Beautiful Revenge Istri Yang Di Lenyapkan

Beautiful Revenge Istri Yang Di Lenyapkan
Bab 15


__ADS_3

Hasil dari pemeriksaan obat itu baru bisa di ketahui besok, Angel kembali bersama Darren dengan perasaan yang tidak tenang.


Malam harinya, Angel bahkan tidak bisa tidur. Dia berdiri di balkon kamarnya, memandang luasnya langit malam ini. Dia sangat khawatir pada papanya. Sampai dokter yang sudah menjadi orang kepercayaan papanya pun mampu berpindah haluan karena dua manusia licik itu. Entah apa yang di lakukan oleh Vanya. Setahu Angel, Dokter keluarga mereka itu tidak gilaa harta.


"Papa, sabar ya pa. Papa harus kuat, sebentar lagi Eva akan kembali pa!" gumamnya memandang langit yang begitu luas.


Sementara itu Darren yang baru saja menerima telepon di luar, arah pandangnya tiba-tiba saja tertuju pada balkon kamar Angel. Melihat Angel berdiri di sana sendirian, Darren menghentikan langkahnya.


Dia kembali teringat saat pertama kali bertemu dengan Angel di sekolah dulu. Saat itu kejadiannya sama seperti ini. Posisi Darren juga sama seperti ini, Darren berada di bawah sebuah pohon dan melihat Angel atau Eva yang dulu sedang berusaha meraih anak kucing yang tersangkut di pohon itu.


Eva berusaha sangat keras, meski dia terlihat gemetaran. Ketika Eva mampu meraih anak kucing itu, wajahnya mengembangkan senyum yang begitu lebar, terlihat sangat bahagia. Darren sampai tertular senyum Eva kala itu.


Itu adalah awal pertemuan mereka, Darren mengingatnya tapi mungkin Eva tidak. Darren pun masuk ke dalam rumah, meraih sebuah syal tebal dan membawanya ke kamar Angel. Darren membuka pintu kamar itu, karena memang Angel tidak pernah mengunci pintu kamarnya kalau belum tidur. Darren berjalan ke arah balkon dan meletakkan syal tebal itu di punggung Angel.


Angel cukup terkejut, karena tiba-tiba ada yang memberikannya syal tebal.


"Udara malam ini cukup dingin, pakai ini agar tidak masuk angin! aku akan kembali ke kamarku. Selamat malam!" kata Darren yang lantas pergi begitu saja.


Angel berbalik dan berkata.


"Selamat malam, kak!" kata Angel pelan.


Keesokan harinya... Mulai terjadi keributan di rumah Kevin. Pagi tadi, tahu-tahu sudah ada seorang asisten rumah tangga yang datang dan katanya Kevin yang meminta yayasan mengantarkan seorang asisten rumah tangga.


"Kenapa harus pakai asisten rumah tangga sih mas, mana masih muda gitu. Seragamnya pendek sekali, dia pasti wanita genit!" kata Vanya pada Kevin yang jelas tidak suka melihat asisten rumah tangga yang baru itu. Karena penampilannya memang masih muda dan badannya juga bagus.

__ADS_1


Vanya tentu saja cemas kalau sampai Kevin sebenarnya ada apa-apa dengan asisten rumah tangganya yang baru itu. Kan seharusnya bisa saja panggil asisten rumah tangga yang tua, kenapa harus yang muda begitu.


"Lala ini rekomendasi dari Angel, semua asisten rumah tangganya dari yayasan yang sama dengan Lala!" jelas Kevin.


Mendengar hal itu, Marta yang awalnya juga kurang setuju pun jadi setuju pada Kevin.


"Oh, rekomendasi dari Angel. Ya biar sajalah Vanya, lagian mama juga sudah tua kamu juga sudah gak pernah bantu mama karena sekarang sibuk di kantor kan? gak papa lah! Lala, kamu bisa ke kamar yang ada di belakang dapur ya. Kamu rapikan barang kamu di sana. Lalu mulai masak ya!" kata Marta.


