Become A Protagonist 2

Become A Protagonist 2
Chapter.16 - Hui Song II


__ADS_3

”Karena tak ingin melihatku terus menderita, kak Ruo memiliki keinginan yang besar untuk tetap hidup dan melindungiku?” tanya Xiao Qing Xuan yang sangat terkejut setelah Hui Song mengatakan semuanya.


Hui Song tersenyum lebar dan menjawab, ”Benar sekali, Yang Mulia! Aku juga tidak menyangka kalau orang yang ingin dilindungi olehnya adalah Yang Mulia. Wah,... Dia benar-benar kakak penyayang.”


Wajah Xiao Ruo seketika memerah saat ia sedang bersandar di atas dahan pohon yang ada di seberang mereka. Ia tidak memiliki alasan untuk mengelaknya. Lagipula, Xiao Qing Xuan yang memaksanya untuk menjelaskan mengapa ia bisa hidup kembali.


”Hei! Mengapa kau memiliki keinginan hidup yang kuat? Jika tujuannya adalah untuk melindungi Adikmu, aku rasa itu percuma karena saat ini, Adikmu adalah inkarnasi Iblis Hitam.” tanya Mo Yunyang yang duduk di depan Xiao Ruo.


Xiao Ruo melirik ke arah Xiao Qing Xuan. Untuk sesaat, ia memperhatikannya begitu dekat dengan Hui Song meskipun sebelumnya, mereka berdua sempat bertarung. Tak lama, ia kembali menatap ke arah Mo Yunyang dan menjawab, ”Entahlah. Sejak dulu, aku memang seperti ini dan tidak pernah berubah.”


Mo Yunyang terdiam selama beberapa saat dan kembali bertanya, ”Bagaimana dengan kehidupanmu sendiri?” ucapnya yang membuat Xiao Ruo langsung menatapnya. ”... Kau terlalu banyak mengurusi kehidupan orang lain sampai-sampai kau tidak sadar kalau kehidupanmu juga sedang berantakan. Mungkin, semua orang memiliki sifat naif yang tidak bisa ditolak. Tapi, menurutku sifat naif yang kau miliki, lebih mirip seperti dimanfaatkan oleh orang itu daripada sukarela melindunginya.”


Xiao Ruo tertegun dan menyembunyikan ekspresinya saat ini. Bola matanya melirik ke arah Xiao Qing Xuan yang berada di bawah pohon. Sejenak, ia mencoba untuk mengingat kembali masa lalunya sebelum ia dihidupkan kembali.


Ibu kandungnya, Yin Hua bercerai dengan Xiao Lian Lei, kepala keluarga Xiao saat ini. Keduanya bercerai karena berselisih pendapat mengenai tindakan Xiao Qing Xuan yang mempermalukan nama keluarganya karena dengan sembarangan ia keluar dari Sekte Pedang Beracun. Selama bertahun-tahun, Xiao Qing Xuan tidak pernah kembali ke Huanxu. Yin Hua selalu melarang Xiao Ruo untuk menyusul Xiao Qing Xuan di Mubei. Karena tak diizinkan, Xiao Ruo menyelinap keluar tanpa mengatakan apapun pada Ibunya.


Setelah itu, masalah terus datang menghampirinya. Hingga, dengan bodohnya ia melindungi Xiao Qing Xuan dengan tubuhnya sendiri dan menyebabkan kematian pertamanya.

__ADS_1


Setelah mengingatnya, Xiao Ruo mendadak sakit kepala. Ia terus terdiam sambil merasakan kepalanya yang mati rasa.


”Kak Ruo! Kak Ruo!”


Tiba-tiba suara seruan ini datang dari kedua telinganya. Ia pun membuka matanya kembali dan melihat di bawah sana, Xiao Qing Xuan tengah memanggilnya berulang kali.


”Kak Ruo? Apakah kau sakit?” tanya Xiao Qing Xuan yang menatapnya dengan heran.


Xiao Ruo tersenyum tipis padanya dan menjawab, ”Aku baik-baik saja.”


Xiao Qing Xuan tertegun dan bertanya kembali, ”Benarkah? Tapi, sepertinya kau tidak tampak baik-baik saja. Ah! Apakah kak Ruo membutuhkan sesuatu? Kalau ada, akan aku carikan.”


