
Pagi-pagi sekali, Kevin akhirnya kembali dari rumah sakit. Kondisi perutnya sudah membaik, tapi akibat gigitan semut itu meninggalkan bekas yang lumayan masih ketara banyak di tubuh Kevin.
Mungkin hari ini dia juga tidak akan bisa masuk ke kantor. Karena tidak mungkin dia datang ke kantor dalam keadaan seperti saat itu.
Ketika Kevin membuka pintu, terlihat Vanya yang berdiri masih dengan piyama tidurnya tepat di depan pintu.
Sebenarnya saat mendengar suara mobil Kevin datang tadi, Vanya yang sedang berada di kamarnya buru-buru keluar dari kamar untuk kemudian langsung memergoki Kevin yang baru pulang sejak kemarin.
Melihat Vanya berdiri di depan pintu sambil melipat tangannya di depan dada dan menunjukkan tatapan begitu curiga pada Kevin.
"Kamu kemana saja mas? jangan katakan padaku kamu sudah tidur dengan wanita genit itu?" tanya Vanya langsung membuat suasana hati Kevin yang buruk bertambah buruk.
Kevin tidak habis pikir, apa Vanya tidak bisa melihat dirinya yang berantakan dan lengan yang banyak bekas gigitan semutnya. Kevin bahkan menggulung lengan jaketnya loh. Dia benar-benar berantakan.
Tapi karena Kevin memang tidak pernah mau bertengkar di rumah. Sebab dia tidak mau membuat mamanya kepikiran dan sakit. Memilih hanya menghela nafas saja dan ingin segera mandi, ganti baju, memakai salep dari dokter, sarapan pagi lalu minum obat dan tidur.
Kevin menghela nafas lalu melewati Vanya begitu saja menuju kamarnya. Tapi baru dua langkah dia berlalu dari Vanya. Vanya menarik tangan Kevin dan membuatnya tak bisa melanjutkan langkahnya karena Vanya menahan tangan Kevin dengan kencang.
"Mas, aku sedang bicara padamu. Kamu sengaja ya?" tanya Vanya yang mulai meninggikan nada suaranya.
Kevin pun menoleh ke arah Vanya.
"Jangan membuat masalah Vanya, ini masih pagi. Aku yakin ibuku masih tidur!" kata Kevin malas.
"Apa katamu, aku membuat masalah? kamu yang sejak kemarin tak bisa di hubungi, aku menghubungi kamu mas dari siang. Kamu tidak angkat telepon dariku. Sore hari sampai malam malah nomer kamu tidak aktif. Kamu jangan main-main ya mas, orang yang paling tahu kartumu itu aku, aku tidak akan tinggal diam kalau kamu mempermainkan aku!" kata Vanya yang mulai menggertak Kevin.
Vanya tentu saja tidak mau di permainkan oleh Kevin. Pikir Vanya, dia bukan wanita bodoh dan polos seperti Eva. Dia tidak akan membiarkan Kevin membuangnya seperti Kevin membuang Eva.
Dan Kevin sendiri, setelah dia mendengar gertakan dari Vanya. Kevin yang awalnya ingin mengacuhkan Vanya pun menjadi berpikir lagi.
'Ck... menyusahkan sekali. Aku harus membuat Vanya tenang dulu, kalau dia membongkar semua yang aku lakukan. Bisa berakhir di penjara aku nanti!' batin Kevin.
__ADS_1
Pada akhirnya, Kevin yang tadinya bersikap acuh, dengan wajah dan ekspresi yang begitu datar. Kini dia menunjukkan senyumnya pada Vanya.
"Vanya sayang, cina lihat tanganku yang kamu pegang itu!" kata Kevin.
Vanya pun langsung melihat tangan Kevin, begitu melihat banyak bentol di tangan kevin. Vanya buru-buru melepaskan tangan Kevin itu.
"Ih, mas. Apa itu? kenapa dengan tanganmu?" tanya Vanya yang risih melihat bentol-bentol di tangan Kevin.
"Apa kamu tahu, bukan hanya tangan saja, lihat ini!" kata Kevin yang menaikkan kaosnya ke atas.
