
Angel masih memeluk erat selimutnya dan mengubah posisinya setelah merasa silau karena Darren memang membuka tirai jendela sambil tersenyum ke arah Angel.
Darren berjalan ke arah Angel, karena dia tadinya membuka tirai jendela itu supaya Angel bangun, tapi ternyata dia tidak berhasil. Dan hal itu membuat Darren gemas.
Darren memeluk Angel dan mencium punggungnya yang terekspos itu.
Angel hanya melenguh pelan, karena merasa terganggu.
"Sayang bangun..."
Mata Angel terbuka perlahan, dia tidak pernah mendengar panggilan itu sebelumnya.
"Kak..."
"Jangan panggil kak, panggil sayang" kata Darren yang memang merasa kalau hubungannya dengan Angel sudah sampai tahap itu.
"Tapi..."
"Panggil aku sayang atau aku akan memakan mu lagi" kata Darren yang menggigit daun telinga Angel pelan.
"Ah... iya iya, hentikan sayang" kata Angel dengan pipi merah karena tersipu.
Darren memeluk Angel semakin erat.
"Sebenarnya aku masih ingin bersamamu, tapi kamu harus bangun dan segera ke kantor Kevin. Keributan besar akan terjadi, tapi percayalah. Aku selalu ada di belakangmu" kata Darren yang mendaratkan sebuah ciuman lagi di pipi Angel.
Angel merasa yakin, keyakinannya bertambah saat ini. Seperti yang sudah di beritahukan Darren padanya. Hari ini, untuk pertama kalinya dia akan mendapatkan amarah papanya. Tapi dia harus melakukan itu, karena semua ini juga demi kebaikan papanya, agar sang papa bisa terlepas dari jerat Kevin dan Vanya.
Setelah sarapan, Angel pun di antarkan oleh Darren ke perusahaan AW Company.
"Kamu pasti bisa melakukannya dengan baik, oke" kata Darren, Angel mengangguk mengerti.
Angel pun turun dari dalam mobil dengan dokumen itu di tangannya. Tapi saat dia berada di lobi, dia bertemu dengan Vanya yang akan menuju ke lift.
Angel hanya melihat ke arah w
Vanya sekilas saja. Dia merasa sebaiknya memang menghindar wanita itu sampai Kevin mau tanda tangan surat yang dia bawa.
Tapi tampaknya semakin di acuhkan oleh Angel, membuat Vanya merasa tidak terima.
__ADS_1
"Hei, kamu cuma brand ambassador di perusahaan ini. Jangan bertingkah seolah kamu pemilik perusahaan!" kata Vanya yang tegas dan jelas tidak menyukai sikap Angel itu padanya.
Angel masih tidak menghiraukan apa yang di katakan oleh Vanya padanya. Lagipula sama sekali tidak ada gunanya meladeni Vanya. Angel langsung berjalan ke arah lift begitu melihat pintu lift terbuka.
Melihat hal itu, tentu saja harga diri Angel terluka. Bagaimana bisa dia acuhkan seperti itu, dia adalah salah satu direktur di perusahaan ini. Dengan kesal Vanya menarik tangan Angel yang akan masuk ke dalam lift. Tapi Angel langsung menepisnya dengan tegas.
"Aku tahu kamu memang tidak punya malu, tapi setidaknya jangan di tempat ini. Ini adalah perusahaan milik seseorang yang terhormat, kalau bukan untuk menjaga nama baikmu. Maka jangan buat keributan untuk menjaga nama baik Kevin" kata Angel yang melihat pintu lift hampir tertutup.
Angel dengan sengaja mengatakan nama Kevin di akhir kalimatnya sebelum di masuk ke dalam lift itu.
Mendengar kata itu, Vanya tentu saja terkejut. Dia mulai semakin curiga pada Kevin dan wanita yang baru masuk ke dalam lift itu. Sayangnya saat dia tengah berpikir, pintu lift sudah tertutup. Dan benar saja, ketika Vanya memperhatikan angka yang menunjukkan di lantai berapa lift itu akan berhenti.
Vanya di buat sangat kesal, saat mengetahui kalau Angel memang berhenti dimana kantor Kevin berada.
"Sialll, jangan-jangan mas Kevin memang sudah mengkhianati aku. Ini tidak bisa aku biarkan!" kata Vanya yang langsung menekan tombol di samping pintu lift.
