
Jangan tanya seperti apa hati Angel mendengar papanya terus memuji pria yang telah melenyapkan dirinya itu. Benar-benar sulit memang untuk menyembunyikan dendam di balik senyuman. Tapi Angel harus bisa melakukan itu, ini baru awal. Dia bahkan punya misi yang akan membuatnya harus ekstra menahan kesabaran di masa depan nanti.
Beberapa lama kemudian, Angel dan William Mukhtar sudah sampai di sebuah rumah yang besar dan mewah. Rumah tempat dirinya di rawat sejak kecil oleh papa dan mamanya.
Rumah dimana dia bisa tersenyum setelah di luar sana banyak orang yang menghina karena dia orang kaya tapi tidak cantik. Dulu dia sama sekali tidak mau di operasi, hal itu selalu membuatnya takut. Itu juga karena pengaruh beberapa orang yang memang ingin terus menghinanya. Karena itu dia sampai home schooling di rumah.
Begitu masuk ke dalam rumah, bi Welas langsung menghampiri William Mukhtar dan Angel.
"Selamat siang tuan, aku dengar...!"
"Tidak apa-apa bi, aku sudah tidak apa-apa. Bi, Welas, ini Angel. Anak baik yang mau mengantarkan aku sampai ke rumah!" kata William Mukhtar dengan senyuman yang terlihat mengembang.
"Selamat siang non, saya bi Welas. Pelayan di sini...!"
"Kenapa bilang pelayan...!" Angel langsung menjeda kalimat yang dia ucapkan saat tadi menyela bi Welas.
Angel terbawa suasana, dia memang tidak suka kalau bi Welas menyebut dirinya sendiri sebagai pelayan. Dia sudah anggap bi Welas keluarga.
Sementara itu bi Welas terlihat berkaca-kaca, dia ingat pada Eva. Eva juga tidak pernah suka kalau bi Welas menyebut dirinya sendiri sebagai pelayan di rumah itu.
"Maksudku, em.. jangan begitu, bibir lebih tua dariku aku akan panggil, bibi saja ya?" tanya Angel.
Dan bi Welas langsung menganggukkan kepalanya, dia terlihat begitu senang.
"Makan siang di sini saja ya Angel, temani paman!" kata William Mukhtar.
Angel sebenarnya begitu senang, tapi dia tidak langsung mengiyakan.
"Apakah tidak akan merepotkan paman?" tanya Angel berbasa-basi.
__ADS_1
"Tentu saja tidak, paman akan senang kalau kamu mau menemani paman makan siang!" kata William Mukhtar.
Dan pada akhirnya Angel dan William Mukhtar makan siang bersama. Bibi Welas saja bisa melihat betapa bahagianya William Mukhtar saat berbincang dengan Angel. Banyak sekali persamaan di antara keduanya, selalu bersikap ramah, tutur katanya halus dan sopan.
"Kamu bekerja di mana nak? atau kamu sudah menikah?" tanya William Mukhtar pada Angel.
"Aku belum menikah paman, dan tadi pagi aku baru saja dapat pekerjaan. Makanya aku berkunjung ke makam temanku, membagi kebahagiaan ku dengannya!" kata Angel.
"Benarkah nak? tidak semua mendapat keberuntungan macam itu. Kamu bekerja dimana nak?" tanya William Mukhtar.
"Di perusahaan AW Company, perusahaan parfum dan perhiasan itu. Kebetulan semalam aku iseng-iseng saja mendaftar menjadi brand ambassador untuk perusahaan itu. Tidak di sangka juga paman, aku di terima!" kata Angel yang terlihat senang.
Welas yang berdiri di belakang kursi William Mukhtar tampak tertegun. Entah apa yang namanya jodoh pertemuan atau bagaimana, tapi Welas cukup terkejut karena dia tahu AW Company itu adalah perusahaan milik William Mukhtar. Kebetulan yang begitu banyak dalam satu waktu.
William Mukhtar juga cukup terkejut dengan apa yang barusan di katakan oleh Angel. William Mukhtar bahkan meletakkan alat makannya dan terlihat menyatukan dua tangannya yang telungkup ke bawah, tepat di depan dagunya.
"Kamu serius nak? AW Company itu adalah singkatan Anggini William Company, milik istriku dan aku, nak!" kata William Mukhtar pada Angel.
