
Vanya pulang ke rumah dengan hati kesal, dia mencoba untuk menghubungi Kevin. Tapi malah nomer Kevin tidak aktif.
Saat bertemu dengan Marta di ruang tamu, Vanya yang kesal pun harus mengulas senyum di wajahnya untuk mamanya Kevin itu.
"Selamat malam Tante!" kata Vanya.
"Malam, kamu baru pulang? jam berapa ini Vanya? untung saja Angel merekomendasikan asisten rumah tangga, kalau tidak bisa patah tanganku ini mengerjakan semua pekerjaan rumah!" kata Marta yang menyindir Vanya secara terang-terangan.
Masalahnya dulu Vanya itu berjanji pada Marta, dia akan tinggal di rumah Marta untuk membantu semua pekerjaan Marta. Tapi setelah Kevin menyingkirkan Eva, dia malah minta pada Kevin untuk bekerja di kantor agar bisa punya penghasilan lebih banyak dan mengawasi orang-orang di kantor untuk Kevin. Itu alasan yang dia katakan pada Kevin saat minta bekerja di kantor.
Tapi hal itu justru membuat Marta semakin tidak suka dengan Vanya.
"Maaf ya Tante, tadi pekerjaan ku sangat banyak. Aku janji lain kali tidak akan pulang malam begini, dan membantu Tante memasak makan malam seperti biasanya dulu!" kata Vanya.
Meskipun sebenarnya di dalam hatinya Vanya kesal, tapi dia tahu kalau Kevin itu sangat sayang dan menurut pada mamanya. Vanya harus tetap bersikap baik pada Marta agar Kevin tetap berada di sisinya.
"Tidak perlu, sekarang sudah ada Lala. Makan malam saja sudah siap sejak tadi!" kata Marta.
"Oh begitu ya, baiklah kalau begitu. Vanya ke kamar dulu ya Tante!" kata Vanya yang tidak mau lanjut berada di tempat itu, karena dia tidak ingin berdebat. Sebab kesabarannya sudah mulai terkikis.
Vanya pun mandi dan ganti pakaian, dia kemudian ke kamar Kevin. Tapi Vanya cukup terkejut karena tidak menemukan pria itu di dalam kamarnya.
"Mas Kevin kemana sih!" gerutunya kesal.
Pria yang di cari oleh Vanya, saat ini pria itu sedang berada di depan pagar rumah keluarga Nickolay.
Pagar tembok itu cukup tinggi, Kevin merasa kalau dengan tangan kosong saja, dia tidak mungkin bisa melewati pagarnya. Sementara tadi dia sudah berusaha meminta bantuan penjaga gerbang untuk membukakan pintu, tapi penjaga yang memang sudah di beri peringatan oleh Darren dan menunjukkan foto Kevin pada penjaga itu, dan mengatakan jangan memperbolehkan Kevin masuk. Meski di iming-iming uang yang banyak, sampai lima juta rupiah, penjaga itu tetap tak mau membuka pintu.
"Bagaimana caranya aku masuk ke kamar Angel dan bicara padanya kalau begini!" gumam Kevin sambil berpikir.
Kevin pun pada akhirnya terpaksa meminta bantuan pada anak buahnya, orang yang biasa dia bayar untuk membantunya melakukan sesuatu.
Awalnya dia tidak mau melakukan itu, karena anak buahnya juga anak buah Vanya. Kevin tidak mau apa yang dia lakukan ini ketahuan Vanya. Tapi apa daya, dia tidak bisa melakukannya sendiri.
__ADS_1
Kevin hanya bisa membayar mereka lebih mahal, agar mereka tidak mengatakan apa yang Kevin lakukan ini pada Vanya.
Sebuah mobil box datang tak lama, setelah Kevin menghubungi mereka. Setelah itu Kevin kembali mematikan ponselnya. Karena kalau sampai berdering, dan ketahuan Darren. Itu akan semakin buruk nanti.
Dua orang bayaran Kevin itu lantang menurunkan sebuah tangga dari mobil box itu. Tangga besi susun itu di tempelkan ke dinding pagar.
Sementara Kevin sedang berusaha, Darren dan Angel juga memantau dari ruang CCtv kediaman Nickolay itu.
