
Marta menjadi lebih baik setelah di beri sapu tangan yang harganya dua digit itu oleh Angel.
Bahkan dia sampai mengantarkan Angel keluar dari kamarnya, saat Angel mengatakan harus pulang dulu karena kakaknya sudah memintanya kembali.
Vanya yang melihat Marta keluar dari kamarnya dengan senyum cerah di wajahnya juga bisa berjalan dengan biasa membuat Marta mendengus kesal dalam hatinya.
'Ini orang tua benar-benar ya, tadi saja dia minta ini itu sama aku. Katanya gak bisa jalan, bicara susah. Minta ini, minta buatin itu. Sekarang dia terlihat begitu sehat. Benar-benar, senang sekali menyusahkan aku!' batin Vanya yang kesal bukan main.
Kevin yang melihat namanya berjalan keluar kamar pun jadi terkejut. Kevin lantas segera mendekati mamanya itu dan merangkul lengannya.
"Ma, kenapa keluar. Memangnya mama sudah sehat?" tanya Kevin.
Dari wajahnya terlihat jelas kalau Kevin sangat perduli dan khawatir pada mamanya itu.
"Mama sudah tidak apa-apa. Angel mau pulang jadi mama antar dia. Angel ini anak yang sangat baik. Mama senang kamu berteman dengan dia!" kata Marta.
Vanya yang mendengar kata-kata Marta seperti itu di depan wajahnya merasa begitu kesal.
'Jangan sampai wanita tua ini berpikir kalau Kevin harus mendekati wanita ini. Aku tidak sudi bersabar dan menunggu lagi. Enak saja, aku sudah bersabar satu tahun. Benar-benar!' gerutu Vanya dalam hatinya.
Angel melihat wajah Vanya yang begitu kesal pada Marta. Dia tersenyum puas dalam hatinya.
Angel pun ingin membuat Vanya lebih kesal lagi.
"Kevin, aku harus pulang. Tapi mobilku kan...!"
"Aku akan mengantarmu ke rumah mu Angel, aku tidak membiarkan mu pulang sendirian. Aku yang mengajak mu kemari, tentu saja aku yang harus mengantarkan kamu pulang, dan memastikan kamu sampai di rumah dengan aman dan selamat!" kata Kevin yang mulai mengeluarkan kata-kata manis dari mulutnya yang berbisa.
Vanya sudah mengepalkan tangannya di belakang punggungnya. Untungnya Kevin sudah berjanji kalau mereka akan menikah dua bulan lagi. Kalau tidak Vanya pasti sudah memprotes apa yang dilakukan Kevin pada Angel.
Kevin pun mengantarkan Angel pulang, sepanjang perjalanan pulang Kevin terus mencoba untuk merayu Angel dengan memujinya dan mengatakan semua yang baik tentang Angel yang punya perduli besar pada mamanya.
"Kamu begitu baik, mamaku sampai langsung sembuh setelah di jenguk olehmu. Jika kamu sedang tidak sibuk, mama akan senang sekali kalau kamu mau sering-sering main ke rumah!" kata Kevin.
Ucapan seperti itu tentu saja akan membuat seorang wanita merasa senang bukan. Kevin memang sangat menyayangi mamanya. Dan wanita yang di ajak ke rumah lalu di kenalkan dengan baik dengan ibu seorang pria pasti akan lebih respect pada pria tersebut.
Dulu itu yang di rasakan oleh Eva, apalagi sikap mamanya Kevin sangat baik dan welcome padanya. Eva jadi merasa senang, seperti ada tempat lain selain rumahnya tempat untuk dia bisa menghabiskan waktu dan bercerita banyak hal. Tapi sayangnya semua itu hanya sandiwara.
__ADS_1
Angel lantas menoleh ke arah Kevin.
"Kevin, apa kamu tidak kasihan pada mamamu. Rumahmu itu besar, Vanya bekerja, mama kamu yang pada akhirnya akan mengurus semua pekerjaan rumah kan? aku dan kakakku juga baru pindah, jika kamu mau, aku punya nomer yayasan penyalur asisten rumah tangga yang baik, rajin, dan jujur. Bagaimana?" tanya Angel.
Kevin cukup tercengang, dia tidak menyangkal kalau Angel begitu perduli pada mamanya. Padahal dia mengatakan itu semua, karena ingin memasukkan seorang anak buah Darren ke rumah Kevin itu.
