
Angel sedang berada di rumah sakit dokter Frans bersama dengan William Mukhtar. Mereka berdua sedang menunggu hasil pemeriksaan.
'Papa, kenapa sekarang paman pergi kemanapun tidak membawa paman Viktor? padahal paman Viktor akan melindungi papa dari bahaya' batin Angel melihat papanya yang semakin hari kesehatannya semakin tidak baik saja.
"Uhukk uhukk, Angel maafkan paman ya, paman sekali lagi sudah kembali merepotkan mu!" kata William Mukhtar yang langsung membuat Angel sadar dari lamunannya.
"Tidak apa-apa paman, jangan berkata begitu. Aku sudah menganggap paman seperti papaku sendiri. Paman, bukankah di rumah ada seorang paman yang terlihat sangat perhatian pada paman, kenapa paman itu tidak ikut kemana paman pergi saja?" tanya Angel.
"Viktor ya?" tanya William Mukhtar dan Angel pun mengangguk.
"Dulu Viktor memang pengawalku, dia ikut kemana saja aku pergi. Tapi hasil pemeriksaan dokter Herman, dia mengidap penyakit yang susah di obati. Tidak boleh terlalu lelah dan terluka, ada masalah dengan tulang belakangnya. Jadi aku pikir, biar dia di rumah saja!" jelas William Mukhtar.
"Tapi paman, dokter Herman salah mendiagnosa penyakitmu, bisa jadi dia juga salah mendiagnosa penyakit paman Viktor kan? bagaimana kalau paman Viktor juga kita hubungi untuk periksa di sini, ya paman?" tanya Angel sedikit membujuk.
Setelah memikirkan apa yang di katakan Angel, akhirnya sampailah William Mukhtar pada kesimpulan kalau mungkin yang di katakan oleh Angel itu benar. Dan seharusnya dia menghubungi Viktor.
"Baiklah, paman akan menghubungi Viktor dan memintanya kemari!" kata William Mukhtar.
Setelah menghubungi Viktor dan meminta pengawal pribadinya selama bertahun-tahun itu ke ruang sakit dokter Frans. William Mukhtar dan Angel pun menunggu hasil pemeriksaan menyeluruh untuk William Mukhtar.
Sementara itu di kantor polisi, Kevin sedang mengacak-acak rambutnya kotak habis pikir dengan permintaan dokter Herman yang menurutnya tak masuk akal.
"Jangan menguji kesabaranku, kalian yang menjanjikan hal ini akan aman. Sekarang William Mukhtar akan periksa ke rumah sakit lain, dan kalian benar-benar membuatku dalam masalah!" kata dokter Herman.
"Kenapa di persulit, tinggal bilang semua ini kesalahan asistenmu itu kan. Katakan juga saja, kalau dia yang telah menukar obat untuk William Mukhtar!" seru Kevin kesal.
__ADS_1
"Enteng sekali mulutmu bicara, Desi itu baru bekerja jauh sebelum resep obat itu di ganti. Bagaimana aku melimpahkan kesalahan itu padanya?" tanya dokter Herman.
Vanya sejak tadi diam dan menundukkan kepalanya, wanita itu sedang berpikir.
"Ya sudah, berikan saja apa yang dokter Herman mau mas. Daripada nama kamu terbawa!" kata Vanya yang tidak bisa memikirkan hal lain.
Dia baru saja bertengkar dengan Kevin, lalu pikirannya di penuhi dengan ambisinya tentang pekerjaan dan tidak mau berlama-lama di kantor polisi. Itulah yang membuatnya berpikir praktis saja, toh uang bisa mereka cari lagi. Mereka bisa mendapatkannya dengan mudah dari perusahaan AW Company.
Kevin pun mengernyitkan dahi melihat ke arah Vanya.
"Apa maksudmu? membiayai keluarga dokter Herman itu tidak masalah, tapi kalau 150 juta dalam sebulan, apa menurutmu itu masuk akal? iya kalau dia di hukum sebentar, kalau bertahun-tahun bagaimana? biaya pengacara sudah hampir 500 juta!" keluh Kevin yang benar-benar di buat pusing dengan masalah ini.
