Beautiful Revenge Istri Yang Di Lenyapkan

Beautiful Revenge Istri Yang Di Lenyapkan
Bab 30


__ADS_3

Kevin bersimpuh di kaki Angel, mengatakan kalau dia sangat mencintai Angel dan akan bertanggung jawab atas apa yang telah dia lakukan pada Angel.


"Kakakku bisa menghabisimu!" kata Angel.


Mendengar itu sebenarnya Kevin agak bergidik di dalam hatinya. Namun untuk meyakinkan Angel, dia pun mengatakan kalau apapun akan dia korbankan untuk Angel.


"Demi kamu, nyawapun aku rela memberikannya!" ucap Kevin dengan mata berkaca-kaca.


Siapa wanita yang tidak akan luluh, jika di perlakukan seperti itu. Pria itu bersimpuh di depannya dan mengatakan kata-kata yang begitu romantis dan menyentuh hati.


Sayangnya Angel sudah tahu muka asli dari Kevin. Dia tidak akan pernah percaya apapun yang di ucapkan oleh Kevin.


Kevin mengajak Angel pulang, dia langsung mengantarkan Angel ke rumahnya dan langsung menemui Darren.


Sebuah tamparan mendarat di wajah Kevin, ketika Kevin menyampaikan niatnya untuk menikahi Angel di depan Darren.


Hati Angel rasanya puas sekali melihat satu tamparan keras yang rusak bisa di tolak oleh Kevin dan tidak mungkin di balas olehnya juga itu.


"Apa di rumahmu tidak ada kaca? siapa kamu berani melamar adikku menjadi istrimu?" Tanya Darren dengan mata merah.


"Tuan Darren, aku sangat mencintai Angel. Sekarang aku memang bukan siapa-siapa, tapi aku akan bekerja keras untuk membahagiakan Angel. Apapun akan aku lakukan untuk Angel!" kata Kevin berusaha untuk meyakinkan Darren.


Dan memang, kata-kata seperti itulah yang juga ingin di dengar oleh Darren.


"Bagaimana kalau memberikan semua saham mu di perusahaan AW Company itu pada Angel..."

__ADS_1


"Kakak..." sela Angel tapi Darren langsung mengangkat jari telunjuknya dan menahan Angel agar tidak bicara.


Angel pun langsung mundur dan diam, dia memang sudah tahu apa yang harus dia lakukan.


Kevin melihat ke arah Angel, tapi dia kembali melihat ke arah Darren.


"Semua sahamku?" tanya Kevin.


"Tentu saja, bagaimana aku bisa percaya padamu jika niatmu memang baik, Angel punya 40 persen saham di Nickolay Corp. Aku kakaknya, begitu dia menikah maka semua itu akan menjadi miliknya. Bagaimana aku bisa yakin kalau kamu tidak sedang menjerat adikku dengan cintamu, aku butuh jaminan bukan? aku tidak mau adikku sampai tersakiti di rumahmu, sedang di rumahku dia ku perlakukan seperti seorang ratu!" tegas Darren panjang lebar.


Mendengar saham Angel di perusahaan Darren, Kevin cukup terkejut. Dia tidak menyangka Angel seberharga itu. Kevin yang tadinya ragu dan masih ingin bernegosiasi lagi dengan Darren, pada akhirnya langsung berniat menyetujui hal itu. Pikirnya, tidak masalah, toh sahamnya di perusahaan ayah mertuanya itu masih kurang dari 40 persen, di bandingkan Angel masih kalah jauh. Dan kalau dia menikahi Angel nanti, dia pasti bisa membujuk Angel seperti dia dulu membujuk Eva. Hingga mau menyerahkan semua saham di perusahaan Darren pada Kevin.


"Baik, baiklah. Aku akan memberikan semua sahamku pada Angel. Pengacara ku akan mengurus semuanya. Tapi tuan Darren merestui kan? kalau aku melamar Angel sebagai istriku?" tanya Kevin.


Darren juga merencanakan semua itu, karena dia mendengar kalau di hari peringatan ke 100 hari kematian Eva. Tuan William Mukhtar akan memberikan sepenuhnya kuasa perusahaan pada Kevin. Darren mendengar dari Viktor, kalau William Mukhtar akan menepi dari semua bisnis dan akan tinggal di perkebunan miliknya yang ada di desa.


