
Kevin masih berusaha menjelaskan pada Angel kalau dia benar-benar menyesal. Dia tidak tahu kalau niatnya untuk mengajak Angel ke dokter Herman agar bisa mendapatkan penanganan yang cepat, karena memang di tempat lain harus membuat janji terlebih dahulu dan kalau dia pergi ke dokter Herman, dia tidak perlu membuat janji itu malah membuat masalah untuknya.
"Aku benar-benar minta maaf Angel, aku akan lakukan apapun agar kamu mau memaafkan aku!" kata Kevin dengan melipat kedua, menyatukan kedua tangannya di depan Angel.
"Maafkan aku Kevin, kak Darren...!"
"Aku menyukai mu Angel, aku jatuh cinta padamu saat pertama kali melihat mu. Masalah pekerjaan, aku tidak perduli itu. Aku akan terima semua konsekuensinya, tapi aku tidak bisa kalau harus jauh darimu, Angel!"
Kevin menyela Angel dan mengeluarkan kata-kata manisnya yang lebih manis dari madu. Mungkin kalau itu wanita lain. Maka rayuan itu akan manjur, tapi sayang wanita yang berada di depannya itu adalah Eva.
Tapi meski begitu, Eva yang saat ini menjadi Angel, harus pura-pura sangat terharu.
"Maafkan aku, kita bahkan belum ada satu bulan saling mengenal. Tidakkah menurutmu terlalu cepat mengatakan hal itu? istrimu juga baru beberapa minggu meninggal bukan? Kevin.. maaf aku tidak bisa percaya padamu. Sekarang pergilah, kak Darren kalau marah. Aku benar-benar sangat takut. Tolong pergilah!" kata Angel yang mendramatisir ketakutannya pada Darren.
"Angel tapi...!"
"Pergilah, kalau kak Darren tahu kamu datang seperti ini, dia akan marah!" kata Angel yang terlihat beberapa kali menoleh ke arah pintu kamarnya.
"Angel, aku serius. Aku tahu istriku memang baru meninggal, tapi siapa yang bisa mengendalikan perasaan yang datang...!"
"Angel!" panggil Darren dari luar kamar Angel.
Mata Angel langsung melebar.
"Kevin, cepat pergi. Kak Darren datang!" kata Angel yang mendorong Kevin keluar dari pintu kamarnya ke arah balkon.
Angel lalu menutup pintu itu dan berlari ke arah pintu kamarnya. Kevin yang tidak mau di tangkap basah oleh Darren pun akhirnya memilih pergi dulu, nanti dia akan pikirkan cara lain lagi untuk membujuk Angel.
Tapi sialnya, saat Kevin turun dari pohon di dekat balkon itu. Dia merasa banyak sekali yang menggigit kaki, punggung, lengan dan lehernya.
Kevin lompat dari tangga dan mengusap-usap seluruh tubuhnya.
__ADS_1
"Agkhhh, sialll semut api. Gatal dan panas sekali!" kata Kevin yang mengusap salah satu semut yang menggigit pipinya.
"Aku harus cepat pergi dari sini!" kata Kevin yang cepat memindahkan tangga itu ke dinding pagar setelah itu dia menaikinya dan keluar.
Sampai di luar, Kevin melepaskan jaket dan baju yang dia pakai.
Dua anak buah Kevin pun terkejut.
"Ada apa bos?" tanya salah satunya.
"Bantu aku, aku di gigiti semut?" kata Kevin panik.
Dua anak buah Kevin lalu membantu Kevin, sampai dia merasa sudah tidak ada lagi semut di tubuhnya. Tapi baru saja dia merasa lega, meskipun bekas gigitan semut-semut itu masih terasa panas dan gatal. Kevin merasa ada yang tidak beres dengan perutnya.
"Agkhhh, siall apalagi ini?" tanya Kevin geram sambil memegang perutnya.
"Wah, jangan-jangan itu semut beracun. Cepat mandi dengan air daun sirih bos!" kata salah satunya.