Sementara itu Angel sudah masuk ke dalam ruangan Kevin. Meski sebelumnya ada salah satu pegawai yang sedang membicarakan masalah pekerjaan dengan Kevin. Pria itu lantas meminta pegawainya untuk pergi. Karena lebih mementingkan kedatangan Angel.
"Sayang, kamu akhirnya datang. Aku sangat merindukanmu" kata Kevin yang menghampiri Angel dan memeluknya erat.
"Kevin, ini dari kak Darren. Kamu harus cepat menandatangani surat ini, karena kak Darren ingin aku memotretnya dan mengirimkannya padanya segera" kata Angel pada Kevin.
Kevin minta pengacaranya mempelajari dokumen yang Angel bawa.
"Dokumen ini legall tuan Kevin" kata pengacara kevin.
Kevin pun menghela nafas panjang. Dulu dia memang tidak sulit untuk mendapatkan saham di yang akan dia berikan pada Angel itu. Karena memang dia tinggal merayu Eva, menarik perhatian dan mendapatkan cintanya. Dan dengan cepat dia menjadi seorang suami yang apapun permintaannya di berikan oleh istrinya. Termasuk saham di AW Company.
Dan untuk mendapat keuntungan yang lebih besar lagi. Rasanya tidak masalah sama sekali bagi Kevin untuk tanda tangan sekarang.
Namun saat Kevin akan tanda tangan, Vanya tiba-tiba masuk ke dalam ruangan itu dan menghentikan Kevin.
"Apa yang mau kamu tanda tangani mas?" tanya Vanya yang langsung datang dan mengambil dokumen itu.
Begitu Vanya selesai membacanya, matanya merah dan sangat kesal pada Kevin.
"Apa ini mas?" tanya Vanya pada Kevin.
Angel yang merasa kalau dia harus semakin menyulut api pun langsung mendekat ke arah Kevin dan menjawab pertanyaan Vanya untuk Kevin itu.
__ADS_1
"Itu adalah surat pengalihan saham Kevin padaku, apa kamu tidak bisa membacanya?" tanya Angel pada Vanya.
"Diam kamu wanita genit..."
"Maaf tuan, sebaiknya aku permisi" kata pengacara itu yang lebih memilih untuk pergi dari ruangan yang kacau itu.
"Kevin, kamu dengar itu? dia mengatakan aku wanita genit" ucap Angel mengadu pada Kevin sambil merangkul lengan Kevin manja.
Bola mata Vanya sudah nyaris seperti hampir terlepas dari matanya.
Dengan kesal, Vanya menarik tangan Angel dari lengan Kevin.
"Jangan sentuh dia, wanita genit tidak tahu malu"
"Kamu yang tidak tahu malu, Kevin dan aku akan bertunangan malam ini. Siapa kamu mengatakan aku tidak tahu malu?" tanya Angel sengaja memancing kemarahan Vanya.
"Apa katamu?" mata Vanya benar-benar merah dan mulai berkaca-kaca.
"Mas, apa yang dia katakan? kalian akan bertunangan? kamu memberikan semua saham padanya? semua ini apa mas?" tanya Vanya melemparkan dokumen itu pada Kevin.
Kevin memungut semua dokumen itu. Dan melihat ke arah Vanya.
"Vanya, apa yang di katakan Angel benar. Malam ini kamu akan bertunangan, setelah beberapa bulan peringatan meninggalnya Eva, kami akan menikah"
Plakkkk
Vanya menampar keras pipi Kevin. Membuat Angel bersorak senang dalam hatinya, tapi dia harus berpura-pura perduli pada Kevin.
"Kevin, kamu tidak apa-apa?" tanya Angel sambil mengusap lembut pipi Kevin.
"Apa yang kamu lakukan pada sepupu kamu sendiri Vanya? kenapa memukulnya?" tanya Angel, sebenarnya dia sudah menyiapkan alat perekam sejak datang ke ruangan ini, di dalam tasnya dan sudah menyalakannya.
"Aku bukan sepupunya, aku ini kekasihnya. Kevin itu kekasihku"
'Kena kamu!' batin Angel senang. Setelah ini dia orang di depannya itu akan di depak dari perusahaan ini oleh papanya.
***
Bersambung...
__ADS_1