
Begitu sampai di penjara, William Mukhtar tampak menunggu dengan diam di ruang besuk. Angel dan Viktor hanya melihat dari dinding kaca ruang besuk tahanan itu. Mereka berada di luar ruang besuk.
Begitu dokter Herman datang, dokter Herman langsung duduk di depan William Mukhtar. Dari wajahnya yang tak tampak sama sekali terkejut dan merasa bersalah. Sepertinya dokter Herman memang sudah tahu, kalau kedatangan William Mukhtar pasti akan menuntutnya karena sudah tahu kalau obat yang dia berikan adalah resep yang tidak benar.
"Katakan apa alasan yang membuatmu memberikan resep yang salah Herman?" tanya William Mukhtar dengan raut wajah datar.
"Aku tidak sengaja, aku memang salah. Aku mengaku salah, tuntut saja aku!" kata dokter Herman yang sudah pasrah.
Dokter Herman sudah tidak bisa mengelak lagi. Jadi lebih baik baginya mengaku, lalu sidang dan di penjara. Toh keluarganya akan aman dengan uang bulanan yang akan di berikan Vanya dan Kevin setiap bulannya.
"Bukankah kalau kamu ingin yang lebih kamu bisa mengatakannya padaku?" tanya William Mukhtar.
"Aku tahu, aku sudah bilang aku salah. Sudahlah, cari saja dokter terbaik. Obat itu pasti masih bisa di atasi!" kata dokter Herman lagi dan langsung pergi meninggalkan William Mukhtar begitu saja.
Mereka seumuran, mereka juga teman saat kuliah dulu. Mana William Mukhtar menyangka kalau dokter Herman bisa berbuat seperti itu.
William Mukhtar terlihat sedih, Angel yang melihatnya jadi sangat tidak tega. Dia tahu papanya itu sedang sangat kecewa saat ini.
Begitu William Mukhtar keluar dari ruang besuk, Angel segera menghampirinya.
"Paman, kita pulang saja ya. Paman terlihat lelah!" kata Angel khawatir.
Sampai di rumah William Mukhtar, Angel memasak untuk papanya itu. Angel juga banyak bercerita dan mengajak William Mukhtar mengobrol. Hingga William Mukhtar tidak lagi sedih memikirkan masalah dokter Herman yang memang harus mempertanggung jawabkan semua perbuatannya.
Sementara itu di perusahaan, Justin tampak datang ke ruangan Kevin.
"Apa yang terjadi?" tanya Justin.
"Maksud mu!" tanya Kevin tidak mengerti.
__ADS_1
"Pengacara Darren Nickolay datang ke perusahaan, dan mengatakan kalau Angel membatalkan kontrak kerja sama, lihat ini...!"
Justin mengeluarkan sebuah cek dengan nominal yang fantastis lalu meletakkan di atas meja di depan Kevin.
"Apa yang terjadi?" tanya Justin.
Kevin mengusap wajahnya kasar.
"Semua ini salahku, aku akan membujuk Angel!" kata Kevin yang merobek begitu saja cek dengan nilai fantastis itu.
Justin sedikit terkejut. Sekarang dia yakin kalau Kevin memang punya perasaan pada Angel, sebab kalau tidak, untuk apa dia merobek cek itu. Bukankah itu bisa menutup biaya produksi iklan dan operasional selama ini. Mereka bisa saja melakukan audisi lagi. Tapi malah di robek ceknya, tanpa pikir panjang.
"Kamu menyukai Angel ya?" tanya Justin.
Mendengar apa yang di katakan Justin, Kevin pun menoleh dan terlihat bingung.
"Apa maksudmu Justin? istriku baru saja meninggal, belum ada...!"
"Kamu benar, tapi seperti katamu. Eva sudah meninggal, kami juga tahu bagaimana dulu kamu mencintainya. Tapi dia tidak akan pernah kembali, sementara hidupmu harus terus berjalan. Kamu punya mama yang harus kamu rawat dan jaga dengan baik, punya perusahaan ini Jang harus kamu pimpin dan urus dengan baik. Apa salahnya kalau kamu jatuh cinta lagi. Baiklah, katakan saja padaku. Jika ada yang bisa aku bantu. Aku pergi dulu, ingat ya, jangan lama-lama membujuk Angel, deadline kita 10 hari lagi!" kata Justin yang langsung pergi dari ruangan Kevin.
