Beautiful Revenge Istri Yang Di Lenyapkan

Beautiful Revenge Istri Yang Di Lenyapkan
Bab 11


__ADS_3

Begitu kembali ke rumahnya, Darren mengantarkan Angel ke kamarnya.


"Angel, ada yang ingin aku katakan!" kata Darren yang langsung membuat Angel berbalik menghadap ke arah Darren.


"Dia orang jahat itu, saat aku mengikuti mereka. Mereka bilang mereka telah mengganti obat papamu!"


Wajah Angel terlihat begitu khawatir.


"Besok datanglah ke sana. Kalau bisa ambil obat yang di konsumsi oleh tuan William. Aku akan mencari tahu tentang dokter yang menangani papamu!" kata Darren sambil menepuk bahu Angel dengan pelan.


"Aku tahu, kamu pasti cemas. Tapi jangan terbawa emosi, kita masih harus mencari banyak bukti!" kata Darren yang langsung di angguki oleh Angel.


Begitu melihat Angel sudah mengerti, Darren pun terlihat mau meninggalkan Angel. Tapi kemudian Angel memanggil Darren.


"Kak Darren!"


Darren mengentikan langkah dan berbalik.


"Kak, kamu sudah banyak sekali membantuku. Jika ada yang bisa aku lakukan untukmu...!"


"Tidak Angel, aku baik-baik saja. Kamu istirahat lah, setelah tanda tangan kontrak besok. Kamu harus segera ke rumah papamu!" kata Darren yang langsung pergi meninggalkan Angel.


Angel hanya bisa memandang punggung Darren yang berjalan menjauh darinya. Angel tidak tahu bagaimana caranya membantu Darren, tapi dia sangat ingin menantu pria yang telah banyak melakukan hal baik dalam hidupnya itu. Angel tahu, di balik wajah datar itu. Tatapan mata Darren mengisyaratkan banyak sekali kesedihan yang dia pendam.


Keesokan harinya, di rumah Kevin. Pria itu terlihat bangun pagi-pagi sekali. Bahkan dia sudah sangat rapi dan siap untuk berangkat ke kantor.


Vanya bahkan baru bangun, dan masih mengenakan pakaian tidur ketika dia keluar dari kamar dan menuju ke dapur karena haus.


"Mas, tumben. Pagi-pagi begini kamu sudah rapi sekali. Ada meeting?" tanya Vanya yang memang tidak tahu banyak tentang jadwal Kevin, kalau pria itu tidak memberitahunya.


"Iya, bagaimana rencana pemasaran Luxia?" tanya Kevin.


"Mas, jangan bicarakan masalah pekerjaan di rumah. Aku sedang mengurusnya. Aku siapkan sarapan dulu ya?" tanya Vanya dan Kevin pun mengangguk.


Vanya lantas menyiapkan sarapan untuk Kevin.


"Dimana mama?" tanya Kevin pada Vanya.

__ADS_1


"Aku tidak tahu mas, aku juga baru bangun!" kata Vanya.


Kevin terlihat tidak senang.


"Coba lihat di kamarnya, kamu harus lebih perhatian pada mama!" kata Kevin.


Vanya pun tersenyum dan mengangguk. Padahal di dalam hatinya, Vanya sangat kesal.


'Ih, ngapain sih nyuruh aku ngurusin tua bangka itu. Menyusahkan saja, sepertinya aku harus merencanakan sesuatu pada wanita tua yang kerjanya hanya menghabiskan uang mas Kevin!' batin Vanya.


Vanya tersenyum dan berlagak menjadi seorang wanita yang sangat penurut dan menyayangi Marta. Padahal dalam hatinya dia benci setengah mati pada Marta.


Tok tok tok


"Ma, sarapan sudah siap. Ayo kita sarapan dulu ma!" kata Vanya.


Tapi tak ada jawaban dari dalam kamar itu selama beberapa menit. Hingga Vanya mendengar benda jatuh dari dalam kamar itu.


Vanya pun berinisiatif untuk membuka pintu kamar Marta. Dan betapa terkejutnya, ketika Vanya melihat Marta pingsan di dekat tempat tidurnya.


Vanya tak mau masuk dulu dan memeriksanya karena dari jauh dia melihat pakaian tidur Marta basah. Dan ada gelas di sampingnya sudah pecah berantakan.


