
Darren berbalik ketika melihat pakaian Angel yang terbuka itu.
"Aku akan tunggu di luar, ada yang ingin aku katakan!" kata Darren.
"Baik!" jawab Angel cepat.
Darren keluar dari ruangan itu dan melihat ke arah lantai satu dari atas balkon. Dia melihat Kevin yang duduk diam dengan tatapan nanar ke arah lantai.
'Terasa familiar bukan? tentu saja, itu adalah tubuh istrimu. Istri yang kamu lenyapkan dengan sangat sadis!' batin Darren menatap Kevin dengan penuh kebencian.
Angel sudah keluar dari ruangan itu, dan sudah berganti pakaian. Dia menghampiri Darren yang sedang berdiri di pagar pembatas balkon.
"Ada apa kak?" tanya Angel yang berdiri di sebelah Darren.
"Obat itu, obat untuk papamu itu sudah di ganti dengan obat yang akan melumpuhkan syarafnya secara perlahan!"
"Apa?" Angel terlihat sangat terkejut. Matanya merah dan berkaca-kaca.
"Mereka kejam sekali, tolong papaku kak. Aku mohon tolong papaku!" kata Angel yang begitu khawatir pada papanya.
"Hanya kamu yang bisa menolong papa kamu, kamu harus berobat ke dokter keluargamu itu dan kamu harus buktikan kalau dia salah diagnosis. Dengan demikian, dia tidak akan menjadi dokter tuan William lagi. Kamu bisa rekomendasikan Frans. Sepertinya dia masih bisa mengobati papamu, asal rutin minum obat dan terapi untuk mengeluarkan racun akibat obat yang di berikan dokter Herman!" kata Darren.
Angel pun mengangguk paham. Dia lantas melihat ke arah Kevin. Matanya penuh kebencian menatap pria yang pernah menjadi pria yang paling dia cintai itu.
'Kamu keterlaluan mas, kamu sudah melenyapkan aku. Sekarang mau melenyapkan papaku. Kamu manusia berhati ibliss mas!' geram Angel di dalam hatinya.
Angel pun mulai dengan rencananya untuk menyelamatkan papanya terlebih dulu. Sekaligus menarik simpati dari Kevin.
Angel menghampiri Kevin, tapi saat akan duduk di sebelah Kevin. Angel memegang kepalanya dan terlihat terhuyung-huyung.
Kevin yang melihat hal itu tentu saja langsung berdiri dan bertindak seperti pahlawan kesiangan untuk menolong Angel.
"Angel, kamu kenapa?" tanya Kevin.
"Tidak tahu, setelah turun dari tangga tadi. Kepalaku terasa pusing. Tidak apa-apa, mungkin hanya lelah saja. Aku akan baik-baik saja...!"
Grep
Angel sengaja menjatuhkan dirinya ke pelukan Kevin.
__ADS_1
Kevin yang memang sejak tadi merasa dirinya merasakan perasaan berbeda. Semakin panas dingin saja di peluk begitu oleh wanita yang sepertinya sudah berhasil membuatnya menyukainya.
Angel pura-pura memegang kepalanya dan menjauh dari Kevin.
"Ah, maafkan aku. Aku tidak sengaja. Kepalaku sakit sekali! aku akan menghubungi kak Darren!" kata Angel berusaha mengambil ponsel dari dalam tasnya.
Melihat Angel sepertinya kesulitan, Kevin pun menawarkan bantuan. Lagipula ini adalah kesempatan baginya untuk membuat Angel dan kakaknya kagum pada Kevin.
"Angel, sepertinya sakit kamu ini serius. Aku antar ke rumah sakit ya...!"
"Membuat janji dengan dokter pasti lama, kepalaku sangat sakit Kevin!" kata Angel.
"Aku akan mengajakmu ke dokter keluarga Mukhtar saja, kita tidak perlu membuat janji. Pasti akan di dahulukan. Ayo!" ajak Kevin.
Sambil memapah Angel, Kevin terlihat senang. Dia pikir dia akan membuat Angel semakin kagum padanya.
Dari lantai dua, Darren melihat Angel di bawa oleh Kevin. Dia menghubungi anak buahnya yang bekerja di rumah sakit tempat dokter Herman bekerja. Mereka memang sudah menyelidiki dan menyusupkan salah satu Nak buah Darren ke rumah sakit itu untuk menjadi perawat yang bekerja langsung dengan dokter Herman.
