
William Mukhtar meminta Eva kembali ke perusahaan, sekarang Eva juga sudah banyak berubah. Dia lebih percaya diri, tidak seperti dulu yang lebih memilih terus berdiam diri di rumah. Sambil belajar mengurus perusahaan, yang masih di pimpin oleh papanya. Eva juga kuliah, jurusan management dan bisnis. Itu sangat di perlukan untuk bisa memimpin perusahaan dengan baik.
Semua sudah mulai berjalan dengan baik dan tenang, sampai ketika Darren dan Angel pulang ke rumah. Sebuah box besar dengan pita melilit seperti sebuah kado ada di depan rumah itu.
"Apa ini?" tanya Darren pada penjaga rumahnya.
"Sebuah mobil box besar datang, dan mengatakan ini adalah kado pernikahan untuk tuan dan nyonya, tapi karena tidak muat di masukkan ke dalam rumah. Kami pikir menunggu tuan dan nyonya dulu" kata penjaga rumah itu.
Eva hanya berdiri diam sambil sesekali melihat kotak yang memang besarnya lebih dari pintu utama rumah mereka.
"Coba buka" kata Darren yang ingin tahu apa yang ada di dalam kotak kado itu.
Darren memeriksanya, tapi tidak ada satu tulisan pun di kotak itu.
Anak buah Darren bersama penjaga rumah membuka kotak itu, dan begitu di buka, isinya adalah sebuah lukisan besar, dimana ada foto pernikahan Darren dan Eva yang pada akhirnya, foto itu di pisahkan oleh seorang pria yang tampan yang duduk di antara mereka.
Dengan kesal Darren menendang lukisan itu sampai figura nya patah.
Brakkkk
"Singkirkan benda ini, lain kali kalau ada yang memberi kado tanpa nama, buang saja. Tidak perlu di bawa ke rumah" kata Darren dengan kesal.
Eva langsung menggenggam tangan Darren dan mengusap lengan suaminya itu dengan lembut beberapa kali.
"Hubby, sudah... sudah ya" kata Eva lalu mengajak Darren untuk masuk ke dalam.
Eva masuk ke dalam kamar setelah suaminya mengatakan akan menghubungi seseorang sebentar. Setelah mandi dan berganti pakaian, Eva tak menemukan suaminya di dalam kamar mereka.
Eva kemudian mencari suaminya itu, tapi tak juga menemukannya di manapun. Eva diam dan berpikir, kemana suaminya kalau sedang kalut pikirannya. Dan Eva pun menuju ke kajati tiga, dimana tempat itu ada sebuah ruangan yang terdapat mini bar kecil yang biasa di datangi Darren kalau pikirannya sedang kacau.
Dan memang benar, Darren ada di sana dengan gelas minuman terisi penuh, dan sebuah botol ukuran sedang yang isinya sudah tinggal setengahnya di depannya, di atas meja mini bar itu.
__ADS_1
Eva tahu, pasti pria yang berada di dalam lukisan itu adalah adik tiri Darren. Anak dari wanita yang telah menghancurkan ketenangan dan kebahagiaan keluarga Darren.
Eva memeluk Darren dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu Darren.
"Kamu pasti kesal ya sayang, tapi itu hanya lukisan. Kita saling mencinta, selamanya kita tidak akan berpisah" kata Eva yang membuat Darren langsung menoleh pada istrinya itu.
"Namanya Luke, dia sama seperti ibunya. Dia tidak pernah lelah mengganggu kehidupan tenang orang lain" kata Darren.
"Tapi suamiku adalah Darren Nickolay, pria yang paling baik dan hebat di seluruh dunia. Hanya seorang Luke kan? dia tidak akan bisa mengalahkan suamiku" kata Eva yang membuat hati Darren kembali menjadi besar dan tenang.
Darren menghela nafasnya, tersenyum sedikit lalu memeluk istrinya itu.
"Kamu harum sekali" bisik Darren di telinga Eva.
