
Kevin tampak kacau. Dia benar-benar tidak enak pada Angel. Dia benar-benar kecewa pada dokter Herman. Kevin tidak kembali lagi ke kantor, dia pulang ke rumah karena sudah pasti kalaupun dia ke kantor, dia juga tidak akan mengerjakan pekerjaannya dengan baik.
Kevin tidak menyangka, dokter kepercayaannya bisa membuatnya berada dalam masalah seperti ini. Mungkin saja setelah ini Darren akan melarangnya bertemu Angel. Dan masalah kontrak kerja sama, semua akan kacau. Kalau sampai Darren minta Angel untuk mundur dan membatalkan kontrak, semua jadwal kerjanya benar-benar akan kacau. Sementara Angel sudah di perkenalkan sebagai brand ambassador perusahaannya.
Sudah melakukan sesi foto dan sudah di sebar luaskan di media. Syuting pertama pun sudah di lakukan. Semua akan berantakan. Kevin tak habis pikir, bagaimana laporan medisnya bisa salah.
Darren terlihat sangat marah. Darren benar-benar menuntut dokter Herman. Ini benar-benar masalah serius.
"Hah.. kacau, kacau semuanya!" kata Kevin yang terus mengacak rambutnya karena pusing memikirkan masalah yang baru saja terjadi.
Kevin yang duduk di sofa ruang tamu pun terlihat oleh Marta yang memang baru keluar dari kamarnya setelah mendengar suara mobil Kevin pulang.
"Loh, masih jam segini. Sudah pulang? kamu tidak enak badan?" tanya Marta yang khawatir kalau Kevin tidak enak badan.
Kevin menghembuskan nafas kasar.
"Huh.. ma, kacau!" kata Kevin yang memang terbiasa menceritakan apapun yang terjadi di luar termasuk masalah pribadi dan pekerjaannya kepada mamanya.
"Apa yang kacau?" tanya Martha terlihat sangat penasaran dengan apa yang dikatakan oleh anaknya itu.
"Kacau ma, kakaknya Angel marah besar pada dokter Herman. Tanpa basa-basi lagi, Darren mengajak Angel pergi ma, aku yakin dia akan melarang Angel bertemu denganku lagi!" kata Kevin langsung pada apa yang dia cemaskan.
Tapi Marta kan tidak tahu awal mula masalahnya, jadi wanita paruh baya itu masih tampak bingung.
"Coba jelaskan pelan-pelan, kenapa kakaknya Angel sampai marah?" tanya Marta.
"Tadi itu kan selesai syuting, Angel itu sakit kepala. Aku pikir, akan lebih baik untuk membawanya pada dokter Herman yang jelas-jelas adalah dokter keluarga Mukhtar selama bertahun-tahun. Tapi bisa-bisanya dokter itu salah diagnosis, Angel di karantina. Darren tidak terima, lalu dia mendatangkan tiga dokter sekaligus..!"
"Tiga?" tanya Marta yang menunjukkan tiga jari tangannya di depan Kevin dengan wajah takjub. Marta yang mata duitann tentu saja sangat takjub mendengar hal itu, bukankah itu artinya keluarga Angel memang sangat kaya.
Kevin langsung mengangguk.
__ADS_1
"Dan hasil ketiga dokter itu hanya mengatakan kalau Angel itu alergi, dia tidak bisa terkena paparan panas yang ekstrim. Dia akan sakit kepala. Darren marah besar dan menuntut dokter Herman... Ck.. tapi masalahnya Darren juga terlihat sangat marah padaku, karena aku yang merekomendasikan dokter Herman. Dia menarik Angel pulang, apa yang harus aku lakukan ma?" tanya Kevin pada mamanya.
'Wah, Angel benar-benar orang kaya. Dia cantik, baik, anggun, lembut, barang-barang mewahnya banyak. Wanita seperti itu yang seharusnya jadi menantuku, bukan Vanya itu. Dia sekarang sudah berubah menjadi sok sibuk, tidak seperti dulu sangat perhatian padaku. Lagi pula sepertinya Kevin menyukai Angel! aku harus membantunya!' batin Marta.
"Ma, kenapa malah bengong sih ma? aku harus bagaimana?" tanya Kevin yang benar-benar bingung.