Lala pun menuruti perkataan Marta, dia menuju ke dapur setelah membungkukkan badannya memberi hormat pada semua yang ada di ruangan itu.


"Tuh lihat kan, sopan banget. Dia sampai membungkuk gitu. Angel memang pinter cari pelayan!" kata Marta yang makin membuat Vanya geram.


Tapi Vanya tidak berani mengeluarkan, meluapkan emosinya. Dia tahu Kevin sangat sayang pada mamanya.


Vanya hanya mengepalkan tangannya kesal karena dua orang di depannya itu terus memuji Angel.


Vanya yang datang untuk memberikan beberapa materi pada sutradara pun terlihat sangat kesal. Melihat Angel bisa cepat akrab dengan para make up artis dan kru lainnya.


"Nona Vanya, tidakkah ini terlalu berbahaya. Kita bisa ambil gambar dengan efek saja. Tidak perlu benar-benar nona Angel harus berdiri di roof top. Angin sedang tidak bagus, kami syuting juga sudah mempertimbangkan segala hal. Dan cuaca siang ini sangat tidak bersahabat. Maka itu kami syuting take pertama di studio ini!" kata sutradara yang sudah punya pengalaman baik itu.


"Kamu ini bagaimana sih? ini permintaan klien. Harus natural, lagipula klien minta take pertama ini latarnya siang hari. Ck... jangan bikin malu deh. Masa iya sutradara senior kayak kamu gak bisa ngatur gimana timing yang pas. Supaya bisa syuting di outdoor?" tanya Vanya yang memang sangat berbakat kalau tentang keahliannya sebagai tukang sindir.


Sutradara itu tampak menghela nafas. Dia pun berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Angel.


"Nona Angel, kita akan syuting di rooftop kita harus ambil angle yang pas untuk latar siang hari dan berangin!" kata sutradara.

__ADS_1


"Oh, kalau begitu aku tahu tempat yang bagus. Lagipula kalian tidak mau kan kalau sampai di bilang kekurangan biaya syuting kalau sampai syuting di rooftop perusahaan. Kakakku punya sebuah villa, di sana viewnya laut. Cantik sekali. Kita bisa syuting di sana kalau kamu mau kak Sutradara?" tanya Angel.


Sutradara Decky merasa kalau uang di katakan Angel itu benar-benar sangat bagus. Sebuah villa mewah dengan view laut. Suasana terik dan berangin. Itu sangat pas.


Sutradara Decky pun tersenyum dan mengangguk setuju dengan cepat.


"Ide bagus nona Angel. Dimana lokasinya?" tanya sutradara Decky.


Semua pun bersiap pindah lokasi. Vanya yang sudah kembali ke ruangannya sangat senang membayangkan kalau Angel akan sangat susah payah saat melakukan syuting iklan. Kalau tidak mau dirinya dalam bahaya pasti akan butuh waktu yang pas. Dan itu akan sangat lama.


Sementara itu Kevin kebetulan bertemu dengan para kru yang akan pindah lokasi.


"Mau kemana kalian?" tanya Kevin.


"Hai Kevin!" sapa Angel.


"Angel, bukannya kamu ada syuting di studio? kalian mau kemana?" tanya Kevin yang baru akan menghampiri Angel ke studio.


"Kami mau ke villa kak Darren, kata Vanya kami harus syuting di tempat yang real terik dan berangin. Aku pikir di sana lebih bagus daripada di rooftop perusahaan!" kata Angel.


"Rooftop perusahaan?" tanya Kevin bingung.


"Iya, kata Vanya kami harus syuting di rooftop perusahaan. Aku pikir itu sangat tidak baik, itu akan membuatmu di pandang tidak baik oleh para klien. Benar kan?" tanya Angel seolah ingin mengiring opini Kevin kalau Vanya ingin membuat namanya jadi jelek di mata klien.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2