Beautiful Revenge Istri Yang Di Lenyapkan

Beautiful Revenge Istri Yang Di Lenyapkan
Bab 23


__ADS_3

Sementara dari segala kekacauan yang terjadi pada kehidupan Kevin dan Vanya. Angel tampak sedang merias dirinya di depan cermin.


Kalau dia lihat-lihat sendiri, wajahnya memang benar-benar sangat cantik. Angel saja yang melihat wajahnya sendiri itu sangat kagum melihatnya.


Angel memegang pipinya itu, dan berkata dalam hati.


'Apa mungkin kalau sejak dulu wajahku seperti ini, aku malah tidak akan pernah tersakiti oleh mas Kevin?' tanya Angel dalam hati.


Tapi setelah di pikirkan lagi, rasanya sangat tidak mungkin. Kalaupun wajahnya cantik, tetap saja pria jahat seperti Kevin itu tidak akan pernah puas dengan dirinya. Kalaupun tidak dengan Vanya, mungkin suatu saat Kevin tetap akan selingkuh dengan wanita yang mungkin nanti lebih cantik dari Angel.


Pria yang tidak setia, seumur hidupnya dia akan tetap menjadi pria yang seperti itu. Tidak akan pernah berubah, kalaupun dia berhenti selingkuh mungkin karena memang tidak ada kesempatan. Tapi begitu ada kesempatan, dia tidak pernah menyia-nyiakan hal itu.


Ceklek


Pintu kamar Angel terbuka. Dan ketika Angel menoleh ke arah pintu. Terlihat Darren sedang berjalan ke arahnya.


"Tuan William Mukhtar sudah mengetahui soal dokter Herman yang ada di kantor polisi. Kita harus ke sana, aku akan buat dia bersin-bersin, dan kamu bisa ajak dia ke tempat Frans!" kata Darren yang setelah mengatakan hal itu langsung berbalik hendak meninggalkan Angel.


Tapi Angel langsung bangun dan menahan tangan Darren.


"Kak, aku tidak tahu bagaimana caranya berterima kasih padamu. Kamu tidak hanya menyelamatkan aku, tapi juga papaku!" kata Angel dengan mata berbinar ketika melihat Darren.


Darren memandang ke arah Angel, lalu ke arah tangannya.


Angel yang baru sadar kalau dia menyentuh Darren, langsung menarik kembali tangannya.


"Maaf kak!" kata Angel.


"Tidak apa-apa, ayo pergi!" kata Darren.


Dan sekali lagi, Angel tidak mendapatkan jawaban kenapa Darren. begitu baik dan membantunya. Pertama membantu menyelamatkan Angel, memenrinya wajah dan tubuh baru setelah kecelakaan akibat kekejaman suaminya sendiri. Lalu membantu pembalasan dendam Angel pada Kevin dan Vanya. Bukan itu saja, Darren begitu perduli pada papa Angel bahkan merencanakan hal sejauh ini untuk menyelamatkan papa Angel.

__ADS_1


Namun berapa kali pun Angel bertanya kenapa Darren membantunya, Angel tidak pernah mendapatkan jawaban yang pasti dari Darren.


Angel dan Darren pun berangkat ke kantor polisi. Sepanjang perjalanan, seperti biasanya kalau Darren tidak lebih dahulu bicara, maka Angel sama sekali tidak berani bicara.


Angel memang seperti itu orangnya, sangat pendiam. Hanya akan bicara kalau ada yang mengajaknya bicara terlebih dahulu.


Bahkan sampai di kantin polisi, Angel masih diam. Darren turun dari mobil setelah menepikan mobilnya di tempat parkir yang tersedia.


Tak lama dia membukakan pintu mobil untuk Angel.


"Terimakasih kak!" ucap Angel.


"Kamu masuk duluan, aku akan cari anak buahku!" kata Darren.


Angel pun mengangguk setuju. Angel masuk ke dalam kantor polisi. Di ruang tunggu, dia langsung di hampiri oleh pengacaranya.


"Selamat pagi nona, aku Ikbal pengacara anda nona Angelica Nickolay!" ucap pengacara Ikbal mengulurkan tangannya.


"Selamat pagi!" balas Angel.


Angel pun mengangguk paham, dia duduk di samping Ikbal. Jarak keduanya masih cukup jauh, sekitar satu meter. Tak lama mereka di panggil untuk mencocokkan berita acara pemeriksaan. Setalah itu, satu jam kemudian, Angel dan Ikbal keluar.