"Kalau begitu, jangan minum lagi. Bagaimana kalau kamu menghabiskan energimu untukku?" tanya Eva yang ingin membantu suaminya terlepas dari semua pikiran yang tidak menyenangkan yang ada di dalam kepalanya.
Eva tahu dan mengerti, dari cerita Darren tentang kehancuran keluarganya, dia tahu kalau wanita itu dan anaknya adalah orang yang paling Darren benci di dunia ini. Dan kemunculan Luke sangat tidak di harapkan oleh Darren.
Darren langsung menggendong Eva menuju ke kamar mereka. Mereka masuk ke dalam lift dan bercumbu mesra sampai pintu lift itu terbuka.
Dan begitu masuk ke dalam kamar mereka, gaun malam yang menutupi tubuh Eva juga sudah meluncur sangat cepat terjatuh ke lantai.
Tempat tidur ukuran king size itu menjadi saksi bisu, ketika hampir satu jam lebih dua orang di atasnya terus menyerukan nama satu sama lain dengan peluh yang terlihat membasahi tubuh mereka.
Keesokan harinya, Darren mengantarkan Eva pergi kuliah sebelum berangkat ke perusahaannya.
Satu buah ciuman yang berlangsung selama dua menit terganggu oleh suara klakson dari mobil yang ada di belakangnya yang ingin masuk ke dalam gerbang kampus, karena kebetulan Darren yang saat itu mengemudi sendiri, memang berhenti tepat di pintu gerbang agar istri kesayangannya tidak terlalu jauh berjalan masuk ke kampus.
Eva tersenyum dan menyeka bibir suaminya dengan tissue.
"Hubby, aku masuk dulu. Hati-hati di jalan ya" ucap Eva.
__ADS_1
"Lain kali aku akan parkir di dalam" kata Darren kesal melihat ke arah mobil yang ada di belakang mobil mereka.
Eva hanya terkekeh pelan melihat suaminya kesal, dia lalu melambaikan tangannya dan masuk ke dalam kampus.
Saat di kelas, Eva yang sedang berdiskusi dengan teman di dekatnya tentang diagram yang baru mereka pelajari. Langsung melihat ke arah depan begitu dosen mereka bersama dengan rektor kampus itu masuk ke dalam ruangan dan meminta perhatian mereka.
"Semuanya, kita kedatangan tamu istimewa. Dia adalah pengusaha sukses yang baru kembali dari new Zealand, kita sambut bersama. Tuan Luke Nickolay"
'Luke Nickolay, bukankah itu adik tiri yang kemarin membuat hubby kesal' batin Eva.
Suara tepuk tangan bergemuruh, beberapa mahasiswi lain juga memuji ketampanan pria berjas, yang sedikit lebih tinggi dari Darren, dengan kulit putih dan wajah yang memang bisa di bilang memiliki 40 persen kemiripan dengan Darren.
"Wah dia tampan sekali"
"CEO kaya ya?"
"Aku berharap dia melihat ke arahku, ayo lihat ke arahku"
Eva sampai menoleh ke arah teman yang tadi berdiskusi dengannya. Karena temanya itu sangat berharap Luke melihat ke arahnya. Sedangkan Eva sendiri, berharap Luke tidak melihat ke arahnya dan tidak mengenalinya.
"Agkkk, dia melihat kemari"
Suara pekikan Mila, membuat Eva yang tadinya berusaha bersembunyi di belakang teman yang ada di depannya terkejut.
"Kamu mengagetkan aku Mila" kata Eva.
"Ups, maafkan aku. Dia melihat kemari... eh tapi dia sepertinya tidak melihatku. Dia sedang melihat mu Eva" kata Mila.
Eva juga langsung menoleh. Dan benar saja, pandangan Luke memang sedang tertuju pada Eva.
'Astaga, dia sepertinya mengenaliku. Apa dia akan membuat masalah denganku juga?' tanya Eva dalam hatinya.
__ADS_1
***
Bersambung...