Beautiful Revenge Istri Yang Di Lenyapkan

Beautiful Revenge Istri Yang Di Lenyapkan
Bab 31


__ADS_3

Kevin kembali ke rumahnya saat dia melihat Vanya bicara kasar pada mamanya.


"Ada apa ini?" tanya Kevin yang langsung menghampiri Marta.


Marta yang melihat Kevin, dengan cepat menangis dan memeluk anaknya itu.


"Lihatlah dia Kevin, Vanya sudah berubah. Dia bilang kalau kamu akan lebih memilih dia tinggal di rumah ini daripada mama, dia bicara kasar sekali pada mama!" ucap Marta mengadu pada Kevin.


"Apa yang kamu katakan pada mamaku Vanya? aku bilang apa soal mengalah dan menurut pada mamaku?" tanya Kevin.


Vanya yang melihat posisinya sedang tidak menguntungkan sama sekali kali ini. Memilih untuk pergi dan masuk ke dalam kamarnya, meski dia menggertak Marta tadi. Sesungguhnya Vanya tahu kalau Kevin sangat menyayangi mamanya.


"Lihat itu kelakuannya, sekarang saja dia sudah berani bicara seperti itu pada mama. Besok mungkin dia akan mengusir mama Kevin" kata Marta menyulut api lebih besar pada perselisihan Vanya dan Kevin.


Marta merasa kalau Angel ratusan kali lebih baik dari Vanya. Hingga Marta juga ingin Kevin bersikap tegas pada Vanya.


"Ma, aku akan menegurnya. Dia tidak akan seperti itu lagi pada Mama..."


"Kenapa sih kamu tidak putus saja dengannya dan mengusirnya. Dia sama sekali sudah tidak berguna Kevin" kata Marta lagi.


"Iya ma, aku tahu. Tapi tidak semudah itu, dia punya mata-mata yang aku tidak tahu itu siapa di perusahaan. Belum lagi, saudaranya yang polisi itu, yang punya bukti kalau aku yang menabrak mobil Eva dan menyingkirkan Eva, belum lagi penggelapan dana perusahaan yang kami lakukan, semua itu dia yang mengaturnya, ma. Aku akan singkirkan dia, tapi tidak saat ini. Sekarang aku akan fokus pada Angel dulu" jelas Kevin panjang lebar pada Marta.


Wajah Marta seketika berubah.


"Oh ya, mama sampai lupa. Apa rencana kita berhasil, apa kamu berhasil membuatnya tidak punya pilihan lain selain menikah denganmu!" tanya Marta yang sudah tidak sabar mendengar kabar baik dari Kevin.


Kevin mengangguk.


"Berhasil ma, aku bahkan sudah menemui kakaknya Angel, dia setuju aku dan Angel bertunangan. Tapi..."

__ADS_1


"Tapi apa?" tanya Marta antusias, sangat antusias, sangat terlihat dari wajahnya yang seperti menunggu nomer door prize di bacakan.


"Tapi Darren minta aku memberikan semua saham di perusahaan papa mertua atas nama Angel" jawab Kevin yang agak ragu soal masalah ini.


"Hais, sudah berikan saja. Ganti saja dengan nama Angel, dia juga akan menikah denganmu kan? nanti setelah menikah, kamu bisa merayu Angel untuk mengembalikan lagi saham itu padamu. Lagipula Angel itu sangat kaya, saham segitu tidak penting untuknya" kata Marta yang begitu yakin kalau Angel itu benar-benar sudah jatuh pada jeratan cinta Kevin.


Mereka sama sekali tidak tahu, kalau wanita yang mereka pikir sudah jatuh pada jebakan mereka sedang menyiapkan rencana yang nyaris berhasil membawa Kevin, Vanya dan Marta pada kehancuran mereka.


Sementara itu di rumah Darren, setelah makan malam. Angel pergi ke kamar Darren, karena Darren memanggilnya.


"Ada apa kak?" tanya Angel setelah masuk ke dalam kamar Darren.


"Tutup pintunya Angel" seru Darren.