Di saat itulah, Angel melihat tuan William Mukhtar bersin-bersin.


Angel langsung menghampiri William Mukhtar.


"Paman, Paman kenapa?" Tanya Angel yang terlihat khawatir. Tentu saja khawatir, hidung tuan William Mukhtar sampai merah karena bersin-bersin terus.


Angel pun melihat salah satu anak buah Darren keluar dari ruangan yang sama dengan William Mukhtar menggunakan seragam OB. Tahu kalau itu adalah rencana Darren, Angel langsung ngajak William Mukhtar ke dokter Frans.


"Ke rumah sakit dekat sini saja...!"

__ADS_1


"Paman, aku tahu rumah sakit yang bagus. Kemarin aku berobat di sana, setelah dokter Herman salah diagnosis!" kata Angel.


Tuan William Mukhtar pun akhirnya setuju dan pergi bersama dengan Angel. Karena urusan mereka juga sudah selesai di tempat ini. William Mukhtar menjenguk dokter Herman yang terlihat kesal. Dan Angel sudah memberikan keterangan pada penyelidik.


Sementara itu Vanya dan Kevin yang sejak tadi sudah berada di kantor polisi. Sedang sibuk bersembunyi, tentu saja mereka tidak mau terlihat oleh William Mukhtar dan Angel. Untuk apa mereka di sana? itu pasti akan menjadi pertanyaan bagi William Mukhtar dan Angel.


Mereka sedang bersembunyi di belakang pohon pinus yang tingginya masih dua meteran.


"Mas, kenapa bersembunyi di sini sih. Banyak semut pohon ini!" keluh Vanya yang di gigiti semut merah lengan dan lehernya.


"Jangan banyak bicara, mau sembunyi dimana kita. Untung saja tadi ada orang lewat, kalau tidak, saat masuk tadi aku sudah kepergok papa mertuaku itu!" balas Kevin.


"Kan bisa di sana mas, di belakang mobil!" kata Vanya sambil membuang, menyingkirkan semut-semut yang berada di lengannya.


"Kita harus berjongkok seperti pencuri, yang benar saja Vanya!" protes Kevin.


"Lagi pula kenapa perempuan genit itu sampai membawa kasus ini ke jalur hukum sih? merepotkan saja!" kata Vanya yang kembali mengeluh lagi.


"Yang bodoh itu dokter mu itu, kenapa dia menyuruh, memerintahkan perawat yang baru kerja beberapa bulan untuk diagnosa. Kalau salah diagnosis pada pasien umum atau menengah ke bawah, paling berakhir damai. Ini kita berhadapan dengan keluarga Nickolay. Mana mau Darren nama baik adiknya rusak, menjadi buruk, katanya terkena virus, yang benar saja!" gerutu Kevin yang kesal pada Vanya.


Masalahnya setidaknya dia akan mengeluarkan tidak kurang dari setengah milyar untuk membungkam dokter Herman. Itu bukan jumlah sedikit. Karena itu dia sangat kesal.


"Mana aku tahu, lagian kenapa kamu bawa wanita genit itu kesana. Kamu perhatian sekali padanya, jangan-jangan kamu menyukainya ya mas?" tanya Vanya.


"Semakin ngaco kamu ya, kita bicara soal dokter Herman, jangan mengalihkan pembicaraan, mau membenarkan kesalahan kamu?" tanya Kevin menatap Vanya tidak senang.


"Kok kamu ngomong gitu sih mas? memangnya kamu pikir aku sampai membujuk, merayu dokter Herman untuk apa? untuk kepentingan siapa? kamu ini ngeselin ya mas! Ingat mas, semua rencana mu untuk mendapatkan Eva dan hartanya, tidak akan pernah berhasil kalau tidak karena bantuan ku!" kata Vanya kembali mengingatkan Kevin tentang perannya dalam kesuksesan Kevin.


Kevin pun garuk-garuk kepala karena merasa sangat pusing.


"Hah, sudahlah. Tidak habisnya bicara seperti ini padamu. Bisanya menggertak saja!" keluh Kevin yang keluar dari persembunyiannya karena mobil William Mukhtar sudah pergi dari pintu gerbang kantor polisi tempat mereka berada.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2