"Kamu begitu perduli pada mamaku? terus terang aku sangat tersentuh Angel!" kata Kevin dengan suara lembut.
"Kevin, aku sudah tidak punya mama. Melihat mamamu yang begitu baik, aku tidak tega saja. Berikan ponselmu, aku akan simpan nomer pemilik yayasan itu di ponselmu!" kata Angel.
"Bagaimana kalau dengan nomer ponselmu juga?" tanya Kevin sambil menyerahkan ponselnya pada Angel.
"Baiklah!" kata Angel.
Kevin bersorak senang dalam hatinya mendapatkan nomer pribadi Angel. Setibanya di depan pintu gerbang rumah yang terlihat seperti mansion itu. Kevin lagi-lagi di buat tercengang. Rumah itu sangat besar, arsitektur gaya Eropa. Wajar saja, karena dengar-dengar mereka keluarga Nickolay memang masih keturunan Jerman.
Tapi Kevin tidak menyangka akan sebesar itu rumah Angel.
'Dia benar-benar konglomerat!' batin Kevin.
"Kamu sangat penurut pada kakakmu?" tanya Kevin.
"Hanya dia yang aku miliki di dunia ini!" jawab Angel.
"Baiklah, aku akan pulang. Mobilmu akan segera di kirimkan kemari. Senang bisa bersamamu hari ini Angel!" kata Kevin melambaikan tangannya pada Angel.
Begitu mobil Kevin tidak terlihat, Angel meminta salah satu supirnya untuk mengantarkan dirinya ke rumah William Mukhtar. Dia harus mencari tahu tentang obat-obatan yang di berikan pada papanya. Yang kata Vanya, sudah di ganti.
Begitu sampai di depan rumah William Mukhtar. Angel turun dan membunyikan bel.
"Nona!" sapa bi Welas yang membukakan pintu.
"Selamat sore bi, maaf aku datang tanpa memberitahu. Boleh aku masuk?" tanya Angel.
"Silahkan nona!" kata ni Welas.
Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Bi, apa paman William ada?" tanya Angel.
"Tuan sedang pergi dengan paman Peter. Beliau bilang mau check up ke dokter!" kata bi Welas.
"Begitu ya bi!" ucap Angel terlihat kecewa.
"Ada apa non?" tanya bi Welas.
"Jadi begini Bi, kemarin aku pakai anting berlian pemberian kakakku, tapi saat aku kembali ternyata anting itu sudah tidak ada. Aku mencarinya di dalam mobil tidak ada. Apa aku boleh menantunya di sini bi?" tanya Angel.
"Oh tentu saja non, seperti apa antingnya? biar bibi bantu?" tanya bi Welas.
Angel pun memperlihatkan sebuah anting berlian yang sangat kecil.
"Wah, kelihatannya kecil tapi berlian semua ya non. Pasti harganya mahal, bibi akan batu dari non!" kata bi Welas.
Saat bi Welas membantu Angel mencari, saat itulah Angel menyelinap ke kamar William Mukhtar dan mengambil satu persatu obat yang ada di atas meja dan memasukkannya ke dalam tissue yang ada di tas. Setelah selesai Angel buru-buru keluar dari kamar.
Beberapa asisten rumah tangga lain juga ikut membantu, Angel pun berpura-pura mencari di belakang guci besar yang ada di ruang tengah. Dimana kemarin di adakan pengajian bersama itu.
"Ah ketemu?" kata Angel mengeluarkan satu anting lagi dari tasnya.
Mendengar Angel berseru, bi Welas mendekatinya.
"Sudah ketemu non?" tanya Bi welas.
"Iya bi, ini!" jawab Angel memperlihatkan dia buah anting berlian di tangannya.
"Ketemu di situ, di bawah guci itu. Mungkin tersapu. Kalau begitu terima kasih banyak ya bi, maaf sudah mengganggu!" kata Angel sangat ramah.
"Tidak apa-apa non, sama-sama!" kata bi Welas.
Angel pun pamit pulang, saat di perjalanan dia menghubungi Darren. Dan Darren memintanya pergi ke ruang sakit. Ke tempat dokter Frans, teman Darren untuk memeriksa obat yang di ambil Angel dari kamar William Mukhtar tadi.
***
Bersambung...
__ADS_1