Kevin yang tidak percaya akan ada hal seperti itu pun melambaikan tangan acuh.
Tapi semakin lama, perut Kevin rasanya benar-benar tidak enak.
"Agkhhh, siall sekali sih. Ini perut juga kenapa sih?" tanya Kevin bergumam.
Kevin yang merasa sudah tidak menahan untuk ke toilet, akhirnya memutuskan untuk berhenti di salah satu stasiun pengisian bahan bakar. Kevin menepikan mobilnya dan berlari secepatnya ke toilet pom bensin itu.
Setelah sepuluh menit, Kevin tampak keluar dari tempat itu. Tapi baru juga dia mencuci tangan di wastafel, dia pun kembali harus menuju ke toilet lagi.
Hal itu terjadi kurang lebih empat kali, sampai ada seorang penjaga toilet itu yang tampak kasihan dan memberikan obat diare pada Kevin.
"Mas, mas... ini saya punya obat diare. Coba saja di minum. Sebaiknya masnya ke rumah sakit sekarang!" kata penjaga toilet itu yang merasa kalau yang di alami Kevin itu sudah sampai pada tahap harus segera ke rumah sakit.
__ADS_1
Kevin pun merasa kalau apa yang di katakan oleh penjaga toilet itu ada benarnya. Setelah meminum obat yang di berikan oleh penjaga toilet itu, Kevin langsung menuju ke rumah sakit terdekat dari tempatnya berada saat itu.
Benar saja, kondisinya semakin parah. Bahkan dokter menyarankannya untuk rawat inap.
"Apa yang terjadi sebenarnya dok? kenapa saya jadi bolak-balik ke toilet begini. Apa benar ini ada hubungannya dengan semut yang menggigit saya?" tanya Kevin yang pada akhirnya mempertimbangkan pendapat dari dua anak buahnya tadi.
"Sebelumnya anda di gigit semut?" tanya dokter itu.
"Iya, dok!" kata Kevin.
"Seperti bukan karena kyu ya, memang ada cairan yang tidak baik di dalam darah anda. Tapi itu bukan semacam zat yang berasal dari hewan atau virus, atau semacamnya, itu karena...!"
"Dok, pasien di UGD mendadak kejang-kejang dok!" kata seorang perawat yang datang dengan panik.
Kevin yang mendengarkan apa yang ingin di katakan oleh dokter itu pun segera menoleh ke arah perawat itu.
Maklum saja, tempat ini bukan rumah sakit yang besar. Jadi dokter yang jaga malam hanya dua orang saja.
"Baiklah, pak Kevin. Sebaiknya malam ini istirahat dulu di sini. Besok pagi baru pulang!" kata dokter itu yang segera pergi dari ruangan Kevin setelah Kevin menganggukkan kepalanya dengan cepat.
Kevin pun meraih ponselnya, dia mau menghubungi mamanya. Tapi saat melihat jam di ponselnya, itu sangat malam. Kevin tidak mau mamanya cemas, apalagi mamanya juga baru sembuh dari sakit.
Kevin akhirnya menginap di rumah sakit itu. Sementara Vanya terus terlihat kesal dan mondar-mandir di kamar Kevin. Matanya terus melihat ke layar ponselnya, melihat jam yang ada di layar ponselnya.
"Kemana sih mas Kevin!"
Gerutunya, dan karena dia begitu penasaran sampai tidak bisa tidur. Vanya pun memutuskan untuk bertanya pada Marta.
Beberapa kali Vanya mengetuk pintu Marta. Tapi Marta tidak menghiraukannya.
"Ih, ngapain sih. Suaminya juga bukan? repot banget sih, lagian ya nanti kalau Kevin sudah berhasil mendekati Angel, aku juga akan minta Kevin mengusirmu dari rumah ini. Kamu sudah tidak berguna Vanya!" gumam Marta di dalam kamarnya sambil menutup telinganya dengan bantal agar tidak terganggu dengan ketukan pintu dari Vanya.
__ADS_1
***
Bersambung...