Kevin menunjukkan kalau bentol-bentol itu tidak hanya di tangan, tapi juga di perutnya. Bahkan hampir di seluruh tubuhnya.
"Aku kena gigit semut, dan semalaman aku berada di rumah sakit karena sakit perut. Kamu malah berpikiran macam-macam, aku tidak menghubungi kamu atau mama, karena aku tidak ingin istirahat kalian terganggu. Kemarin aku tidak mengangkat telepon juga karena aku sedang ada masalah! dan ini masalahnya dari dokter Herman!" kata Kevin menjelaskan panjang lebar.
Vanya pun mengusap-usap tangannya yang tadi menyentuh bentol di tangan Kevin. Dan pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Vanya adalah.
"Bentol itu menular atau tidak?" tanya Vanya.
"Ini di gigit semut, bukan alergi atau penyakit menular. Aku mau istirahat di kamarku saja. Aku sangat lelah!" kata Kevin terlihat sangat tidak bersemangat.
Rasanya benar-benar kesal, kenapa setelah tahu kulitnya bermasalah langung melepaskan tangannya begitu saja. Kevin tidak habis pikir, apa itu wanita yang dulu meski dia terkena flu dan belum mandi seharian masih menempel padanya seperti lem.
Vanya pun diam di tempatnya, dia hanya melihat kepergian Kevin. Sambil mengusap-usap tangannya dia bergumam.
"Ya ampun, harus cuci tangan pakai hand sanitizer ini. Huh..!" gumam Vanya lalu masuk ke dalam kamarnya.
Dan baru saja Vanya akan cuci tangan, dia sudah menerima panggilan telepon. Ketika dia baru akan meletakkan ponselnya di atas meja untuk cuci tangan. Alhasil, dia urung meletakkan ponselnya karena melihat nama pemanggil yang tertera di layar ponselnya.
"Halo dokter Herman...!"
"Vanya, kamu harus menolongku. Cepat datang ke kantor polisi dan bawa pengacara!" seru dokter Herman di telepon.
__ADS_1
"Kantor polisi? ada apa dokter?" tanya Vanya bingung.
"Kevin, dia datang ke rumah sakit dan membawa seorang pasien, asisten pribadi ku yang bodoh itu salah diagnosa. Cepat bawa pengacara, aku tidak mau di penjara. Kalau sampai aku di penjara, aku akan bongkar semua kebusukan kalian yang memintaku menukar obat untuk tuan William Mukhtar!" gertak dokter Herman.
Wajah Vanya langsung menunjukkan ekspresi terkejut, sangat-sangat terkejut.
"Ah, jangan dokter. Jangan lakukan itu, tenang saja, aku akan lakukan apapun agar dokter tidak di penjara. Dokter percaya padaku kan?" tanya Vanya yang sebenarnya juga panik.
"Jangan banyak bicara, aku tidak butuh janji janji manis dari mulutmu. Cepat datang dan keluarkan aku dari kasus ini!"
Tut Tut Tut
Vanya langsung berbalik keluar dari kamar. Dia sudah tidak memikirkan tangannya yang tadi mau dia cuci.
Dia segera menghampiri kamar Kevin dan mengetuknya dengan kencang.
Duk Duk Duk
Ceklek
"Ada apa?" tanya Kevin yang mengalungkan handuk di belakang lehernya.
"Dokter Herman, dia di kantor polisi. Siapa yang kamu bawa ke dokter Herman, dia menuntut dokter Herman karena salah diagnosa. Kita harus selamatkan dokter Herman, atau dokter itu akan membongkar semua kejahatan yang kita lakukan, membongkar kalau kita yang sudah meminta dokter Herman menukar obat yang benar dengan obat yang akan membunuh tuan William Mukhtar pelan-pelan. Cepat hubungi pengacara terbaik...!"
"Agkhhh!" Kevin langsung memekik dan menarik handuk dari lehernya.
"Sialll, kita harus keluar uang banyak lagi. Hah... benar-benar sialll!" keluh Kevin.
***
Bersambung...
__ADS_1