”Adik Xuan tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku baik-baik saja ” ucapnya sambil menarik Xiao Qing Xuan pergi dari tempat tersebut tanpa meninggalkan sepatah kata apapun untuk Hui Song yang telah berdiri menunggu mereka.


”Haah,... Lagi-lagi diabaikan seperti ini.” keluh Hui Song setelah ia melihat Xiao Ruo pergi meninggalkannya. ”... Hei! Yunyang! Carikan aku sesuatu untuk dimakan saat ini. Sepertinya waktu makan malam ku terganggu.”


”Tidak mau!” celetuk Mo Yunyang.

__ADS_1


”Heh? Mengapa mengatakan hal kejam seperti itu padaku?” tanya Hui Song yang merasa sangat terkejut setelah mendengarnya.


”Cari saja makananmu sendiri! Kau bukan anak bayi lagi!” ketus Mo Yunyang yang langsung pergi meninggalkan tempat tersebut.


”Yang'er! Kau tahu aku tidak bisa mencari makan sendiri 'kan?” ucap Hui Song sambil mengejar Mo Yunyang di belakangnya.


Sementara ini, kejadian yang terjadi di Mubei saat He Nan Ming memerintahkan kepada seluruh pasukannya untuk mencari Xiao Qing Xuan, muncul seorang pemuda yang mengaku bahwa ia melihat Xiao Qing Xuan dan Liu Zhang Chen menjatuhkan diri dari atas kawah gunung.


”Semua orang tahu bahwa yang paling menyayangi Tuan muda Xiao hanyalah pamannya saja. Sementara Ayahnya hanyalah seorang pengecut berhati mulia. Pantas saja Tuan besar He memerintahkan pada para pasukannya untuk segera mencarinya.” ucap pemuda berjubah hitam di depan singgasananya He Nan Ming. ”... Bolehkah aku mengatakan kenyataan yang terjadi? Saat itu, Tuan muda Xiao menjatuhkan diri dari atas kawah gunung berapi. Lalu, Guru besarnya yang tak bisa menyelamatkannya juga ikut terjatuh bersama. Pastinya Tuan besar begitu penasaran dan bertanya-tanya apakah keduanya masih hidup atau tidak? Jawabannya adalah, Ya. Keduanya masih hidup hingga saat ini.”


”Lalu? Dimana mereka saat ini?” tanya He Nan Ming pada pemuda tersebut.


”Saat ini, Tuan muda Xiao dan Gurunya telah berpisah. Namun, tampaknya Tuan muda Xiao tidak benar-benar sendiri. Ia sedang bersama dengan seseorang yang dihidupkan kembali. Dia adalah Xiao Ruo.” jawab pemuda.


He Nan Ming tampak sangat terkejut. Ia pun melemparkan gelas keramik yang baru saja digunakan olehnya hingga hancur berantakan. ”Tidak mungkin dia dihidupkan kembali! Sudah jelas kalau saat itu dia benar-benar mati!” teriak He Nan Ming yang terlihat sangat marah.


Pemuda itu tersenyum seringai dan menjelaskan, ”Saya tahu siapa yang membangkitkannya lagi. Dia adalah salah satu dari tiga Dewa penipu bernama, Hui Song, satu-satunya yang bisa membangkitkan orang yang telah mati dengan sangat sempurna. Selain itu, ada satu lagi dewa penipu yang sedang bersamanya. Dia adalah Dewa ikan mas, Jinyu Xiaojie.”

__ADS_1


”Kau sepertinya telah bertemu dengannya. Tapi, mengapa kau tidak membawanya kemari?” tanya He Nan Ming dengan dingin.


Pemuda itu mengeluarkan satu jarinya. Lalu, muncul sebuah bunga persik yang tumbuh di ujung jarinya. ”... Ada banyak pohon persik yang tumbuh di daratan ini. Kebetulan sekali, bunganya sedang bermekaran. Aku bisa melihat Tuan muda Xiao melewati pohon persik yang dilewatinya. Sebenarnya, aku juga salah satu dari tiga dewa penipu. Akulah yang berada di urutan pertama.” ucapnya sambil membuka tudung kepalanya. ”... Namaku, adalah Jiu Meishan.”


__ADS_2