
Angel baru saja akan mengembalikan foto itu ke dalam buku. Sampai tiba-tiba hujan gerimis turun dan terpaksa, Angel membangunkan Darren agar tidak kehujanan.
Angel memeluk buku itu agar tidak terkena gerimis yang turun semakin deras, dan membangunkan Darren dengan satu tangannya.
"Kak, kak Darren bangun. Hujan kak, bangun!" ucap Angel yang menggoyangkan pelan lengan Darren.
Dia benar-benar tidak berani untuk menggoyangkan lengan Darren dengan kuat. Tapi Darren tak kunjung bangun.
Angel berlari ke arah rumah dan meletakkan buku itu di atas rak di dekat ruang tengah. Angel kembali lagi ke Darren, kali ini dia menggunakan kedua tangannya untuk menggoyang-goyangkan lengan Darren agak kuat.
Darren yang terbangun refleks menarik kedua tangan Angel. Membuat Angel terkejut sampai jatuh ke atas badan Darren.
"Agkhhh!" pekik Angel terkejut.
"Kak, ini aku ayo bangun dan masuk ke dalam rumah!" kata Angel.
Tapi Darren malah terdiam sambil memegang kedua lengan Angel dan menatap wanita yang dulu sampai sekarang masih dia anggap istimewa itu.
Angel yang terkena hujan pun menarik dirinya dan menarik tangan Darren untuk bangun. Angel menggandeng tangan Darren dan mengajak pria itu untuk masuk ke dalam rumah.
Baru setelah di dalam rumah, dan menyadari kalau pakaian dan rambut juga wajah Angel basah. Darren baru sadar apa yang terjadi.
"Angel, kamu basah kuyup!" kata Darren.
"Kakak juga!" kata Angel.
Keduanya saling melihat satu sama lain, lalu melihat diri mereka sendiri. Akhirnya mereka berdua pun terkekeh.
__ADS_1
"Maaf, aku...!"
"Tidak apa-apa kak, sebaiknya kita ganti baju sekarang. Sebelum kak Darren masuk angin!" kata Angel yang bergegas menuju kamarnya.
Angel yang baru mandi tadi, akhirnya harus mandi lagi dan menyiram kepalanya supaya tidak pusing karena terkena air hujan.
Tapi saat dia ganti baju dan mengeringkan rambutnya, dia ingat buku Darren yang ada foto keluarganya itu. Angel takut kalau Darren mencarinya di taman lagi, sementara hari masih hujan. Angel takut dia kehujanan. Angel pun langsung turun dan mengambil buku yang masih ada di atas rak. Melihat ke taman, takutnya Darren mencari buku itu disana, tapi ternyata tidak ada Angel melihat Darren di sana. Angel pun menuju ke kamar Darren.
Dan Darren dia juga baru selesai mandi lagi, setelah ganti baju dia baru ingat tentang foto keluarga yang dia selipkan di dalam buku. Tanpa meletakkan handuk yang tadi dia pakai untuk mengeringkan rambutnya, Darren bergegas membuka pintu untuk ke taman lagi dan mengambil bukunya.
Tapi baru saja Darren membuka pintu, ternyata Angel ada di depan pintu dengan sebuah buku di tangannya.
"Kak, ini bukumu!" kata Angel menyerahkan buku Pitu pada Darren.
Darren menerimanya dan memeriksanya.
"Iya, aku menyelamatkan buku itu terlebih dulu baru kamu!" kata Angel sambil tersenyum.
Angel merasa dia sudah memberikan buku itu dan keperluannya sudah beres, Angel berniat kembali ke kamarnya.
Tapi saat Angel akan berbalik, Darren menahan tangan Angel.
Angel terkejut, Darren menggenggam tangan Angel dengan erat. Dan saat itu terjadi, Angel merasa detak jantungnya menjadi dua kali lebih cepat dari biasanya.
Angel menatap ke arah Darren yang juga sedang menatapnya. Manik mata kebiruan itu membuat jantung Angel mau mencelos saja. Tatapan Darren seperti membuat waktu berhenti di sekitar Angel.
"Kamu melihatnya kan? foto di dalam buku ini?" tanya Darren.