Di perjalanan, ponsel Kevin terus berdering. Tapi melihat Vanya yang menghubungi nya Kevin tidak menerima panggilan video itu. Sebab Kevin tahu, Vanya akan mengamuk nanti kalau tahu Kevin sedang bersama dengan Angel.
Angel juga tidak mau mempermasalahkan hal itu, bukankah akting sakit kepalanya harus lebih dia utamakan.
Dokter Herman pun mendahulukan untuk memeriksa Angel.
"Siapa nona ini?" tanya dokter Herman yang baru pertama kali melihat Angel.
"Dia...!"
"Kevin, aku tolong hubungi kak Darren. Ini semakin sakit!" kata Angel yang memegangi kepalanya.
"Dokter cepat periksa dia, cepatlah dokter!" kata Kevin panik.
Kevin lalu meraih ponselnya dan menghubungi nomer Darren yang di berikan oleh Angel.
Tapi karena itu nomer baru, Darren tak kunjung mengangkat panggilan telepon dari Kevin.
Sampai pada akhirnya Kevin harus mengambil ponsel di tas Angel. Dan mencari nomer Darren.
Barulah setelah Kevin menggunakan ponsel Angel. Darren menerima panggilan telepon itu.
__ADS_1
"Iya Angel, ada apa?"
"Halo Darren, ini Kevin. Angel kesakitan... maksud ku Angel sakit kepala. Dia berada di rumah sakit. Aku akan kirimkan alamatnya padamu. Tolong cepat datang!" kata Kevin.
"Baiklah, kirim lokasinya sekarang!" kata Darren terdengar panik.
Kevin lantas memutuskan panggilan telepon itu dan langsung mengirimkan lokasi rumah sakit pada Darren.
Sementara itu dokter Herman merasa sangat bingung, karena dia tidak merasakan detak jantung dan denyut nadi Angel itu bermasalah.
"Bagaimana dok?" tanya Kevin setelah mengirimkan pesan pada Darren.
"Aku akan melakukan cek dan tes lainnya.cek darah, dan pemeriksaan menyeluruh. Aku akan membawanya ke instalasi Radiologi!" kata dokter Herman.
Kevin sudah panik, dia merasa kalau kemungkinan penyakit Angel serius. Ketika Angel di bawa ke ruangan lain, Kevin menunggu Angel di ruang tunggu di depan ruangan dokter Herman. Ketika Kevin duduk, dia baru sadar kalau ponselnya Angel masih ada bersamanya. Ponsel tanpa ada kunci layar utama.
Kevin berpikir orang seperti Angel ini terlalu percaya pada orang lain sampai tidak mengunci layar ponselnya. Dia pun penasaran dengan apa nama kontaknya di ponsel Angel. Iseng saja sebenarnya, tapi ketika Kevin menghubungi nomer Angel, tertera di layar ponsel itu panggilan dari 'pria baik' . Melihat nama kontaknya di ponsel Angel, Kevin tersenyum tipis. Sangat tipis sampai tak terlihat.
Hatinya begitu senang melihat nama kontak yang ada di ponsel Angel.
'Wanita ini, kenapa begitu familiar perasaan yang aku rasakan!' batin Kevin.
Tentu saja, nama kontak itu sengaja di buat Angel begitu. Kalau sebenarnya, bukan untuk menarik perhatian Kevin. Mungkin Angel lebih suka memberi nama kontak Kevin itu 'Manusia berhati Ibliss'.
Setelah pemeriksaan menyeluruh. Desi, perawat yang merupakan anak buah Darren minta pada Angel itu semakin kesakitan.
"Akan aku ganti suntikannya dengan vitamin. Jangan khawatir!" bisik Desi pada Angel.
Angel pun mengangguk paham. Dia lagi pura-pura sangat kesakitan. Dokter Herman pun panik. Dia lalu menemui Desi.
"Bagaimana ini? bagaimana hasilnya?" tanya Herman.
"Dok, ini gejala virus yang berbahaya. Apalagi pasien katanya baru dari luar negeri. Sebaiknya kita beri anti virus, dan mengkarantina pasien!" kata Desi.
Dokter Herman terkejut, dia sudah banyak kontak fisik dengan pasien.
"Lakukan saja, aku akan sanitasi dulu!" kata Herman yang panik karena takut tertular hingga dia menyerahkan semuanya pada Desi, asistennya.
***
__ADS_1
Bersambung...