelas Kevin.


"Kasihan sekali!" ucap Angel pelan.


Kevin lagi-lagi menoleh. Sepertinya dia bisa menggunakan mamanya untuk mendekati Angel.


"Kevin, apa aku boleh menjenguk mama kamu. Maaf, tapi mendengar beliau kurang sehat aku merasa...!"


"Tentu saja, tentu saja boleh Angel. Mama pasti akan senang melihatmu!" kata Kevin.


Angel mengulas senyum. Tapi di dalam hatinya dia benar-benar cukup merasa sedih.


'Mamamu akan senang melihatku? bukankah aku adalah satu-satunya orang yang tidak pernah ingin mama kamu lihat sebenarnya mas!' batin Angel.


"Kalau begitu berhenti di toko kue ya, aku tidak enak kalau menemui mamamu dengan tangan kosong!" kata Angel.


Kevin mengangguk dengan cepat. Dia senang sekali karena Angel sangat antusias untuk bertemu mamanya.


'Bagus sekali, Angel ternyata sangat sensitif kalau menyangkut keluarga. Bagus, aku sekarang tahu bagaimana agar bisa menarik simpatinya!' batin Kevin yang merasa bisa menjerat Angel. Padahal kenyataannya, dia yang sudah masuk dalam rencana Angel dan Darren.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2