"Ya ampun paman, aku tidak menyangka. Paman adalah pemilik perusahaan itu!" kata Angel takjub.
"Iya nak, sudah tanda tangan kontraknya?" tanya William Mukhtar.
"Belum paman, aku pikir ada beberapa poin yang nantinya akan membuatku menerima gaji buta dalam beberapa waktu. Jadi aku pikir, aku akan tanda tangan kontrak setelah kontrak itu di revisi. Tapi aku masih takjub paman, aku tidak menyangka bisa bertemu pemilik perusahaan besar itu!" kata Angel dengan mata yang berkaca-kaca.
William Mukhtar tersenyum senang. Angel itu sangat mirip dengan Eva. Hal kecil saja, bisa membuatnya sangat excited. Benar-benar seorang yang pemikirannya benar-benar begitu sederhana.
Mereka cukup lama mengobrol, sampai William Mukhtar terlihat sangat sedih.
"Apakah kakakmu sangat sibuk nak? jika berkenan, maukah kalian datang nanti malam untuk ikut mendoakan Eva?" tanya William Mukhtar yang membuat Angel terdiam.
__ADS_1
Hatinya sedikit terasa perih sebenarnya. Papanya meyakini dia sudah benar-benar meninggal. Tapi siapa yang tidak akan percaya dengan settingan yang di buat oleh Kevin dan Vanya. Mereka menyetting kematian Eva begitu sempurna sebagai sebuah kecelakaan. Dan masih meninggalkan kesan yang begitu baik untuk Kevin.
Bahkan mayatnya juga di palsukan, sepertinya mereka memang benar-benar orang yang licik. Cara itu sungguh licik, dan pasti hanya bisa dipikirkan oleh orang-orang yang terbiasa berbuat kejahatan dan kelicikan.
Dan tujuan William Mukhtar sendiri, sebenarnya ingin menjalin hubungan baik dengan Angel dan keluarganya. William Mukhtar benar-benar merasakan perasaan yang begitu familiar dan hangat saat berada di dekat Angel. Jika dia bisa menjalin kerja sama dengan perusahaan Nickolay tentu saja dia bisa menjaga hubungan baik dengab keluarga Nickolay. Dan intensitas pertemuannya dengan Angel pasti akan lebih sering.
Mendengar apa yang dikatakan oleh William itu, Angel juga senang mendengarnya. Karena memang untuk masuk ke dalam keluarga ini adalah tujuan Angel dan Darren, hingga bisa membaut William Mukhtar aman dari ancaman rencana jahat selanjutnya dari Kevin dan Vanya.
"Tentu saja paman, kak Darren sangat memanjakan aku. Dia tidak mungkin menolak permintaan ku. Walaupun tidak ada penerbangan di luar kota sana, kak Darren akan menyewa helikopter untuk bisa bertemu denganku!" kata Angel yang benar-benar membuat William Mukhtar ingin menangis.
'Cara bicaramu, cara mu mengungkapkan kebahagiaan benar-benar mirip dengan Eva, nak!' batin William Mukhtar.
Saat William Mukhtar mengantarkan Angel keluar rumah, lebih tepatnya ke teras untuk pulang dulu sebelum nanti malam datang lagi. Mobil Kevin tampak berhenti di belakang mobil Eva.
"Papa, ini..!"
"Paman, aku pulang dulu ya. Nanti malam aku akan datang dengan kakakku. Sampai jumpa! sampai jumpa tuan Kevin!" kata Angel yang lagi-lagi mengacuhkan Kevin dan membuat Kevin makin terobsesi pada wanita yang menurutnya sangat cantik dan mendekati sempurna itu.
Begitu Angel masuk ke dalam mobil, dia langsung melajukan kendaraannya, dan meninggalkan tempat itu.
"Papa, dia itu ...!"
"Papa tahu, dia brand ambassador di perusahaan kita kan. Papa bertemu dengannya di pemakaman, dia sangat baik. Bagaimana dengan mobil papa?" tanya William Mukhtar.
"Ah iya, masalah mobil papa itu...!"
Kevin benar-benar tak bisa fokus jika itu menyangkut tentang Angel. Sepertinya damage Angel, benar-benar mempengaruhi Kevin.
***
__ADS_1
Bersambung...