
Kevin tentu saja panik ketika mendengar kalau Angel harus di karantina. Dia lantas menemui dokter Herman.
"Apa maksudmu dok? kenapa Angel harus di karantina?" tanya Kevin bingung.
"Hasil laporannya, menunjukkan kalau dia terjangkit virus yang berbahaya. Bukankah dia dari luar negeri?" tanya dokter Herman.
"Iya dok, dia memang baru dari Jerman. Tapi selama ini dia baik-baik saja, dia hanya sakit kepala barusan dan...!"
"Aku tidak mau ambil resiko ya. Dia harus di karantina. Hasil medisnya mengatakan kalau dia terjangkit virus berbahaya. Sedang kamu uji di lab, sampel darahnya. Kamu juga harus melakukan pemeriksaan Kevin, bukankah kamu juga berada di dekatnya dalam waktu terakhir ini!" kata dokter Herman.
Kevin masih sulit percaya kalau Angel terjangkit virus. Karena selama ini Angel terlihat sehat-sehat saja. Belum lagi bagaimana dia menjelaskan pada semua orang, dia baru saja syuting dengan semua kru perusahaannya. Kevin pun mengacak rambutnya kasar karena dia benar-benar kebingungan.
Tapi tak lama kemudian, Darren datang dengan tergesa-gesa menemui Kevin di depan ruangan dokter Herman.
"Dimana Angel?" tanya Darren memegang bahu Kevin.
"Di ruang karantina..!"
"What! di ruang karantina? bagaimana dia bisa di ruang karantina?" tanya Darren menyela Kevin.
Dan hal itu membuat Kevin merasa terkejut.
"Kata dokter hasil pemeriksaannya menunjukkan kalau Angel terjangkit virus yang berbahaya, dan harus di karantina!" jelas Kevin.
"Apa katamu? mana dokternya? adikku baru saja check up kemarin. Dan hasilnya baik-baik saja, bagaimana dia bisa bilang Angel terjangkit virus berbahaya. Mana dokternya?" tanya Darren yang terlihat benar-benar marah.
Kevin memang merasa kalau Darren itu pribadi yang dingin dan introvert. Tapi dia tidak tahu kalau saat Darren marah, dia benar-benar terlihat mengerikan.
"Di dalam!" ucap Kevin dengan cepat.
Tanpa menunggu lagi, dan tanpa ba bi bu pada Kevin. Darren langsung melewatinya begitu saja, bahkan sempat menyenggol bahu Kevin yang berdiri dekat dengan pintu ruangan dokter Herman.
Darren langsung membuka pintu dan matanya terlihat sangat marah.
"Kamu dokter yang mengatakan adikku kena virus berbahaya?" tanya Darren.
Kevin ikut berbalik dan masuk ke ruangan dokter Herman itu.
__ADS_1
Dokter Herman langsung berbalik ketika dia sedang mencuci tangannya.
"Siapa kamu? kenapa masuk ke ruanganku lalu marah-marah?" tanya dokter Herman.
Dia adalah dokter senior, tentu saja ada yang masuk ke dalam ruangannya dengan cara seperti itu membuatnya kesal.
"Dokter Herman, dia adalah Darren Nickolay, kakaknya Angel!" jawab Kevin dengan cepat.
Kevin di sini masih sangat bingung, di satu sisi dia percaya pada dokter Herman. Tapi di sisi lain dia juga merasa kalau Angel tidak sakit separah itu.
"Aku akan menuntut mu karena sudah mencemarkan nama baik adikku. Dia sehat, kamu baru check up kemarin. Dan apa kamu pikir kami bisa masuk ke negara ini kalau kami tidak dinyatakan sehat. Di bandara pun kamu di periksa. Dokter macam apa kamu?" tanya Darren yang terlihat sangat serius dengan kemarahannya.
Sebenarnya Darren sedang mempertanyakan kredibilitas Herman sebagai dokter keluarga Mukhtar. Bisa-bisanya, orang sepertinya yang di percaya oleh William Mukhtar malah memberikan obat yang bertolak belakang dengan penyembuhan penyakit William Mukhtar. Darren sedang mempertanyakan hal itu, apa yang membuat Herman sampai berbuat sejahat itu pada William Mukhtar.
"Aku ini senior dokter...!"