"Lihat, dia sudah datang. Matikan alarm pagar!" kata Darren pada petugas keamanan menggunakan Handy Talky.
Pagar rumah Nickolay di lengkapi sistem keamanan yang canggih. Alarm akan berbunyi jika terjadi gerakan atau tekanan melebihi satu kali dari luar. Alarm itu memang tidak akan berbunyi di luar, tapi akan berbunyi kencang di ruang keamanan. Hingga penjaga keamanan bisa langsung mencari tahu apa yang membuat alarm itu berbunyi. Seekor kucing kah? atau seorang yang kebetulan bersandar di pagar tembok itu.
Sayangnya Kevin yang notabenenya adalah orang kaya baru, tidak mengetahui hal itu. Begitu Kevin sudah melewati pagar itu, Darren langsung meminta Angel ke kamarnya.
"Sekarang giliran mu Angel, muncullah di balkon kamarmu sebentar, hanya sebentar saja. Mengerti!" kata Darren yang langsung di angguki paham oleh Angel.
Angel lalu pergi dari ruang keamanan, menuju ke kamarnya.
"Dimana kamar Ange" batin Kevin lagi.
Kevin melihat setiap jendela, dan kebetulan dia mendengar sebuah suara, seperti pintu yang di buka.
"Bi, pintunya ini susah terbuka. Besok beri tahu penjaga rumah untuk membenarkannya!"
Sebuah suara terdengar, dan Kevin sangat kenal dengan suara itu. Kevin pun bergegas ke arah dimana suara itu berasal. Kevin langsung tersenyum melihat Angel keluar dengan piyama tidurnya, wanita itu berdiri di balkon dan terlihat memandang ke arah langit malam sebentar. Lalu mengusap lengannya yang terasa dingin dan kembali lagi masuk ke dalam.
Di depan balkon itu ada sebuah pohon, sangking cepat ingin bertemu dengan Angel. Kevin pun mengambil tangga yang di dinding pagar dan memindahkannya ke pohon.
"Kalau bukan demi Angel, mana mungkin aku sampai seperti ini. Menggotong tangga ke sana kemari!" gumam Kevin.
Darren dari ruang CCtv, terkekeh melihat kelakuan Kevin.
"Kalian tahu sarang semut di dekat pohon rambutan di taman belakang?" tanya Darren pada salah satu anak buahnya.
__ADS_1
"Iya tuan!" kata anak buahnya menjawab cepat.
"Kumpulkan semut-semut api itu, hati-hati jangan sampai kalian terluka. Lalu sebarkan di pohon dekat balkon Angel, saat Kevin turun. Dia akan di gigiti oleh semut-semut api itu!" kata Darren terlihat senang dengan rencananya itu.
"Baik tuan!" kata anak buahnya yang langsung melaksanakan apa yang di perintahkan oleh Darren.
Kevin memanjat tangga, dan pohon itu. Dia benar-benar sampai berpeluh keringat untuk sampai di balkon kamar Angel.
"Angel!" Kevin memanggil Angel dengan suara pelan.
"Angel!"
Angel yang mendengar itu lantas keluar dari kamarnya. Angel menunjukkan wajah yang begitu terkejut. Padahal sebenarnya dia tidak terlalu terkejut.
"Kevin, bagaimana kamu bisa...!" Angel melihat ke arah bawah balkon.
"Kamu memanjat?" tanya Angel.
Kevin mengangguk dengan cepat, sambil mengatur nafasnya.
"Masuklah, nanti ada yang lihat?" kata Angel menarik tangan Kevin ke dalam kamarnya.
Angel lalu mengambilkan air minum yang memang ada di atas meja untuk Kevin. Kevin tidak tahu kalau di dalam air itu ada obat pencaharr.
"Kamu nekat Kevin, bagaimana kalau kak Darren tahu?" tanya Angel yang ekspresi wajahnya sangat khawatir.
"Aku tidak punya cara lain, ponselmu di pegang oleh Darren. Aku tidak tenang sebelum minta maaf padamu Angel!" ucap Kevin dengan tatapan sendu.
Mungkin jika Angel bukanlah Eva, dia pasti akan terharu dengan apa yang di katakan dan di lakukan Kevin untuk sekedar minta maaf padanya.
***
Bersambung...
__ADS_1