__ADS_1
Angel mengangguk ragu, dia pikir Darren menahannya karena ingin marah. Tapi tatapannya tidak mengatakan seperti itu. Jadi Angel pikir lebih baik dia minta maaf pada Darren atas sikapnya yang memang lancang itu. Tapi itu juga tidak di sengaja sebenarnya.
"Maaf kak, tadi bukunya terjatuh. Aku tidak sengaja melihatnya, tapi aku langsung masukkan lagi ke dalam buku!" kata Angel.
"Aku pikir aku memang harus menceritakannya padamu. Kita bisa duduk sebentar di dalam!" kata Darren yang memang tidak ingin orang lain tahu, dia hanya ingin bercerita pada Angel saja.
Karena menurut Darren, Angel harus tahu seperti apa keluarganya. Tangan Darren masih menggandeng Angel saat masuk ke dalam kamarnya.
Darren mengajak Angel untuk duduk di sofa bersamanya.
"Ini adalah ayah, ibu dan adikku!" kata Darren mengawali ceritanya.
"Awalnya kami adalah kelurga yang begitu bahagia bukan? hingga suatu kejadian dimana hanya keluarga Nickolay dan penjaga rumah serta asisten rumah tangga kami saja yang tahu. Seorang wanita datang dengan perut buncit, mengaku tengah hamil 7 bulan oleh ayahku. Dan ayahku tidak memungkiri hal itu, ayah tidak mengelak. Ibuku yang begitu kecewa pada ayah, meninggalkan rumah dan membawa adikku ke Jerman, ibu menarik tangan ku tapi ayah juga menahan ku agar tetap di sini. Sejak itu rumah yang dulunya hangat ini, seperti di neraka saja. Ayah tidak mau menikahi wanita itu, tapi tidak membiarkan wanita itu pergi. Wanita itu akan melahirkan suatu malam, dan ayah mengantarnya ke rumah sakit. Tapi ayah tak pernah kembali. Ayah kecelakaan katanya, tapi mayatnya tidak pernah di temukan. Ibu kembali bersama adikku, tapi setelah bertahun-tahun, tepatnya saat aku hampir lulus SMA waktu itu, kakek di Jerman meninggal. Perusahaan di sini di teruskan oleh orang kepercayaan ayah dan ibu. Meski terlihat baik-baik saja, aku tahu ibuku sangat terluka. Saat adikku SMA di Jerman, ibu yang sudah sakit-sakitan meninggal. Aku mengurus adikku dengan baik, sampai dia jatuh cinta pada seorang pria yang pada akhirnya menyakitinya dan membuatnya mengakhiri hidupnya!"
Tangis Darren mengiringi berakhirnya cerita Darren.
"Kamar utama di bawah itu, adalah kamar wanita itu saat tinggal di rumah ini. Wanita yang telah merusak kebahagiaan keluargaku. Aku tidak membiarkan siapapun membuka kamar itu, kalau bisa aku ingin membakar kamar itu, tapi bagian di rumah ini juga mengingatkan aku pada ibuku. Aku tidak tahu harus bagaimana?" lirih Darren di sela Isak tangisnya.
Kini Angel mengerti kenapa Darren antara senang dan tidak senang kembali ke rumah ini. Ibunya menjadi wanita yang di khianati oleh ayahnya sampai sakit hati dan akhirnya meninggal, adiknya menjadi wanita yang juga di khianati oleh orang yang dia cintai, suaminya dan akhirnya memilih mengakhiri hidupnya. Angel pikir mungkin semua itu yang membuat Darren tidak suka pada pengkhianatan dan membantunya.
Angel pikir Darren pasti sangat sedih, dia benar-benar tidak punya siapapun lagi. Ibu dav adiknya juga pergi dengan cara seperti itu. Pasti sangat sulit bagi Darren.
Melihat Darren menangis sedih, Angel mendekat ke arah Darren. Darren selalu memberinya dukungan, Angel pikir dia juga harus memberikan sandaran pada Darren. Dengan ragu, Angel mengusap wajah Darren, memeluk Darren agar bisa menumpahkan tangisnya di pelukan Angel.
***
Bersambung...
__ADS_1