
Kevin tampak memasang wajah tidak senang akan apa yang dia dengar dari Angel.
"Kevin, aku harus pergi. Para kru menungguku!" kata Angel yang terkesan terburu-buru.
Hal itu bukan dilakukan oleh Angel tanpa alasan. Angel sudah banyak belajar dari Darren. Bahwa jangan pernah membiarkan seseorang yang sedang kita kacaukan pemikirannya untuk bisa berpikir dengan tenang. Karena itu akan membuat sugesti yang kita berikan kepada orang yang kita ajak bicara itu menjadi percuma saja.
Karena sepertinya tadi Kevin tampak berpikir apakah yang dikatakan oleh Angel itu benar atau tidak. Maka Angel harus membuat sebuah kondisi yang seolah-olah memang dia tidak mengatakan hal itu untuk menjelekkan Vanya. Tapi memang kenyataannya seperti itu.
"Oh, iya. Nanti kirim lokasinya padaku ya. Aku akan ke sana dan melihat bagaimana proses pengambilan gambar pertama mu!" kata Kevin yang segera di angguki oleh Angel.
Angel pun langsung pergi dengan buru-buru mengikuti para kru. Sedangkan Kevin, pria itu terlihat menghela nafasnya lalu pergi ke ruangan Vanya.
Tanpa mengetuk pintu ruangan terlebih dulu, Kevin langsung main masuk saja ke ruangan Vanya setelah membuka pintu.
"Sayang, tumben kamu kemari. Ada apa? apa kamu merindukan ku?" tanya Vanya yang langsung mendekati Kevin dan langsung memeluk pria itu di tambah Vanya yang langsung menempelkan dua gundukan besar di dadanya itu di lengan Kevin.
"Vanya hentikan!" kata Kevin yang menarik lengan Vanya dan membawa perempuan itu ke depannya.
Vanya terkejut bukan main, baru kali ini Kevin menolaknya.
"Mas, kamu..!"
"Ada hal penting yang harus aku bicarakan padamu! Kenapa kamu menyuruh Angel syuting di rooftop. Apa kita sudah semiskin itu sampai tidak mampu menyewa hotel atau villa untuk syuting?" tanya Kevin pada Vanya.
Raut wajah Vanya sekejap langsung berubah. Vanya terlihat sangat tidak senang.
'Pasti wanita genit itu yang mengadu pada Kevin. Dasar wanita genit!' batin Vanya kesal pada Angel dan mengumpat wanita itu dalam hati.
Tapi melihat wajah Kevin yang serius, sampai menolak godaannya. Vanya berpikir kalau Kevin benar-benar marah padanya. Jadi untuk menghindari kemarahan yang lebih besar lagi dari Kevin. Vanya pun meminta maaf dan mendekati Kevin lagi.
Kali ini Vanya memeluk pria itu dari belakang dan mencium tengkuk Kevin dengan begitu menggoda. Sambil mengeluarkan suara yang begitu meresahkan bagi pria penyuka wanita agresif macam Kevin.
"Mas, jangan marah padaku. Aku hanya mengatakan kepada sutradara Decky, sutradara yang di tunjuk Justin itu kalau klien maunya pengambilan gambarnya dengan latar siang, berangin. Mana aku tahu kalau yang dia pikirkan malah rooftop!" kata Vanya yang tangannya sedari tadi sudah sibuk menggerayang kemana-mana.
Membuat Kevin yang tadinya marah pada Vanya, menjadi tidak bisa berpikir dengan benar dan langsung percaya pada Vanya.
__ADS_1
"Sayang, karena kru sedang promosi. Bisa kan kalau kita satu kali main di atas meja ini. Aku akan kunci pintunya dulu?" kata Vanya yang langsung bergegas ke arah pintu dan mengunci pintu ruangannya.
Vanya kembali pada Kevin dan mengarahkan kedua tangan Kevin ke bokonggnya dan membiarkan tangan lebar Kevin itu bermain di sana. Itu adalah salah satu bagian tubuh Vanya yang di sukai oleh Kevin karena sangat padat berisi. Sementara Vanya sibuk memanjakan bibir Kevin dengan bibir dan lehernya.
Sementara Angel sudah mengirimkan alamat villa Darren. Sudah hampir setengah jam, tapi belum juga ada tanda kalau pesan itu sudah di baca oleh Kevin. Dia hanya bisa menghela nafas, Angel yakin wanita itu sudah berhasil kembali merayu Kevin.
Tapi Angel sama sekali tidak perduli dengan hal itu. Karena dia memang sudah tidak punya perasaan apapun lagi kepada Kevin selain dendam.