"Eh, iya maaf. Mama sedang berpikir nak. Kalau menurut mama sih ya, sepertinya Angel itu juga tertarik padamu.."
"Yang benar ma?" tanya Kevin tampak antusias.
"Iya, mama lihat dari caranya bicara padamu. Kalau begini, coba kamu telepon saja Angel dan minta maaf padanya. Katakan sesuatu yang bisa membuatnya percaya kalau kamu sangat merasa bersalah!" kata Marta.
"Baik, aku akan menghubunginya!" kata Kevin yang langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Angel.
Nada tersambung terdengar di telinga Kevin, tapi cukup lama panggilan teleponnya itu tidak diterima oleh Angel. Sampai beberapa kali Kevin mencoba dan akhirnya terdengar seperti di terima, tapi Kevin harus kembali terkejut. Karena ternyata yang menerima panggilan telepon darinya itu bukan Angel.
"Untuk apa lagi kamu menghubungi Angel?" tanya sebuah suara yang langsung membuat Kevin terdiam dan melihat ke arah mamanya.
"Minta maaf!" kata Marta tanpa suara juga.
Hanya mulut mereka saja yang bergerak, tapi suaranya tidak terdengar.
"Darren, aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf atas apa yang terjadi. Jujur saja aku tidak tahu kalau dokter sehebat dokter Herman itu bisa salah...!"
"Kamu bersama Angel terus kan? apa sekalipun kamu melihat Angel itu seperti punya penyakit, apa dia terlihat sakit? apa kami sebodoh itu sampai tidak tahu kami harus sehat untuk masuk ke negara ini. Terus terang saja aku sangat kecewa padamu Kevin. Aku pikir kamu bisa menjaga adikku, kamu teman pertama Angel di sini. Tapi kamu bahkan tidak bisa menjaganya. Aku akan batalkan kontrak Angel dengan perusahaan mu...!"
"Darren tolong dengarkan aku, aku minta maaf...!"
"Jangan khawatir tentang penaltinya aku akan bayar semuanya!"
Tut Tut Tut
__ADS_1
Terdengar notifikasi panggilan telah terputus. Kevin melihat layar ponselnya, dan dia yakin kalau nomernya pasti sudah di blokir oleh Darren.
Marta juga terlihat sedih, kakak Angel terlihat sangat marah. Dia sama sekali tidak ingin kehilangan tambang emasnya. Marta pun berpikir keras dengan otak liciknya itu.
"Apa yang aku khawatir benar terjadi, Darren akan membatalkan kontrak. Bagaimana ini?" tanya Kevin.
"Iya, bahkan uang milyaran seperti itu tidak ada artinya bagi mereka. Mereka pasti sangat kaya. Kevin.. mama punya ide!" kata Marta.
Kevin langsung terlihat antusias.
"Apa ma?" tanya Kevin.
"Datangi saja rumahnya, panjat pagar dan temui Angel lewat jendela kamarnya. Itu akan membuat Angel tertarik padamu, dia pasti akan lihat pengorbanan mu untuk berusaha bertemu dengannya. Dia akan membujuk kakaknya, yang penting itu Angel, kalau kamu bisa mendapatkan hati Angel, masalah Darren itu mudah. Karena sepertinya Darren sangat menyayangi adiknya kan, dia pasti akan menuruti permintaan adiknya!" kata Marta panjang lebar.
Kevin mengangguk paham.
"Aku akan ke sana sekarang...!"
"Hei, nanti malam saja, akan lebih dramatis kalau kamu melakukan itu pada malam hari. Di film-film begitu!" kata Marta yang memang hobi nonton telenovela.
"Tapi ma, kalau malam aku bisa di sangka pencuri!" bantah Kevin
"Hei, kamu memang mau mencuri kan. Mencuri hati Angel, calon menantu mama!" kata Marta tersenyum senang.
Sementara itu di perusahaan, Vanya tampak kesal. Karena Kevin tak kunjung kembali, Vanya sudah terlanjur kesal karena sejak tadi dia menghubungi Kevin tidak di angkat, dia terlanjur mematikan ponselnya juga karena kesal.
"Kemana sih dia, jam segini belum kembali. Jangan-jangan dia pergi dengan wanita genit itu!" gerutunya kesal.
***
Bersambung...
__ADS_1