Angel langsung menutup pintu kamar kakaknya itu.


Angel mengangguk mengerti. Meski itu akan sangat menyedihkan baginya kalau sampai papanya menganggap dirinya wanita tidak baik atau komersil karena menerima semua saham Kevin. Tapi justru hal itu dia lakukan untuk kebaikan papanya.


Dengan Kevin kehilangan kuasa, maka dia tidak akan bisa menguasai perusahaan dan seluruh aset William Mukhtar. Artinya, perusahaan dan harta William Mukhtar akan aman dari Kevin dan Vanya. Tinggal mereka mencari cara untuk membuktikan penggelapan dana yang di lakukan oleh Kevin dan Vanya supaya dua orang jahat itu bisa di usir dari AW Company.


Angel meraih dokumen itu, dan berkata.


"Baik kak, aku mengerti" kata Angel.


"Jangan bicara sepatah kata pun pada William Mukhtar saat dia marah. Biarkan saja dia marah, karena kalau kamu bicara mungkin dia akan semakin marah. Itu tidak akan baik untuk kesehatannya" kata Darren dan langsung di angguki lagi oleh Angel.


"Iya kak, aku akan kembali ke kamarku.."


Tapi saat Angel berkata begitu, Darren menahan Angel dengan memegang pergelangan tangan Angel yang akan berbalik menuju ke arah pintu kamar Darren.

__ADS_1


Merasa tangannya di pegang, Angel pun melihat ke arah tangan Darren yang menggenggam pergelangan tangannya itu. Tidak terlalu kuat, tapi cukup menghentikan Angel.


Angel juga mengalihkan pandangan ke arah Darren yang tengah menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa di jelaskan.


"Apa kamu perlu kembali ke kamarmu?" tanya Darren yang terdengar ambigu bagi Angel.


Angel mencoba mencerna dengan baik apa yang Darren katakan padanya itu. Pertanyaan yang terdengar sulit di terjemahkan dengan sekali pikir.


Melihat Angel diam, Darren melepaskan tangan Angel. Tapi memeluk pinggang wanita itu. Membuat wajah Angel tersipu.


"Setelah yang kita lalui, tidak bisa kah jika kita tinggal dalam satu kamar?" tanya Darren yang langsung membuat Angel mengerti apa maksud Darren.


Darren meraih dokumen yang tadi dia berikan pada Angel dari tangan Angel. Lalu meletakkannya di atas meja yang tak jauh dari posisi mereka berdiri.


Darren kemudian meraih dagu Angel dan mengecup bibir wanita itu dengan mesra. Satu kali kecupan, dua kali, dan tiga kali. Darren menempelkan keningnya di kening Angel.


"Mulai sekarang, kamar ini adalah kamarmu juga Eva Tatiana" kata Darren membuat jantung Angel berdetak dengan cepat.


Mengetahui kalau Darren benar-benar menyukainya sebagai Eva bukan Angel. Membuat Angel merasa tidak bisa menjelaskan perasaannya saat ini. Tapi detak jantungnya tak bisa berbohong. Debaran jantung yang begitu kencang itu menjelaskan segalanya.


Darren menggendong Angel ke tempat tidur, mengungkungnya dan mengabsen setiap bagian tubuh Angel sebelum keduanya terlarut dalam panasnya gelora asmara yang membuat keduanya terlena.


Dinginnya malam yang biasa di rasakan oleh Darren, kini berganti dengan kehangatan. Kesepian yang selama ini menemaninya, tak akan pernah lagi dia rasakan. Dan kesendirian itu, telah berganti menjadi kebahagiaan yang sedang dia perjuangkan.


Angel tak kuasa menahan suaranya ketika dia merasakan kalau Darren benar-benar membuatnya kuwalahan. Rasa yang tak pernah dia dapatkan meski sudah beberapa kali melakukannya dengan Kevin. Benar-benar berbeda, dan tentu saja berbeda. Karena Darren melakukannya dengan cinta. Sedangkan Kevin saat itu karena keterpaksaan saja.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2