"Aku tidak perduli, aku mau bawa adikku ke rumah sakit yang lebih bagus!" kata Darren.
"Tapi dia harus di karantina, virusnya bisa berbahaya...!"
Kevin juga mengerti kenapa Darren marah, dia juga bingung harus berpihak pada siapa. Tapi mengingat dia sedang berusaha mengambil hati Angel, dia pun membela Darren pada akhirnya.
"Dokter Herman, aku yang akan tanggung jawab..!"
"Tidak bisa Kevin, dia mengancam untuk menuntut ku. Bawa saja dokter yang katamu lebih bagus dari aku. Bawa kemari dan biarkan dia periksa adikmu di sini!" kata dokter Herman.
"Baiklah, akan ku bawa mereka kemari!" kata Darren.
Darren langsung menghubungi dokter Frans dan beberapa dokter dari rumah sakit yang berbeda. Dia benar-benar ingin membuktikan kalau analisis dokter Herman itu salah.
Tentu saja salah, karena Desi sudah mengatur sedemikian rupa sehingga laporan medis Angel benar-benar sangat tidak benar.
Tiga orang dokter dari rumah sakit berbeda datang, mereka kembali melakukan pemeriksaan. Di ruang instalasi Radiologi yang sama. Tapi hasilnya berbeda.
"Bagaimana dokter? pasien memang benar-benar terjangkit virus berbahaya kan?" tanya Herman pada dokter Frans dan yang lain.
"Apa yang anda katakan, pasien hanya alergi!" kata dokter Emanuel.
__ADS_1
"Benar, laporanku menunjuk hal yang sama. Pasien mengalami sakit kepala karena alergi! ini buktinya!" kata dokter Frans yang menunjukkan laporan medis hasil pemeriksaannya pada dokter Herman.
Dokter Herman menjadi sangat panik. Apalagi ketika Darren sudah mengundang pengacaranya datang.
"Aku akan menuntut mu untuk kasus ini. Kamu benar-benar sudah sangat merugikan ku dan adikku! pengacaraku yang akan mengurus semuanya!" kata Darren yang langsung ke ruangan karantina dan menjemput Angel.
Kevin juga langsung mengikuti langkah kaki Darren.
"Angel, kita pergi dari sini, dokter Frans akan mengobati kamu!" kata Darren.
Angel pun segera turun dari tempat tidur pasien di ruang karantina di bantu oleh Darren.
"Angel, aku minta maaf. Seharusnya aku tidak membawamu ke mari. Maafkan aku!" kata Kevin yang sangat tidak enak pada Angel dan Darren.
Angel mau bicara pada Kevin, tapi Darren langsung mengajaknya pergi.
"Kev...!"
"Angel ayo!" kata Darren.
Angel hanya bisa menoleh sekilas ke arah Kevin. Kevin yang melihat itu benar-benar merasa sangat tidak enak.
Tapi itulah yang di inginkan oleh Angel dan Darren. Sampai di dalam mobil, Darren langsung bicara pada Angel.
"Semua berjalan lancar, dokter Herman akan di berhentikan sebagai dokter setelah ini. Besok kamu bisa langsung ke rumah papamu dan mengajaknya ke klinik dokter Frans. Setelah ini Kevin juga pasti akan mengejarmu. Semua berjalan sesuai rencana Angel!" kata Darren tanpa melihat ke arah Angel.
Angel mengangguk paham, tapi kemudian dia melihat ke arah Darren.
"Lalu bagaimana dengan Desi? apa dia juga akan di penjara?" tanya Angel.
Baru setelah Angel berkata seperti itu, Darren menoleh ke arah Angel.
"Setiap perjuangan butuh pengorbanan Angel, Desi melakukannya untukmu. Dia akan di hukum, tapi kami akan berusaha mengurangi hukumannya. Jangan pikirkan tentang itu. Sekarang masalah papa kamu sudah teratasi. Selanjutnya pikirkan bagaimana membuat Vanya dan Kevin bertentangan dan pada akhirnya mereka berpisah, saat itu terjadi. Mereka akan saling menghancurkan!" kata Darren dengan tatapan mata yang tidak bisa di mengerti oleh Angel. Tapi jujur saja, Angel agak merinding dengan tatapan mata Darren itu.
***
Bersambung...
__ADS_1