Syuting sudah hampir berakhir, ketika mobil Kevin sampai di villa itu. Villa yang cukup besar.
"Oke, take terakhir ya Angel. Tunjukkan kepribadian sebagai Luxury, oke!" kata sutradara Decky.
Angel pun mengangguk paham, bibir merah merona dengan pakaian biru muda berpadu putih di bagian bawah gaun itu membuat Angel benar-benar terlihat sangat menawan.
Belahan sampai ke lima centimeter di atas lutut, membuat gaya Angel benar-benar membuat para pria penasaran. Tatapan mata tajam, dan gerakan tubuh yang tegas. Membuat sutradara Decky agak terkejut.
"Dia benar-benar seperti seorang malaikat!" gumam sutradara Decky yang terdengar oleh Kevin yang berada di belakangnya.
Kevin melihat ke arah Angel, dan memang benar. Angel benar-benar sangat cantik, anggun dan mahal.
Semua tepuk tangan, karena proses pengambilan gambar sama sekali tidak perlu di ulang sampai lebih dari tiga kali. Semuanya senang karena Angel begitu pengertian dan sangat mempermudah pekerjaan semua kru.
Penata kostum, penata rias, pengarah gaya, semuanya memberikan selamat pada Angel.
"Dia benar-benar istimewa. Aku senang bekerja sama dengan brand ambassador mu ini tuan Kevin!" kata sutradara Decky.
Kevin tampak tersenyum senang. Masalahnya dia sebelumnya tidak pernah mendapatkan pujian dari sutradara Decky yang di kenal kritis dan pemilih dalam mencari model.
"Baguslah kalau semua berjalan lancar. Aku sudah bawakan makan siang. Kalian bisa makan siang dulu sebelum kembali ke kantor Justin!" kata Kevin yang di angguki oleh sutradara Decky.
Kevin pun, lalu menghampiri Angel yang akan berganti pakaian.
"Pakaian itu sangat cocok dengan mu!" puji Kevin.
"Hai, terimakasih. Aku akan ganti pakaian dulu!" kata Angel yang kemudian masuk ke dalam sebuah kamar ganti.
__ADS_1
Tapi ketika semua orang sudah pergi, Angel keluar lagi dari kamar itu.
Kevin yang masih memandangi bangunan villa yang cukup mewah itu pun menoleh ke arah Angel.
"Angel, ada apa?" tanya Kevin.
"Apa kamu lihat salah satu kru dari wardrobe? aku.. aku tidak bisa membuka resleting gaun ini!" kata Angel yang membuktikan kalau tangganya agak susah meraih resleting gaun yang dia kenakan.
"Mereka sedang makan siang, jika kamu tidak keberatan aku bisa membantumu. Aku janji, aku akan memalingkan wajah ketika membuka resleting gaun itu!" kata Kevin.
Setelah berpikir beberapa saat, Angel pun mengangguk pelan.
"Baiklah, maaf sudah merepotkan!" kata Angel yang berjalan ke arah kamar ganti.
Kevin mengikuti Angel, Angel menyingkap rambutnya ke arah kiri depan. Melihat itu saja, jakun Kevin sudah naik turun.
Apalagi ketika tangannya meraba leher putih dan mulus Angel. Kevin di buat tidak bisa berpikir jernih.
"Kevin, bisa tidak?" tanya Angel.
Kevin yang termangu pun langsung menarik resleting itu ke bawah, dan ternyata Angel memang tidak mengenakan pakaian dalam. Semakin tidak karuan Kevin melihat punggung mulus dan putih seperti giok itu. Tangannya perlahan menyentuh punggung itu, Angel sengaja membiarkannya. Dan Kevin sampai tidak sadar kalau tangannya sudah sampai hampir ke pinggul Angel.
"Angel!" sebuah suara membuat Kevin langsung sadar dari segala macam halusinasinya tentang Angel.
Kevin menoleh ke arah belakang, dan itu ternyata Darren.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Darren dengan wajah serius.
"Kak, Kevin membantuku membuka resleting gaun...!"
"Biar aku saja, silahkan keluar tuan Kevin!" kata Darren tegas.
Kevin pun langsung keluar, dan Darren menutup pintu. Begitu pintu tertutup, Kevin melihat ke arah tangannya. Perasaan yang begitu berbeda ketika dia menyentuh Vanya. Sepertinya rencana Angel dan Darren mulai berhasil untuk membuat Kevin berpaling dari Vanya. Dan pada akhirnya, mereka akan saling membongkar kebusukan masing-masing.
***
__ADS_1
Bersambung...