
Beberapa hari kemudian, Kevin pulang ke rumah saat makan siang. Dia pergi ke beberapa koleganya hari ini untuk membicarakan bisnis bersama. Karena di pecat secara tidak hormat, dan saham miliknya telah di berikan, di alihkan atas nama Angel. Kevin benar-benar menjadi pengangguran saat ini.
"Tuan, makan siang sudah siap" kata Lala yang datang ke rumah tamu dimana Kevin sedang duduk dan memegang kepalanya yang terasa mulia pusing.
Saat melihat Lala membawakan air minum untuknya, dia baru sadar kalau dia mungkin tidak akan bisa mempekerjakan Lala lagi. Gaji Lala itu cukup besar, sementara dia belum punya pekerjaan lagi.
"Lala, aku mau mengatakan ini padamu. Mulai besok kamu tidak perlu bekerja lagi di sini.."
"Kevin, kamu sudah pulang?" tanya Marta yang khawatir pada anaknya itu.
"Mulai besok kamu bisa kembali ke yayasan. Aku akan katakan pada pihak yayasan, kalau kamu berhenti bukan karena kesalahan mu, tapi karena aku akan pindah" kata Kevin yang di angguki Lala dan langsung pergi dari tempat itu.
Sebenarnya bagi Lala, mau di pecat atau apapun itu. Dia tidak perduli, karena memang dia sebenarnya adalah pekerjanya Darren, salah satu anak buah Darren.
Vanya yang mendengar semua itu juga langsung menghampiri Kevin dan Marta.
"Bagaimana mas? sudah dapatkan kerja sama dengan perusahaan lain?" tanya Vanya.
"Belum, kamu juga daripada di rumah saja. Lebih baik keluar cari pekerjaan sana" kata Kevin.
Wajah Vanya langsung menunjukkan ekspresi tidak sebab mendengar hal itu dari Kevin.
"Apa katamu? kenapa aku harus bekerja, kamu yang seharusnya bekerja..."
"Kamu yang membuat kita di pecat, mulutmu itu tidak bisa di kontrol..."
"Kenapa menyalahkan aku, kamu yang main api di belakang ku. Kalau kamu tidak mendekati Angel si wanita genit itu, aku juga tidak akan semakin emosi sampai mengatakan semua itu. Aku yakin kalau Angel yang memberitahu tuan William Mukhtar..."
Kevin langsung berdiri, dia terlihat marah.
"Terus saja salahkan Angel, semua ini karena kamu. Dasar bodoh, kamu pikir aku mendekati Angel untuk apa?" tanya Kevin marah membuat Marta memijat kepalanya karena pusing dan membuat Vanya melengos sebal tapi tidak menjawab satu patah katapun.
Dan tiba-tiba terdengar suara bel pintu di bunyikan, Lala bergegas keluar dari dapur dan membuka pintu.
Terlihat dua orang datang ke ruang tamu, satu orang wanita paruh baya yang terlihat marah dan seorang pria yang kira-kira umurnya mungkin kepala 2, di atas 25 tahun terlihat mengikuti langkah wanita tua itu berdiri di depan Kevin.
"Ini sudah tiga hari dari tanggal seharusnya kamu mengirim uang ke rekeningku kan?" tanya wanita yang ternyata adalah istri dari dokter Herman.
__ADS_1
Kevin mendengus kesal.
"Aku lupa, akan segera aku kirimkan" jawab Kevin tanpa menoleh ke arah wanita paruh baya tersebut.
"Lupa atau memang sudah tidak punya uang?" tanya pria di belakang wanita itu.
Kevin dan Vanya sama-sama menoleh ke arah pria itu. Tatapan mereka terlihat kesal.
"Bukankah kalian sudah di pecat dengan tidak hormat, tidak dapat pesangon sepeserpun dari perusahaan, dan saham mu juga sudah berpindah kepemilikan?" tanya pria itu lagi.
"Darimana kamu dapat berita itu?" tanya Vanya curiga.
"Berita seperti itu akan cepat tersebar, kalian masih punya aset kan? aku dengar mantan istrimu punya sebuah villa di daerah pariwisata? bagaimana kalau serahkan villa itu pada kami..."