Kevin pun melihat ke arah perginya Justin. Lalu dia mengalihkan pandangannya ke cek yang baru saja dia sobek itu. Jumlahnya benar-benar besar, tapi kenapa saat dia mengingat Angel, seolah nominal di cek itu sama sekali tidak ada artinya di mata Kevin.
Kevin terduduk diam.
"Apa aku benar-benar menyukainya?" gumam Kevin yang belum yakin pada perasaannya.
Masalahnya dia dulu sangat mencintai Vanya, sampai tega melakukan apapun demi Vanya. Tapi sekarang dia malah sering berdebat dengan Vanya.
Kevin meraih ponselnya dan menghubungi asisten pribadinya. Setelah melakukan itu, Kevin terlihat tersenyum, sambil melihat ke layar ponselnya yang terdapat foto Angel, foto yang dia ambil diam-diam dari galeri di komputer milik editor bagian produksi perusahaannya.
__ADS_1
"Aku tidak tahu kamu suka bunga apa Angel, tapi semoga saja kamu suka dengan semua bunga yang aku kirim ke rumahmu!" kata Kevin.
Hingga malam harinya, Angel baru kembali. Asisten rumah tangga Darren sedang mengeluarkan banyak sekali buket bunga dari dalam rumah ke luar mengumpulkannya ke dalam sebuah mobil bak terbuka yang ada di depan teras.
"Bi, darimana bunga-bunga ini. Mau di bawa kemana?" tanya Angel penasaran.
Banyak sekali jenis bunga yang indah segar dan wangi baunya.
"Tadi ada beberapa kurir yang mengantar bunga-bunga ini kemari non. Tapi kata tuan Darren, suruh buang saja di tempat pembuangan sampah!" kata bibi Ani.
Angel hanya mengangguk, dia pun mengambil salah satu buket bunga mawar merah yang sudah di atas mobil pick up itu. Angel meraih kertasnya dan membacanya. Ekspresi wajah Angel begitu datar ketika membaca rangakaian kata-kata romantis dari Kevin yang di tujukan untuk dirinya.
Angel lalu membuang kertas itu dengan kasar.
'Apa kamu benar-benar tidak punya perasaan mas, sedikit saja. Istrimu baru meninggal, belum ada tiga bulan. Kamu sudah menyatakan cinta pada wanita lain, sampai seperti ini!' batin Angel yang melihat mobil pick up itu benar-benar penuh dengan buket dan karangan bunga.
Angel yang sangat sakit hati berdiri di balkonnya setelah mandi dan ganti pakaian. Saat dia melihat ke arah bawah, ke arah taman samping rumah. Angel melihat Darren yang tertidur sambil memeluk sebuah buku.
Angel tahu pasti Darren sangat lelah, pria itu sudah membantunya, mengurus perusahaannya pula. Pasti sangat lelah. Angel meraih selimut dari lemari dan membawanya turun ke bawah. Angel berjalan cepat ke arah taman, tapi setelah sampai di taman samping rumah. Angel memperlambat langkahnya.
Angel sangat berhati-hati ketika dia akan menyelimuti Darren. Tapi saat dia memasang selimut, sikunya tidak sengaja menyenggol buku yang di peluk Darren hingga terjatuh. Saat itu dia baru tahu, kalau Darren bukan membaca buku. Ada sebuah foto yang terjatuh di sana, foto dua orang dewasa, satu wanita dan satu pria. Lalu dia anak kecil, satu pria dan wanita juga. Tapi sayang, keluarga Darren sudah tidak ada semua, hanya tinggal dirinya sendiri. Darren pasti sangat sedih ketika melihat foto itu, itulah yang di pikirkan oleh Angel.
Angel yakin itu adalah keluarga Darren.
"Kamu pasti merindukan mereka ya kak!" gumam Angel pelan, sangat pelan dengan mata berkaca-kaca.
***
Bersambung...
__ADS_1