
"Yang berdiri di depan kalian ini adalah seorang pengusaha muda yang telah sukses di luar negeri. Luar biasa bukan? Jadi sekarang mari kita persilahkan untuk tuan Luke Nickolay, menyampaikan motivasi untuk para mahasiswa agar menjadi pebisnis yang handal dan mampu bersaing sampai di luar negeri, di kelas internasional seperti dirinya. Kepada tuan Luke Nickolay, waktu dan tempat kami persilahkan" kata dosen kelas Eva.
Suara tepuk tangan yang begitu gemuruh kembali terdengar. Mereka seolah sangat mengidolakan pria di depan mereka itu.
Luke memberikan beberapa kalimat yang membuat semua orang terlihat menatap kagum padanya. Kata-kata yang keluar dari mulutnya memang sangat membangun semangat bagi para mahasiswa.
Tapi bagi Eva, yang kemarin menyaksikan sendiri bagaimana suaminya emosi karena di beri kado yang memang sangat memprovokasii Darren, juga semua cerita dari Darren yang seratus persen Eva yakin semua yang di katakan oleh suami itu benar. Jadi kurang respect pada adik ipar tirinya itu.
Semua orang bertepuk tangan ketika Luke Nickolay selesai dengan kata-kata motivasi nya.
"Sekarang akan ada dua mahasiswa beruntung yang akan bisa berfoto dan menerima buku motivasi dari tuan Luke Nickolay, silahkan tuan Luke, anda bisa memilih dua mahasiswa yang sejak tadi sepertinya serius mendengarkan anda. Silahkan!" kata dekan itu lagi.
Eva hanya bisa menghela nafasnya, dia sejak tadi malah sibuk belajar diagram di buku catatannya daripada mendengarkan ceramah Luke.
"Yang di sana!" kata Luke pada seorang mahasiswa berkaca mata yang duduk paling depan.
"Wah, Bastian. Selamat selamat...kemari Bastian!" kata dosen yang senang Luke memilih orang yang memang sejak tadi menyimak dengan baik semua yang Luke bicarakan.
"Satu lagi, siapakah yang seberuntung Bastian?" tanya dosen itu yang memang mampu menghidupkan suasana.
"Pilih aku please, please pilih aku" kata Mila yang membuat Eva terkekeh pelan.
"Pengen banget di pilih?" tanya Eva.
"Iya dong Eva, emang kamu? dari tadi malah sibuk lihat diagram itu, ada cowok ganteng, tajir, genius gitu di cuekin" kata Mila.
"Diagram ini tuh lebih ganteng tahu" bantah Eva.
"Kamu sehat Eva? ya kali diagram lebih ganteng daripada pria di depan kita itu, di itu ganteng pakai banget Eva, selera kamu aneh" kata Mila yang tak habis pikir bagaimana Eva tidak tertarik sama sekali pada pria tampan di depan kelas mereka itu.
Lagipula, Eva memang tidak akan pernah tertarik pada pria tampan manapun lagi. Karena dia sudah punya pria yang sangat tampan, paling tampan bahkan di dunia yang menjadi suaminya.
"Yang itu, yang sedang mencoret-coret buku" kata Luke Nickolay membuat rahang Mila nyaris jatuh.
__ADS_1
Mila lalu menoleh ke arah Eva dan memukul lengan Eva.
"Apa sih?" tanya Eva yang tidak paham maksud Mila.
Lagipula dia memang tidak mendengarkan apa yang sedang di bicarakan di depan kelas. Dia tidak perduli sama sekali dengan semua yang berhubungan dengan Luke.
"Eva Tatiana, selamat selamat..."
Setelah mendengar namanya di sebut oleh pak dosen. Eva baru menoleh ke depan.
"Aku kenapa?" tanya Eva bingung.
Mila langsung menepuk keningnya sendiri.
"Eva, kamu di pilih tuan Luke Nickolay" kata Mila.
"Silahkan kemari Eva.." kata pak dosen yang membuat Eva mau tidak mau berdiri dan menutup buku catatannya.
"Aku juga melihatnya, astaga tuan Luke ini matanya minus mungkin ya" kesal Mila.
Eva pun bergabung bersama dengan Bastian. Pak dosen dan rektor langsung berfoto bersama dengan Eva dan Bastian juga Luke.