Darren sengaja melakukan hal ini, karena jika saham Kevin di berikan pada Angel. Secara otomatis maka Kevin akan kehilangan kuasanya atas perusahaan. Tidak mungkin kuasa perusahaan di berikan pada pemilik saham minoritas. Dan jika Kevin menikah dengan Angel, maka juga tidak mungkin William Mukhtar akan menyerahkan semua hartanya pada Kevin. Pasti dia akan berpikir ulang, belum juga 100 hari anaknya meninggal, tapi menantunya sudah mendapatkan pengganti anaknya itu. Itu pasti akan membuat William Mukhtar kecewa pada Kevin. Dan itulah yang di inginkan oleh Darren dan Angel.


Dalam hatinya Kevin bersorak senang, dia sudah bisa bayangkan hari-harinya menyenangkan, punya istri cantik dan punya harta berlimpah. Tanpa dia sadari seorang wanita tengah kesal menunggunya untuk pulang di rumahnya.


Di rumah Kevin, Vanya terus saja mondar-mandir sambil melihat ke arah pintu utama rumah itu yang sengaja dia biarkan terbuka.


Marta yang melihat hal itu pun menjadi kesal, semakin kesini kelakuan Vanya semakin menjadi-jadi saja. Dulunya sangat sopan dan tak pernah membantah Marta. Sekarang sudah bersikap dan bicara seenaknya saja. Marta jadi semakin hilang respect pada Vanya, apalagi setelah Marta mengenal Angel yang jauh lebih cantik, lebih kaya dan lebih perhatian pada Marta.


"Hei, tutup pintunya. Nanti kalau Kevin pulang, dia pasti akan mengetuk pintu atau membunyikan bel!" kata Marta yang memang tidak suka kalau pintu ruang terbuka lebar begitu. Apalagi sekarang sudah malam.

__ADS_1


"Tante, tolong jangan ganggu aku ya, aku sedang tidak ingin bertengkar!" kata Vanya yang mencoba untuk tidak melampiaskan emosinya pada Marta.


Tapi di jawab dengan perkataan seperti itu, Marta malah semakin tersinggung.


"Kamu ini, berani ya bicara seperti itu sama aku?" tanya Marta kesal.


"Tante, tolonglah... anak Tante itu semakin lama semakin membuatku kesal. Dia belum pulang jam segini, di hubungi tidak di angkat. Aku sedang kesal, jadi Tante jangan menambah masalah!"


"Kamu itu biang masalah. Kamu itu yang punya ide ide licik yang menjerumuskan anakku. Heran, kenapa sih Kevin masih bisa memperbaiki kamu tinggal di sini!" Ketus Marta.


Vanya benar-benar kehabisan stok kesabarannya.


"Tante bilang apa?" tanya Vanya yang melipat tangannya di depan dada dan memandang ke arah Marta dengan tatapan arogan sekali.


"Tante pikir, mas Kevin itu bisa sampai ke jabatannya yang sekarang karena siapa? semua itu karena ideku Tante. Dan tante bisa hidup enak begini karena rencana siapa? aku sudah susah payah memikirkan segala cara, melakukan segala cara untuk tante dan mas Kevin bisa hidup enak. Lantas Sekarang Tante bertanya kenapa aku tinggal di sini? Kalau pun ada yang tidak pantas tinggal di rumah ini, satu-satunya orang yang tidak berbuat apapun untuk semua harta ini, orang itu adalah Tante!" Vanya berkata dengan tatapan yang sangat tidak bersahabat.


Marta melotot, sangking melototnya, bola matanya nyaris keluar.


"Kamu bilang apa? hei... ternyata begini muka asli kamu ya? kamu mengusirku, aku ini mamanya Kevin. Kalau aku bilang sama Kevin, untuk mengusir kamu, kamu pasti di usir!" kata Marta tak terima.


"Kalau begitu lakukan? aku mau tahu, dia lebih memilih aku yang tahu semua rahasianya, atau Tante yang hanya bisa menghabiskan uang dan tidak bisa berbuat apa-apa" tantang Vanya pada Marta.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2