"Tidak ada cara lain mas!" kata Vanya.
"Kalian jangan berdebat di sini, kalau kalian tidak menuruti permintaan ku, maka akan ku sebut nama kalian berdua di persidangan" gertak dokter Herman.
Di luar kantor polisi, Kevin dan Vanya lagi-lagi bertengkar.
"Kenapa menyetujuinya?" tanya Kevin kesal.
"Kalau tidak setuju, bisa apa lagi kita mas? dokter Herman akan menyebut nama kita, aku tidak mau masuk penjara!" kata Vanya.
"Memang semua ini ide siapa? aku sudah bilang padamu kan! sudah jalankan saja rencana yang ada. Yang penting kita bisa ambil kepercayaan papa mertua ku. Kamu malah bilang harus menyingkirkan dia pelan-pelan. Ini akibatnya, mengeluarkan uang sebesar itu setiap bulan, memangnya perusahaan tidak akan curiga. Benar-benar...!"
"Mas, kamu kenapa sih? ini semua gara-gara kamu tahu gak. Kalau kamu tidak membawa wanita genit itu ke dokter Herman, semua ini tidak akan terjadi!" bantah Vanya.
__ADS_1
"Terus saja salahkan aku, mana aku tahu kalau dokter bodoh itu tidak bisa bekerja dengan benar. Jangan salahkan Angel...!"
Makin panas hati Vanya, karena Kevin membela Angel. Vanya pun menyela Kevin.
"Terus saja bela dia, menyebalkan!" Vanya kesal dan akhirnya meninggalkan Kevin menuju ke mobilnya.
Kevin berdecak kesal, dia benar-benar kesal pada Vanya. Dia akan rugi banyak, rugi besar kalau begini ceritanya.
Beberapa jam menunggu, akhirnya hasil tes William Mukhtar keluar. Dokter Frans memanggil William Mukhtar dan Angel ke ruangannya, paman Viktor yang sudah datang juga ikut masuk dan berdiri di belakang William Mukhtar.
"Tuan William Mukhtar, sepertinya ada yang ingin mencelakai anda!" kata dokter Frans secara terang-terangan.
Mendengar itu yang pertama kali terkejut dan menunjukkan raut wajah tidak tenang adalah paman Viktor. Masalahnya dia sudah curiga sejak lama, dia di minta periksa kesehatan lalu di diagnosa sakit, dan tidak boleh melindungi tuannya. Lalu tuannya semakin hari bukan semakin membaik padahal sudah konsumsi banyak obat, tapi semakin memburuk saja kesehatannya. Itu membuat Viktor sejak awal merasa ada yang tidak beres.
"Maksudnya bagaimana dokter?" tanya William Mukhtar bingung.
"Di dalam darah tuan, terdapat beberapa kandungan obat yang tidak baik, kemungkinan obat yang anda konsumsi, bukan obat untuk menguatkan jantung. Sebaliknya, itu untuk melemahkan jantung. Jika terus di konsumsi, maka akan sangat berbahaya. Dokter yang meresepkan ini, bukankah sama dengan yang memeriksa Angel waktu itu. Jika tidak percaya, silahkan bawa sampel obat anda ke laboratorium ruang sakit lain untuk diperiksa! saya yakin, dokter itu meresepkan obat yang salah!" kata dokter Frans yakin.
"Dan tuan Viktor, tidak ada luka atau masalah di tulang belakang anda. Anda sehat!" kata dokter Frans lagi.
William Mukhtar terdiam, bagaimana mungkin dokter keluarganya yang sudah bekerja belasan tahun dengannya bisa melakukan hal ini padanya.
William Mukhtar benar-benar meminta Viktor pulang dan mengambil obatnya yang di resepkan oleh dokter Herman. Ternyata benar, itu adalah obat yang akan memperburuk kondisi kesehatannya.
William Mukhtar pun segera pergi ke penjara untuk menemui dokter Herman. Angel dan Viktor juga ikut.
__ADS_1
***
Bersambung...