Beautiful Revenge Istri Yang Di Lenyapkan

Beautiful Revenge Istri Yang Di Lenyapkan
Bab 33


__ADS_3

"Apa? kalian ini bukan sepupu? kamu kekasih Vanya mas?" tanya Angel berpura-pura sangat terkejut dan melangkah mundur menjauh dari Kevin.


Kevin panik, dia tidak menyangka kalau Vanya akan mengatakan semua itu pada Angel.


Kevin yang memang lebih menyukai Angel yang memang masih perawan saat dia bersamanya, padahal itu tipu daya Darren, dan memang lebih cantik juga lebih kaya segera menghampiri Angel.


Kevin berbuat membujuk Angel, tapi Vanya yang semakin emosi karena Kevin lebih memilih membujuk Angel daripada menjelaskan masalah ini padanya, menghadang Kevin dan memukul dadanya beberapa kali.


"Kamu keterlaluan mas, setelah semua yang sudah aku lakukan untukmu, setelah semua pengorbanan dan kesabaranku. Apa ini yang kamu berikan padaku? aku tidak terima mas!" kata Vanya kesal.


"Mas, jadi kalian berbohong sejak awal? jadi kalian juga membohongi Eva. Kalian tinggal satu rumah sebagai sepupu di depan Eva, padahal kalian sepasang kekasih?" tanya Angel dengan raut wajah sedih, tapi tentu saja itu hanya sandiwara.


Kevin semakin panik.


"Angel, aku bisa jelaskan hal itu"


"Mas, kamu harus putuskan. Kamu pilih aku atau wanita itu? ingat mas, semua kartumu ada di tanganku. Jangan sampai aku katakan yang sebenarnya pada William Mukhtar kalau anaknya bukan meninggal karena kecelakaan...mmppt"


Kevin langsung membekap mulut Vanya. Kevin langsung melotot pada Vanya.


"Apa yang kamu katakan? jangan bicara yang tidak-tidak!" pekik Kevin sambil menatap tajam Vanya.


Kevin lalu berbisik pada Vanya.


"Jangan bodoh Vanya, kalau aku celaka. Kamu juga akan celaka!" kata Kevin.


Tapi Vanya lantas mendorong Kevin, hingga tangan Kevin terlepas dari mulutnya.


"Aku tidak perduli, aku bilang kamu harus pilih aku atau wanita itu. Sekarang juga mas!" seru Vanya yang sudah kehabisan kesabarannya.


"Dia benar mas, kamu harus menentukan pilihanmu" kata Angel yang ikut menekan Kevin.

__ADS_1


Kevin benar-benar panik, dia sedang berada di posisi yang sangat sulit saat ini. Kalau dia pilih Angel, maka Vanya yang sedang emosi akan membongkar semua kejahatannya selama ini. Tapi kalau dia pilih Vanya, dia pasti akan kehilangan Angel, dan Darren tidak akan memberinya kesempatan dua kali.


Tapi saat Kevin sedang berpikir, tiba-tiba pintu ruang kerja Kevin terbuka. Dan yang membukanya adalah Viktor, asisten pribadi dan pengawal kepercayaan William Mukhtar.


"Ada keributan apa ini?" suara William Mukhtar membuat semua yang ada di ruangan itu menoleh ke arah sumber suara.


Vanya yang melihat situasi yang menguntungkan baginya, langsung saja menghampiri William Mukhtar dengan cepat.


"Paman, lihat kelakuan wanita itu. Dia membujuk Kevin, dia menjerat Kevin untuk mengalihkan semua saham Kevin padanya paman. Lihat ini!" kata Vanya yang segera meraih dokumen yang ada di atas meja itu dan di perlihatkan pada William Mukhtar.


Vanya pun melirik tajam ke arah Angel.


'Lihat saja, apa kamu masih bisa bicara' kata Vanya yang yakin kalau Angel tidak akan bisa berkutik lagi.


Angel yang sudah mengira hal ini akan terjadi, karena memang sesungguhnya anak buah Darren yang memberi kabar ini pada paman Viktor hingga mengajak William Mukhtar ke kantor.


Dan setelah membaca semua yang ada di dalam dokumen itu, terpancar raut kekecewaan dan kesedihan di wajah pria tua itu.