"Jangan asal bicara, siapa kalian berani mengancamku?" tanya Kevin yang sangat kesal mendengar ocehan anak dokter Herman itu.
Tapi tanpa banyak bicara, pria itu langsung mengeluarkan ponselnya dan memutar sebuah rekaman, percakapan antara Vanya dan dokter Herman, agara dokter Herman mengganti obat untuk William Mukhtar.
"Siall!" pekik Kevin.
"Berikan sertifikat villa itu, dan surat-surat serta kunci dua mobil jalan di depan itu. Atau aku akan serahkan bukti ini pada polisi!" gertak pria itu.
"Kamu berani mengancamku, lihat apa kamu bisa keluar hidup-hidup dari tempat ini?" tanya Kevin balas menggertak.
"Silahkan saja, jika terjadi sesuatu padaku atau ibuku. Kakak dan adikku masih ada salinan percakapan ini, begitu kami tidak pulang dan tidak ada kabar dalam tiga jam, aku sudah katakan pada kakakku untuk membawa buktinya ke kantor polisi, ada bonus juga. Kedatangan kalian berdua di rumah sakit wanti itu, ayahku sudah menyimpan rekaman CCtv nya" kata pria itu dengan tenang.
Vanya langsung menarik tangan Kevin.
"Serahkan saja mas!" kata Vanya yang tidak mau hidup di penjara.
Dia sudah sangat terbiasa hidup enak, dia tidak mau di penjara.
Pada akhirnya meskipun dengan kesal, Kevin pun menyerahkan sertifikat villa dan dua mobil milik Kevin.
Dua orang itu langsung pergi begitu mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Kevin mengacak rambutnya dan terduduk lemas di sofa. Marta yang tak bisa berbuat apa-apa pun langsung menangis melihat anaknya yang frustasi.
Setelah diam cukup lama, akhirnya Kevin pun berdiri dan berkata pada Vanya.
__ADS_1
"Sudah tidak ada cara lain Vanya, aku harus menikah dengan Angel!" kata Kevin pada Vanya.
Vanya terlihat sangat kecewa.
"Mas, kamu janji akan menikahi ku bulan depan, bagaimana mungkin kamu akan menikah dengan Angel?" tanya Vanya dengan mata berkaca-kaca.
"Aku tidak perduli, aku akan tetap menikah dengan Angel!" seru Kevin dan langsung masuk ke dalam kamar.
"Mas... mas, kamu tidak boleh berbuat seperti ini padaku..."
Saat Vanya akan menyusul Kevin Marta menahan tangannya dan menamparnya.
Plakkkk
"Kenapa Tante memukul ku?" tanya Vanya dengan marah.
"Sudah cukup Vanya, sudah cukup kekacauan yang kamu buat. Gara-gara kamu anakku akan kehilangan segalanya..."
"Apa Tante lupa? mas Kevin mendapatkan semua ini karena siapa?" tanya Vanya tak mau di salahkan.
"Apa gunanya kalau kamu malah merusak semua rencana Kevin? biar dia menikah dengan Angel, atau lebih baik kamu pergi saja dari rumah ini!" pekik Marta yang membuat bola mata Vanya nyaris lepas dari tempatnya.
Marta langsung pergi setelah mengatakan itu semua pada Vanya.
"Agkkk!"
Vanya berteriak frustasi.
"Aku tidak akan membiarkan mas Kevin membuang ku begitu saja. Aku sudah lakukan semuanya untuknya. Angel... wanita itu, aku akan habisi dia!" kata Vanya yang begitu marah pada Angel.
Vanya langsung mengambil tasnya, meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Kamu masih mau uang?" tanya Vanya pada seseorang di telepon.
"Aku dengar kamu di pecat?" tanya suara seorang pria.
"Apa kamu pikir aku tidak punya tabungan selama ini, dengar. Aku akan membayarmu dua kali lipat dari saat aku membayarmu untuk mengurus mayat Eva, temui aku di kafe biasa" kata Vanya.
__ADS_1
***
Bersambung...