Selain tak tahu apa basahnya pakaian Marta itu hanya karena air minum, Vanya tentu saja tak mau terkena pecahan gelas.


Kevin yang sedang sarapan langsung meninggalkan meja makan, dan segera menghampiri Marta yang tergeletak tak sadarkan diri itu.


"Mama..!" seru Kevin yang langsung menghampiri Marta dan mengangkat kepalanya Marta dan di letakkan di pangkuannya.


"Ma, bangun ma!"


Kevin berusaha membangunkan Marta, tapi wanita itu tak kunjung bangun.


"Siapkan mobil Vanya, kita harus ke rumah sakit!" kata Kevin.


Vanya pun bergegas menyiapkan mobil, masih dengan pakaian tidur dia mengemudikan mobil meninggalkan rumah itu setelah Kevin membawa Marta ke dalam mobil.


Begitu sampai di rumah sakit, dokter segera menangani Marta di ruang UGD.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, hanya dalam lima belas menit. Dokter itu keluar dan menghampiri Kevin.


"Bagaimana mama ku dok?" tanya Kevin.


"Pasien kelelahan, di usia tuanya. Sebaiknya jangan terlalu banyak bekerja. Dan satu hal lagi, kolesterol pasien sangat tinggi. Jangan makan seafood dan makanan pemicu kolesterol ya, di kurangi makanan yang banyak lemak dan minyaknya! sudah tidak apa-apa, setelah botol infus itu habis pasien boleh pulang!" jelas dokter berkacamata itu.


Kevin pun mengangguk paham, dia menghela nafas lega. Dia sudah membatalkan janji temu dengan Angel untuk tanda tangan kontrak karena sangat khawatir pada mamanya. Kevin ini memang sangat licik dan memikirkan diri sendiri, tapi satu hal yang positif darinya adalah, pria ini sangat menyayangi mamanya. Dia begitu perduli dan perhatian pada mamanya.


Kevin menghampiri Vanya yang duduk sambil minum minuman dingin. Otaknya terlalu panas memikirkan semua hal ini. Dia baru bangun, tadinya dia kehausan dan ingin minum, tapi harus menyiapkan sarapan. Sudah itu dia bahkan belum mandi dan ganti pakaian tapi harus ke rumah sakit. Sudah sampai rumah sakit, seperti biasanya kalau terjadi sesuatu pada Marta, Kevin akan mengacuhkannya. Jadi dia benar-benar butuh minuman dingin untuk meredam panasnya hati dan otaknya.


"Vanya, aku akan ke kantor. Tolong nanti bawa mama pulang ya, aku sudah minta tolong pada ambulans. Kamu cukup menemani dan menjaga mama saja, siapa tahu ada yang dia butuhkan!" kata Kevin yang terlihat benar-benar hanya perduli pada Marta.


Vanya pun tersenyum dan mengangguk. Vanya berdiri, dan meletakkan minumannya di sampingnya. Di kursi yang kosong.


"Mas, kamu jangan cemas. Urus saja pekerjaan mu. Aku akan merawat mamamu dengan baik. Aku kan sudah anggap tante Marta seperti mamaku sendiri!" kata Vanya sambil mengecup mesra pipi Kevin.


"Aku tahu, aku memang selalu bisa mengandalkan mu!" kata Kevin yang lantas berbalik dan meninggalkan Vanya.


Begitu Kevin sudah tidak terlihat lagi. Vanya menghentakkan kakinya dengan kuat di lantai beberapa kali.


"Agkhhh, menyebalkan sekali. Memangnya aku ini apa? baby sitter orang jompo. Menyebalkan!" kesal Vanya.


Sementara itu di rumah Darren, Angel baru saja mendapatkan telepon dari sekertaris Kevin.


"Apa katanya?" tanya Darren.


"Pertemuannya di tunda, tanda tangan kontrak nya di tunda. Mamanya Kevin masuk rumah sakit!" kata Angel.


"Dia sangat menyayangi mamanya ya?" tanya Darren.


"Sangat!" kata Angel.


"Kalau begitu, kamu bisa mendekati mamanya, agar Kevin dan Vanya bertengkar. Lalu mereka akan saling membongkar kebusukan masing-masing!" kata Darren yang langsung di angguki oleh Angel.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2