Bagaimanapun, dia sudah menganggap Kevin seperti anaknya sendiri. Dan Angel, meski baru kenal, tapi William Mukhtar sangat percaya pada Angel yang menurutnya adalah anak yang baik, sangat baik.


"Pa, aku mencintai Angel" jawab Kevin jujur.


"Bahkan ini belum seratus hari istrimu, anakku Eva meninggal Kevin" lirihnya terdengar sedih.


"Wanita itu pasti merayunya paman, dia datang ke perusahaan ini memang sejak awal sudah menargetkan Kevin, dia ingin semua saham Kevin!" kata Vanya memprovokasii William Mukhtar.


Seperti kata Darren, Angel harus diam. Dia tidak bisa membantah atau bicara dulu sampai waktu yang tepat.


"Paman kecewa sekali padamu Angel, sebagai wanita, apakah harus seperti ini? setidaknya kamu bisa menunggu sampai peringatan seratus hari meninggalnya anak paman kan?" tanya William Mukhtar yang sangat sedih.


Awalnya dia merasa kalau dia menemukan banyak sekali kesamaan antara Eva dan Angel. Tapi dia tidak menyangka kalau Angel malah akan membuat Kevin cepat berpaling dari Eva.

__ADS_1


Sementara Vanya terlihat begitu senang, dia yakin kalau Kevin tidak akan berbuat bodoh sampai memberikan semua sahamnya pada Angel.


Cukup lama semuanya terdiam, sampai William Mukhtar kembali berkata.


"Jika kamu memang ingin memberikan semua saham mu pada Angel, maka papa akan menarik kembali kuasa atas kepemimpinan perusahaan. Kamu bisa tanda tangan, tapi kamu akan kembali ke jabatan wakil direktur" kata William Mukhtar.


Angel hanya diam, memang seperti ini rencananya dan Darren. Sementara Vanya terlihat melirik Angel dengan remeh. Setelah mendengar apa yang di katakan oleh William Mukhtar, Vanya merasa Kevin tidak akan menandatangani berkas itu.


Tapi nampaknya apa yang Vanya pikirkan itu salah. Kevin berjalan menuju meja, dan meraih pulpen dari tempat pulpen yang ada di atas meja. Lalu menandatangani surat perjanjian itu.


"Aku akan kembali ke jabatan wakil direktur, pak William Mukhtar, ayo Angel" kata Kevin yang langsung menggandeng tangan Angel keluar dari ruangan itu.


Angel pun pergi mengikuti Kevin, dan Vanya, dia tampak sangat terkejut.


"Mas, Kevin apa yang kamu lakukan?" tanya Vanya dengan kesal dan mengikuti Kevin keluar.


Sementara William Mukhtar terduduk lemas di kursinya. Pria tua itu mengusap wajahnya dengan kasar perlahan.


"Viktor, kenapa mereka melakukan ini? padalah aku sangat percaya pada mereka?" tanya William Mukhtar membicarakan Kevin dan Angel.


Vanya kembali menarik tangan Kevin.


"Vanya cukup, kalau aku celaka maka kamu juga akan celaka. Diam dan jangan ikut campur lagi urusanku. Aku akan meninggalkan rumah itu bersama ibuku, kamu bisa tinggal di rumah itu. Tapi jangan campuri lagi urusan ku. Kita berakhir Vanya!" kata Kevin membuat Vanya diam mematung di tempatnya.


Air matanya mengalir deras, dia tidak percaya kalau Kevin mengakhiri hubungan mereka setelah semua yang mereka lewati bersama. Demi wabita yang bahkan baru beberapa minggu di kenal Kevin.


Vanya tak bisa mempercayai semua ini, bahkan Kevin menggandeng Angel berjalan meninggalkannya begitu saja. Bahkan dia rela menjadi wakil direktur, juga meninggalkan rumah besar itu.


Kevin menggenggam erat tangan Angel. Dia sudah mengambil keputusan besar, memang sudah seharusnya mengorbankan hal kecil untuk mendapatkan hal besar. Itu yang ada di pikiran Kevin. Tapi sebenarnya, dia sedang menuju ke jalan di mana dia akan kehilangan segalanya.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2