"Aku bisa berkeliling kampus ini?" tanya Luke pada rektor sambil menandatangani buku motivasi terbitannya untuk Bastian.
Mendengar pertama itu tentu saja rektor itu tersenyum senang.
"Tentu saja, silahkan kami akan menemani tuan Luke" kata rektor itu.
"Tidak usah, aku tahu kalian sangat sibuk. Biar Eva saja yang menemaniku" kata Luke yang memberikan buku yang sudah di tandatangani pada Bastian.
Eva yang berada di samping Bastian mengernyitkan keningnya.
'Mau cari masalah ini orang, jelas-jelas suamiku gak suka sama dia. Malah minta aku temani dia berkeliling kampus' keluh Eva dalam hatinya.
__ADS_1
"Oh tentu saja, Eva... kamu tolong temani tuan Luke berkeliling ya. Tunjukkan beberapa tempat yang bagus pada tuan Luke, sarana dan prasarana yang baru kita bangun untuk lebih meningkatkan kualitas pendidikan di kampus ini" seru dosen wali kelas Eva.
Eva hanya bisa mengangguk, dia masih baru di kampus ini. Tidak mungkin dia langsung menolak perintah dosen dan rektor di depan semua orang bukan?
Di temani oleh asisten pribadi dan sekertaris Luke, Eva mengajak Luke berkeliling ke lapangan bola yang baru di bangun oleh kampus ini. Di lengkapi dengan arena lari jarak dekat dan lari estafet, juga semua jenis olahraga lapangan lain.
"Ini adalah lapangan yang baru di bangun di kampus ini..."
"Bagaimana dengan hadiah yang aku kirimkan, apa kakak iparku yang cantik ini suka dengan hadiah yang aku kirimkan?" tanya Luke membuat langkah Eva terhenti.
"Apa maksudmu sebenarnya?" tanya Eva dengan wajah galak pada Luke.
"Kakak ipar, jangan galak begitu. Wajah cantikmu itu tidak akan bagus dengan ekspresi galak. Jujur saja, aku tidak suka melihatmu berdampingan dengan kakak tiriku itu. Kamu terlalu cantik untuk berdampingan dengannya"
'Cantik, cantik, cantik.. orang ini tidak tahu apa, kalau wajahku ini hasil operasi. Dasar' kesal Eva dalam hatinya.
"Itulah bedanya kamu dengan suamiku, suamiku tidak pernah memandang orang dari fisiknya. Sudahlah, tahu jalan keluar kampus ini kan? aku tidak bisa mengantarmu, aku punya banyak tugas, silahkan" kata Eva yang mempersilahkan Luke.
Sementara Eva langsung berbalik dan berjalan menuju ke kelasnya lagi. Eva sama sekali tidak takut, ini di kampus. Selama di tempat umum seperti ini, dia yakin adik iparnya itu tidak akan macam-macam padanya.
Dan Luke sendiri, dia masih belum beranjak dari tempatnya berdiri.
"Dia tidak sopan, perlukah memberinya pelajaran tuan?" tanya Williana.
"Tentu saja tidak Williana,wanita cantik sombong dan banyak tingkah itu sudah seharusnya. Dan kakak iparku itu, dia begitu menarik. Dia sepertinya sangat membenciku, mungkin kakak tiriku tercinta itu sudah banyak memberitahu tentang keluarga kami. Darren itu orangnya tertutup, kalau dia sudah memberitahu semuanya pada Eva, artinya dia sangat mencintai Eva. Dan akan semakin menarik kalau aku bisa merebut wanita yang dia cintai itu... ha ha ha, akan sangat menarik!" ucap Luke yang langsung berbalik dan pergi meninggalkan kampus itu.
Tanpa mereka sadari, Jason anak buah Darren sejak tadi sudah melihat mereka dari atas tempat duduk penonton di lapangan tersebut menggunakan teropong. Dengan keahliannya membaca gerak bibir, Jason mengetahui apa yang sedang Luke katakan pada sekertaris nya tadi.
"Hem, ibu dan anak benar-benar sama, buah memang tak akan jatuh jauh dari pohonnya" gumam Imran sambil menghela nafas.
***
Bersambung...
__ADS_1